Wisata Unik, Berburu Barang Antik di Pasar Triwindu Solo

0
112
wisata unik, barang antik, pasar triwindu

Kota Solo merupakan bagian dari “ Vorstenlanden “ (tanah para raja) yang pada masa kolonialisme merupakan daerah yang di beri hak istimewa oleh pemerintah Belanda.

Keberadaan kerajaan Mataram Solo dan Yogyakarta merupakan titik tumpu bagi pemerintah Belanda untuk melaksanakan sistem feodalisme di tanah Jawa.

Dari sejarah tersebut dahulu muncul sebuah klasifikasi lapisan masyarakat yang didasarkan pada status sosial pribumi. Status sosial ini terbentuk dari lapisan paling atas adalah kaum bangsawan Eropa yang bekerja menjadi pejabat pemerintah Hindia Belanda, kemudian di bawahnya adalah para pejabat pelaksana pemerintah yang terdiri dari para pribumi yang pro dengan pemerintah Belanda.

Status sosial ini terlepas sama sekali dari sistem pemerintahan Kerajaan Mataram, tetapi meski begitu pekerjaan para pejabat itu sangat berkaitan dengan kerajaan dan bersentuhan langsung dengan masyarakat biasa atau para buruh dan petani.

Diberlakukannya sistem feodalisme ini menyebabkan kemiskinan dan ketimpangan ekonomi, dimana rakyat hanya bekerja sebagai petani dengan upah rendah dan tagihan pajak kepada kerajaan yang dikendalikan oleh pemerintah belanda.

Dari keadaan ini, maka muncullah kesenjangan sosial dan ekonomi  diantara kelas pribumi dengan bangsawan Eropa dan juga antara pribumi dengan pejabat pemerintahan dibawah kerajaan Mataram. Pejabat pemerintahan itu diantaranya adalah lurah, carik, demang, bupati, yang sekarang secara struktural masih diadopsi dalam pemerintahan modern kita.

Keadaan ini sekarang masih menyisakan cerita-cerita unik, klasik, bahkan cerita mistis yang dapat kita temukan di Pasar Triwindu Solo.  Pasar yang terletak di sebelah selatan Puro Mangkunegaran ini sudah sejak berdirinya memang menjadi tempat jual beli barang antik.

Barang antik disini adalah barang- barang kuno yang mempunyai nilai ekonomis tinggi dan juga nilai historis dari masa lalu dimana barang tersebut pernah menjadi saksi sejarah perjalanan hidup seseorang.

Di Pasar Triwindu Solo kita dapat menemukan bermacam macam barang antik dari mulai furniture, alat rumah tangga, keramik, guci, lampu hias, topeng, patung, lemari kuno, telepon kuno, piringan hitam, hingga benda-benda pusaka mulai dari jimat, batu akik, keris dan patrem.

Pasar Triwindu ini menjadi surga dan lahan bisnis bagi para kolektor barang antik di daerah Solo dan sekitarnya. Karena disini transaksi jual beli barang antik terbilang tinggi menginggat semakin banyak orang yang tidak mau lagi menyimpan barang kuno dan lebih cenderung menjualnya untuk mendapatkan uang.

Bagi anda yang ingin berburu barang antik di pasar Triwindu, anda harus jeli dalam memilih dan melihat keaslian barang yang akan anda beli.

Karena meskipun terkenal menjual  barang antik, dipasar ini ternyata tidak semua barang adalah antik. Ada saja pedangan nakal yang menjual barang replika yang dibelinya dari pengrajin kemudian dipasarkan sebagai barang antik dengan harga yang tinggi.

Seperti contohnya keris dari Kraton Solo yang menjadi incaran para kolektor barang antik, keris asli dari Kraton Solo memang ada dan dijual dipasar Triwindu, tetapi itu hanya ada beberapa buah saja yang tentu saja dibandrol dengan harga sangat tinggi. Keris asli dari Kraton Solo ini rupanya di jual oleh beberapa abdi dalem yang dulunya merupakan hadiah dari raja.

Barang-barang antik ini sekarang masih menjadi simbol status sosial masyarakat kita, karena sampai sekarang hanya orang-orang dengan kemampuan ekonomi yang kuat yang mampu dan berminat mengkoleksi barang antik.

Advertisements

Comments

comments