Fakta-fakta menyakitkan pekerja seks komersial yang perlu anda ketahui

0
414
PSK,Pekerja Seks Komersial

PSK,Pekerja Seks Komersial

Profesi pekerja seks komersial (PSK) memang selama ini kita anggap sebagai profesi yang hina. Karena di pekerjaan ini mengharuskan wanita menjual tubuh mereka untuk dijajal oleh beragam pria yang berasal dari beragam jenis.

Profesi ini bukan hanya sering dianggap sebagai biang penyakit moralitas, tetapi juga sarangnya beragam penyakit menular seksual.

Namun ternyata, dibalik cibiran masyarakat, profesi PSK juga sebenarnya dicibir oleh hati nurani PSK itu sendiri, dari hati nurani kecil mereka tentu menolak dan memberontak tiap kali tubuh mereka ditiduri demi kenikmatan lelaki yang bersedia membayar jasa mereka. PSK terpaksa melakukan profesi terlarang mereka demi menyambung nyawa.

Ada sebuah peneilitan yang menyimpulkan kalau ternyata sebagian besar dan nyaris seluruh PSK tersiksa dengan profesi yang mereka jalani. Penelitian itu menggunakan metode wawancara kuesoner dan disebar ke 150 PSK di Pelabuhan Soekarno-Hatta, Makassar, Sulsel dengan pengambilan sampel bersifat accidental. Dari seluruh PSK peserta wawancara kuesioner itu, inilah pengakuan mereka:

1. PSK ingin hubungan intim dengan kliennya cepat berakhir.

PSK ingin hubungan intim yang dilakukannya dengan klien cepat berakhir, atau bahkan mereka sangat menginginkan tak perlu adanya hubungan seksual diantara ia dan kliennya. Sebab, tiap kali melakukan itu, mereka mengaku malu dengan keadaan yang mereka jalani.

2. Mereka memiliki nama samaran yang kerap berganti serta no HP yang sulit dihubungi

Untuk menutupi identitasnya, para PSK acap kali berganti-ganti nama, bahkan mereka bisa memiliki nama yang berbeda hingga 4 kali dalam satu malam.

Selain itu, mereka memiliki nomer HP yang diberikan untuk klien mereka (mungkin maksudnya untuk langganan) namun no HP itu jarang diaktifkan karena takut ketahuan keluarga atau orang terdekat

3. Ingin dapat suami dari kalangan baik-baik dan ingin segera bertobat

Lazimnya wanita pada umumnya, PSK juga memiliki impian membangun keluarga yang dinahkodahi oleh lelaki baik-baik dan memiliki keluarga yang sakinah mawardah, dan warahmah.

Selain itu, mereka juga sebenarnya siap kapan saja untuk bertobat dan keluar dari lokalisasi, asalkan kehidupannya sudah terjamin. Mereka juga mengaku tiap kali pulang kerumah atau kossan selalu bertekad untuk tobat dari dunia pelacuran, namun realitas hidup harus memaksa mereka menempuh jalan pintas.

4. PSK tak menikmati hubungan seksual, malah kadang menyakitkan.

Karena yang menggunakan tubuh mereka dalam semalam bisa 2-4 orang, maka PSK mengaku melakukan hubungan intim dengan klien hanya sebatas tuntutan profesi saja, tak ada kenikmatan disana, sebab klien datang dengan berbagai tipe yang kebanyakan ingin melampiaskan dan cepat selesai, jarang yang memang memadu hubungan intim dengan dinamika seperti forplay-main course-orgasme-after play, kebanyakan dari mereka “main tancap” saja. Meskipun menyakitkan, PSK sudah siap dengan situasi itu.

Selain itu, PSK juga mengaku kalau mereka kerap H2C (Harap-Harap Cemas) apakah sang klien puas dengan servis mereka atau apakah klien tersinggung dengan mereka yang mengakibatkan klien tsb tak menjadi langganan tetap atau membayar lebih jasa mereka.

5. Sering terenyuh saat teringat keluarga

Saat menjalani profesinya itu, mereka kerap ingat dengan wajah ibunya, adik/kakaknya, serta ayahnya yang tentu saja kecewa berat apabila tau profesinya adalah sebagai pelacur.

Mereka terkadang tak mampu menahan air mata ketika rasa kangen dan rasa bersalah itu semakin memuncak.

Advertisements

Comments

comments