Tidak Hanya Manusia, Burung Woody Woodpecker Pun Mengalami Cedera Otak

1
16
burung woody woodpecker
Karakter kartun Woody Woodpecker yang diilhami dari jenis burung pelatuk (Foto: YouTube)

Kabarnesia.com – Mungkin kartun tentang si Woody Woodpecker tidak begitu terkenal di kalangan anak jaman sekarang, namun dulu karakter kartun ini sangat populer di kalangan anak-anak. Kartun ini merupakan salah satu karakter kartun lawas yang sudah diciptakan sejak tahun 1940.

Woody sendiri dibuat menyerupai seekor binatang di dunia nyata, yakni burung pelatuk atau woodpecker. Karakter yang dimiliki Woody pun hampir sebagian besar diilhami oleh perilaku sang burung di kehidupan nyata.

Ada lebih dari 300 spesies burung pelatuk di seluruh dunia. Burung-burung ini gemar mematuki kayu karena berbagai alasan; membangun sarang, mencari serangga, memperoleh getah, atau membuat lubang untuk menyimpan makanan.

Burung inilah yang mengilhami Walter Lantz menciptakan tokoh kartun Woody Woodpecker.

Tubuh burung pelatuk ‘dirancang’ sedemikian rupa untuk aktivitas mereka, dan mereka telah menjadi spesies yang sukses selama jutaan tahun.

Tapi, tahukah kalian burung pelatuk yang gemar mematuk juga menderita kerusakan otak karena hobinya tersebut ?

Pada penelitian tahun 1976, sebelumnya diyakini bahwa burung pelatuk secara fisik telah berevolusi dan disesuaikan dengan kepala yang terbentur oleh pengembangan otot leher dan lidah yang kuat, karena ini seharusnya melindungi atau menahan tengkorak akibat benturan.

Tetapi, sebuah penelitian baru yang diterbitkan pada Plos ONE menunjukkan bahwa mereka mungkin mengalami beberapa kerusakan akibat trauma tumpul, dan temuan tersebut dapat membantu kita memahami otak manusia juga.

Temuan baru tersebut menunjukkan bahwa walaupun spesies tersebut telah ada selama ribuan tahun, otak mereka masih belum sepenuhnya beradaptasi untuk melindungi dirinya dari dampak sering mematuk.

Para peneliti di Universitas Boston telah menyatakan, burung pelatuk memang mengalami kerusakan otak. Dan bukti yang mereka temukan sangat mirip dengan bukti kerusakan otak yang dialami orang dengan Chronic Traumatic Encephalopathy atau CTE.

BACA JUGA:

Hasil penelitian tersebut dapat membantu peneliti dalam mencoba memahami CTE dengan lebih baik. Sejak diagnosis pertamanya di tahun 2000, peneliti telah berusaha memahami mekanisme di balik gangguan otak. Sejauh ini, CTE hanya bisa didiagnosis begitu orang tersebut sudah meninggal.

Jadi, ilmuwan membandingkan otak burung pelatuk dengan burung blackbird bersayap merah, seekor burung yang tidak berjenis pelatuk, untuk mengetahui bagaimana otak mereka menanganinya. Mereka menemukan bahwa sebenarnya ada akumulasi protein tau yang berlebihan.

Protein tau adalah protein yang berfungsi untuk menstabilkan mikrotubulus. Protein ini melimpah di sel saraf dan berada pada derajat yang lebih rendah daripada oligodendrosit dan astrosit.

Ketika protein tau menjadi rusak dan gagal menstabilkan mikrotubulus secara memadai, patologi sistem saraf dapat mengembangkan sebuah penyakit seperti Alzheimer.

“Sel dasar otak adalah neuron, yang merupakan badan sel, dan akson, seperti saluran telepon yang berkomunikasi antar neuron,” kata George Farah, yang mengerjakan penelitian ini sebagai mahasiswa pascasarjana.

“Protein tau membungkus saluran telepon dan ini memberi mereka perlindungan dan stabilitas sambil tetap membiarkannya tetap fleksibel,” jelasnya lagi, dikutip Independent, Selasa (6/2).

Baca juga artikel menarik lainnya terkait Kabar Unik atau informasi terkini lain di Kabarnesia.

 

Advertisements

Comments

comments

1 COMMENT