Bencana Alam 2018 Mulai Jamah Jepang dan Filipina dengan Letusan Gunungnya

1
32
letusan gunung mayon
Gunung Mayon menyemburkan lava hingga 700 meter (Foto: VOA Indonesia)

Kabarnesia.com – Pada hari yang sama, di tempat yang berbeda, dengan jarak waktu yang berbeda pula, dunia digemparkan dengan berbagai macam bencana alam. Dua diantaranya adalah meletusnya gunung berapi yang ada di Jepang dan Filipina.

Meskipun ada perbedaan waktu, tetapi bisa dikatakan bahwa erupsi kedua gunung berapi tersebut terjadi pada hari yang sama.

Gunung berapi yang pertama meletus ada di Filipina. Gunung dengan nama Mayon tersebut adalah gunung api yang paling aktif di Filipina. Gunung tersebut memuntahkan air mancur lava merah-panas dan asap tebal dan berbahaya yang telah menyebabkan lebih dari 56.000 penduduk desa melarikan diri ke pusat evakuasi.

Lava menyembur sejauh 700 meter di atas kawah Gunung Mayon dan asap abu naik hingga 3 kilometer pada Senin (22/1) malam.

Institut Vulkanologi dan Seismologi Filipina dilansir dari NBC News, Rabu (24/1) mengatakan, sedikitnya tiga ledakan besar terjadi pada hari Selasa (23/1), termasuk sebuah ledakan pada malam hari yang kemudian berakhir dengan salah satu pertunjukan lava paling besar, sejak gunung berapi tersebut mulai menunjukkan tanda-tanda lebih dari seminggu yang lalu.

Gunung berapi Mayon menyemburkan lava merah panas
Gunung berapi Mayon menyemburkan lava merah panas di letusan lain seperti yang terlihat dari kota Legazpi, provinsi Albay, kira-kira 200 mil tenggara Manila, credit pic Fox News

Sebanyak 56.217 orang berlindung di 46 kamp evakuasi sementara tentara dan polisi terus membantu memindahkan para penduduk desa dari rumah mereka. Lebih dari 30.000 masker abu dan sekitar 5.000 karung beras, bersama dengan obat-obatan, air dan persediaan lainnya telah diberikan.

Cedric Daep, seorang pejabat penanggulangan bencana di Provinsi Albay mengatakan kepada wartawan bahwa dia merekomendasikan agar listrik dan air bersih harus diputus, untuk mencegah penduduk kembali ke rumah mereka.

“Jika aliran lava mengenai orang, tidak ada kesempatan untuk hidup,” kata Daep, menurut AP (Associated Press), Rabu (24/1). “Jangan sampai kita melanggar hukum alam, hindari zona terlarang, karena jika Anda melanggar, hukumannya adalah hukuman mati,” tambahnya.

“Kami tidak bisa tidur semalam karena gemuruh keras, terdengar seperti pesawat terbang yang akan mendarat,” Quintin Velardo, seorang petani berusia 59 tahun, mengatakan kepada The Associated Press di sebuah pusat evakuasi di Kota Legazpi, di mana dia membawa istri, anak-anak dan cucunya pada hari Selasa (23/1) lalu.

BACA JUGA:

SEMENTARA ITU DI JEPANG

Beberapa jam kemudian di sebuah gunung es bernama Kusatsu-Shirane, Jepang, para turis yang tinggal di resort dekat gunung tidak sadar bahwa akan ada bahaya yang mendekat.

Tidak ada yang menyangka bahwa gunung es tersebut akan meletus. Sebab, tidak seperti di Filipina yang gunungnya sudah menunjukkan tanda-tanda meletus seminggu sebelumnya, gunung ini tidak ada sama sekali tanda akan meletus.

Letusan gunung berapi yang tiba-tiba terjadi ini, menghujani abu di lereng dan telah memicu longsor yang menyebabkan setidaknya satu orang hilang dan 10 lainnya luka-luka.

Badan Meteorologi Jepang melaporkan bahwa Gunung Kusatsu-Shirane, yang terletak sekitar 120 mil barat laut Tokyo, meletus Selasa (23/1) dini hari.

 

Gunung Kusatsu-Shirane meletus
Gunung Kusatsu-Shirane, yang meletus pada hari Selasa, berjarak sekitar 100 mil barat laut Tokyo. Kredit Kyodo, via Reuters

Menurut The Japan Times, letusan di Kusatsu, Prefektur Gunma, terjadi tepat sebelum pukul 10 pagi waktu setempat.

Ada laporan yang bertentangan tentang jumlah orang yang terjebak dalam longsoran salju. Surat kabar tersebut mengutip seorang pejabat pemadam kebakaran setempat yang mengatakan bahwa empat orang terjebak di bawah salju dan salah satu dari mereka masih hilang.

Dilansir dari NYTimes, Rabu (24/1), sepuluh orang terkena batu di resor ski, melukai lima orang secara serius. Lima lainnya terluka oleh pecahan kaca yang menghancurkan jendela gondola.

“Melihat abu yang jatuh dalam video, pasti terjadi letusan eksplosif,” Toshitsugu Fujii, seorang vulkanologi dan profesor emeritus Universitas Tokyo, mengatakan kepada NHK. Dia mengatakan bahwa gunung berapi tersebut telah meletus 3.000 tahun yang lalu namun tidak ada aktivitas yang terdeteksi baru-baru ini.

 

Baca juga artikel menarik lainnya terkait Kabar Internasional atau informasi terkini lain di Kabarnesia.

Advertisements

Comments

comments

1 COMMENT

Comments are closed.