Edi Rosadi, Bersahabat dengan Jalanan di Kala Senja

1
167
Edi Rosadi pengatur lalu lintas sukarela di Kota Serang/Pernita Hestin

Kabarnesia.com – Ditengah teriknya matahari dan panasnya Kota Serang, sering terlihat pemandangan yang cukup menarik mata. Senyum tulus terulas dari bibirnya menyapa para pengguna jalan dengan wajah selalu tampak gembira. Penampilannya yang khas membuat banyak mata tertuju padanya.

Topi baret, sepatu dinas militer, berbagai atribut khas pejuang veteran dan sebuah lampu pengatur lalu lintas dikenakan olehnya. Kakek tersebut masih terlihat gagah dan energik. Dia adalah Edi Rosadi.

Kakek berusia 67 tahun warga Kaloran Madrasah, Kelurahan Lontar Baru, Kecamatan Serang, Kota Serang ini nyaris setiap hari berada di jalanan. Bukan untuk duduk santai menghabiskan waktu, namun sang kakek secara sukarela mengatur jalan di sejumlah titik rawan macet di Kota Serang. Usia yang tak lagi muda bukan penghalang untuk melakukan pekerjaan yang sudah rutin dilakukannya hampir 12 tahun terakhir.

Menurutnya, dahulu pakaian yang kenakan untuk mengatur lalu intas hanyalah pakaian biasa. Hanya saja setelah dilantik menjadi anggota Satuan Tugas (Satgas) Cakra Buana tahun 2013 lalu, setiap turun ke jalan Edi selalu memakai baju satgas itu.  Naun rupanya ia tak menyadari bahwa dengan pakaian tersebut sudah melekat menjadi sebuah ciri khas yang unik sehingga dirinya mudah diingat oleh para pengguna jalan.

“Ini untuk menunjukkan identitas saja, tidak bermaksud yang lain, karena saya bangga jadi anggota satgas,” tuturnya.

Setiap hari Edi mengayuh sepeda dan berangkat dari kediamannya menuju tempat ‘mangkal’ rutin setiap jam sembilan pagi. Sepeda yang digunakan tak kalah nyentrik dengan pakaiannya, penuh dengan berbagai riasan.

Istimewanya, sepeda yang dipakainya untuk bekerja merupakan hadian dari Presiden RI, Joko Widodo. Kakek beranak tiga ini sangat senang karena sepeda yang ia gunakan merupakan pemberian orang nomor satu di negeri ini. “Sepeda ini hadiah dari Presiden Jokowi,” ungkapnya sambil tersenyum.

Edi mengungkapkan dirinya tidak memiliki pekerjaan tetap. Pria berbadan kurus ini terlihat masih sehat, dia mengaku sangat bersyukur masih diberi kesehatan sehingga masih bisa membantu orang lain untuk mengatur jalan. “Alhamdulillah, tak pernah mengeluh lelah dan menyerah pada keaadaan saat ini,” ujarnya.

Di lain kesempatan, tak sedikit yng meinta bantuan untuk mengatur lalu lintas dan parkir kendaraan saar ada acara pernikahan atau kegiatan serupa lainnya. Untuk hal ini, pria kelahiran 3 Februari 1950 tersebut tidak pernah meminta bayaran. Hanya saja biasanya ia diberi uang atas jasanya tersebut antara 50-150 ribu rupiah.

“Penghasilan itu sudah cukup untuk memenuhi kebutuhan. Apalagi niat saya sukarela karena ingin menolong sesama,” jelasnya.

Selain mengatur lalu lintas, setiap sore Edi rajin membersihkan Madrasah didekat rumahnya yaitu Madrasah Khairul Huda. Atas apa yang telah ia lakukan banyak orang yang tak jarang memberinya makanan. Kakek Edi bersyukur akan hal itu, karena masih banyak orang yang peduli dengan orang lain.

Dalam melakukan pekerjaan dia pun berprinsip tak pernah mengharapkan apapun dari orang lain. Semua yang dilakukan semata untuk membantu sesame selagi punya kesempatan. Menurutnya, berbuat baik dan bermanfaat untuk banyak orang sangat melegakan. “Saya lakukan ini semata hanya untuk mengisi hari tua dengan membantu sesame,” tandasnya.

Penulis : Pernita Hestin/Kontributor

Advertisements

Comments

comments

1 COMMENT

Comments are closed.