Mengenal Kembali Sosok Pemimpin di Pilkada Jatim, Siapa Menang?

1
47
sosok calon pemimpin di pilkada jatim 2018
Pilkada Jawa Timur 2018 (Ilustrasi: Net)

Kabarnesia.com – Pemilihan Umum Gubernur Jawa Timur 2018 akan dilaksanakan pada 27 Juni 2018 untuk menentukan gubernur dan wakil gubernur Jawa Timur periode 2018–2023. Namun, hanya terdapat dua pasangan calon pada pilkada tahun ini yang membuat persaingan menjadi lebih sengit. Ditambah para kandidat merupakan putra-putri yang berada dalam satu naungan organisasi Nahdlatul Ulama (NU).

Mengenal Para Kandidat Pilkada Jawa Timur 2018

sosok gus ipul - puti soekarno
Penetapan Gus Ipul-Puti Soekarno sebagai Cagub-Cawagub di Pilkada Jatim 2018 (Foto: Liputan6)

Saifullah Yusuf – Puti Guntur Soekarno

Drs. H. Saifullah Yusuf atau akrab disapa Gus Ipul. Putra asli Jawa Timur yang lahir di Pasuruan pada tanggal 28 Agustus 1964 ini merupakan Wakil Gubernur Jawa Timur periode 2009-2014. Saat ini ia mencoba peruntungannya melaju sebagai Calon Gubernur Jawa Timur di Pilkada Serentak 2018.

Gus Ipul mengakhiri pendidikannya di Jakarta pada tahun 1985 di Fakultas Ilmu Sosial dan Politik (FISIP) Universitas Nasional. Di tahun 1999, Gus Ipul sempat menjadi anggota DPR dari PDIP, namun di tahun 2001 ia mengundurkan diri, dan bergabung dengan PKB.

Saifullah Yusuf memulai kariernya melalui organisasi GP Ansor. Selama dua periode, 2000-2005 dan 2005-2010, ia terpilih menjadi Ketua GP Ansor. Di selang kepemimpinannya di GP Ansor, pada tahun 2004-2007, Gus Ipul sempat menjabat sebagai Menteri Negara Percepatan Pembangunan Daerah Tertinggal . Selama menjabat, dia tercatat sebagai menteri yang paling sering melakukan ‘blusukan’ di daerah-daerah tertinggal.

Untuk memimpin Jawa Timur bisa dibilang Gus Ipul memiliki pengalaman yang mumpuni, hal itu dibukikan setelah ia selalu terpilih selama dua periode 2009-2014 dan 204-2019 sebagai Wakil Gubernur Jawa Timur mendampingi Gubernur Soekarwo.

Selain itu, di tahun 2012, Gus Ipul pernah meraih penghargaan Lencana Melati  yang diberikan langsung oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Dan di tahun 2014, Seksi Wartawan Olahraga (SIWO) Persatuan Wartawan Indonesia Provinsi Jawa Timur menobatkan Gus Ipul sebagai tokoh peduli olahraga, dengan diberi penghargaan berupa “Special Award”.

Sementara itu, pendamping Gus Ipul di Pilkada Serentak 2018, Puti Pramathana Puspa Seruni Paundrianagari Guntur Soekarno Putri merupakan cucu pertama Presiden RI yang lahir di Jakarta pada tahun 1971.

Puti yang merupakan anak dari Guntur Soekarno putra,  menempuh pendidikan di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik di Universitas Indonesia (UI). Dan untuk memantapkan perpolitikannya dia memilih terjun ke dalam partai PDIP. Dalam kariernya, Puti pernah menjadi juru bicara kampanye Pilpres 2009 tim Mega-Prabowo di wilayah Jawa Barat dan Bengkulu. Serta, ia juga pernah menjadi Anggota DPR periode 2009-2014 dan 2014-2019.

Untuk melaju di Pilkada tahun ini, pasangan ini diusung oleh PKB, PDIP, Gerindra, dan PKS dengan jumlah 58 kursi di DPRD Jawa Timur.

BACA JUGA:

sosok khofifah dan emil dardak
Pengusungan Khofifah-Emil dalam kontestasi Pilkada Jatim 2018 (Foto: Tempo)

Khofifah Indar Parawansa – Emil Dardak

Khofifah Indar Parawansa, yang sering disapa dengan Khofifah merupakan wanita kelahiran Surabaya, Jawa Timur pada tahun 1965. Sejak kecil hingga lulus kuliah S1, Khofifah menetap di Surabaya bersama keluarganya.

Semasa kuliah, Khofifah mengambil dua jurusan yang berlainan dan di perguruan tinggi yang berbeda. Dia sempat belajar di  jurusan Ilmu Politik di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Airlangga (Unair). Dan di Sekolah Tinggi Ilmu Dakwah dia mengambil jurusan Ilmu Komunikasi dan Agama. Lalu, pada Tahun 1993, Khofifah melanjutkan studi S2 di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Indonesia, Jakarta.

Khofifah mengawali karier politiknya saat dia berusia 27 tahun sebagai Anggota DPR RI dari PPP 1992-1997. Lalu, pada 1999, Khofifah diangkat menjadi Menteri Pemberdayaan Perempuan. Setelah berhenti menjadi menteri, Khofifah aktif dalam berbagai kegiatan kemasyarakatan, dan di Tahun 2013 Khofifah sempat mencalonkan diri dalam Pilgub Jatim,  namun tidak berhasil.

Di Tahun 2014,  Jokowi mengangkat Khofifah menjadi Menteri Sosial dalam Kabinet Kerja 2014-2019. Dan kini Khofifah mencoba kembali mencari peruntungannya pada Pilgub Jatim 2018.

Sementara itu, pasangan Khofifah, Emil Elestianto Dardak adalah seorang eksekutif muda yang lahir Jakarta pada tahun 1984. Meskipun lahir di Jakarta, Emil Dardak mampu memenangkan Pilkada Bupati Trenggalek, Jawa Timur periode 2016-2021.

Emil banyak mengenyam pendidikannya di luar negeri. Program S1-nya diraih dari Universitas New South Wales, Australia. Sementara program S2 dan S3 di Ritsumeikan Asia Pacific University, Jepang.

Setelah selesai menjalankan pendidikannya, Emil sempat bekerja di berbagai perusahaan ternama, mulai dari World Bank Officer, Media Analysis Consultant di Ogilvy, dan puncaknya saat didapuk sebagai Chief Business Development and Communication-Executive Vice President di PT Penjaminan Infrastruktur Indonesia (Persero).

Emil mengawali karier politiknya di tahun 2015. Ia mendaftarkan diri ke KPUD Kabupaten Trenggalek sebagai Calon Bupati, dan di temani Mochamad Nur Arifin yang bersiap menjadi Wakil Bupati. Mereka berdua mencoba mencari peruntungannya di Kabupaten Trenggalek pada Pilkada Serentak 2015.

Ternyata, Emil mampu memanen hasil baik. Pasangan Emil-Arifin memenangkan Pilkada di Kabupaten Trenggalek dengan hasil telak, dengan presentasi suara kemenangan sekitar 76,28%.

Kemenangan ini ternyata mendorong Emil untuk mendalami keinginan berpolitiknya dengan terjun menjadi kader PDIP. Namun di Pilkada 2018 ini, PDIP tidak tergabung menjadi partai pengusungnya. Sebab, PDIP memiliki kader yang juga sanak keluarga dari pemimpin PDIP Megawati. Pada akhirnya, pasangan ini diusung oleh Demokrat, Golkar, PPP, dan Nasdem dengan jumlah 33 kursi di DPRD Jawa Timur.

BACA JUGA:

Menakar Kemenangan Para Kandidat Pilkada Jawa Timur 2018

khofifah vs gus ipul
Cagub di Pilkada Jatim 2018, Khofifah (kiri) dan Gus Ipul (kanan) (Ilustrasi: Tempo)

Suparto Wijoyo, pengamat politik dari Universitas Airlangga (Unair) Surabaya, menguraikan, untuk daerah Jawa Timur terdapat dua partai besar penguasa, yakni PKB dan PDIP. Namun, tercatat dalam sejarah kedua parpol tersebut belum pernah berkoalisi pada pilkada Jawa Timur.  “Kalau dua parpol itu berkoalisi, pasangan calon yang mereka usung berpeluang besar untuk menang,” tegasnya, pada Maret tahun lalu.

Namun, pada Pilkada tahun ini, kedua partai penguasa tersebut ternyata berkoalisi mengusung Saifullah Yusuf-Puti Guntur Soekarno. Jika dilihat, penguasaan kursi di DPRD Jatim memang dikuasi oleh PKB dan PDIP.

Berikut rinciannya,  PKB memiliki 20 kursi, PDIP ada 19 kursi, Gerindra 13 kursi, Demokrat 13 kursi, Golkar 11 kursi, PAN 7 kursi, PKS punya 6 kursi, PPP punya 5 kursi, NasDem punya 4 kursi, Hanura 2 kursi, dari jumlah keseluruhan kursi ada 100 kursi.

Dari rincian jumlah kursi di atas, jika kekuatan partai pengusung dan tim sukses cukup solid, maka tidak mustahil kemenangan telak bisa diraih pasangan Gus Ipul-Puti. Namun, masih ada kemungkinan Khofifah-Emil menang, jika jumlah kursi dari dua partai tersisa, PAN dan Hanura yang memiliki total 9 kursi beralih sebagai pendukung, meskipun tidak masuk sebagai partai pengusung.

Bagaimanapun juga, demokrasi tidak melihat seberapa banyak partai pengusung, namun pilihan tetap ada di tangan rakyat.

Baca juga artikel menarik lainnya terkait Kabar Pilkada atau informasi terkini lain di Kabarnesia.

Advertisements

Comments

comments

1 COMMENT

Comments are closed.