Palestina, Israel, dan Gerakan Zionis yang Dibenci Yahudi

0
58
Masyarakat sipil Palestina yang berjuang memerdekakan negerinya (Foto: Islampos)

Kabarnesia.com – Albert Einstein pernah mengatakan, “Ide negara Israel tidak sesuai dengan hati nurani saya. Saya tidak mengerti mengapa itu diperlukan. Hal ini berhubungan dengan banyak kesulitan dan pikiran yang sempit. Saya percaya bahwa itu buruk.”

Pertentangan Einstein terhadap Zionis dipertahankannya hingga ajalnya tiba. Dulu, ia pernah ditawarkan untuk menjadi pengganti posisi presiden pertama Israel Chaim Azriel Weizmann saat ia meninggal.

Einstein dijanjikan akan diberikan fasilitas super mewah, lembaga penelitian terbesar, dan ijin sebebas-bebasnya untuk melakukan penelitian yang semua biayanya akan ditanggung oleh negara. Namun, Einstein tetap pada pendiriannya yang tidak menyukai ideologi Zionis Israel, dan mengatakan perdamaian antara Arab dan Israel adalah yang paling penting dari itu semua.

Mengapa Einstein menolak? Jawabannya sederhana, yakni karena ideologi Zionis yang digunakan Israel dalam mendirikan negara. Banyak orang mengira, Einstein adalah seorang atheis. Hal itu telah ia bantah dengan mengatakan, “Sains tanpa agama akan lumpuh, dan agama tanpa sains adalah buta.” Dari situ, kemudian orang berbondong-bondong beranggapan bahwa Einstein adalah seorang Yahudi.

Lalu, jika ia Yahudi, mengapa ia tak ingin menjadi Presiden Israel? Jawabannya, lagi-lagi telah terjawab oleh Einstein. Ia tak suka Zionis.

Pertanyaan kemudian muncul, apa bedanya Zionis dan Yahudi yang mayoritas sama-sama berada di Israel?

Menurut Vox dan History of Zionism, Zionisme adalah ideologi nasional Israel. Zionis percaya bahwa Yudaisme adalah sebuah kewarganegaraan dan juga sebuah agama, dan bahwa orang-orang Yahudi layak mendapatkan negerinya sendiri di tanah air leluhur mereka, Israel, dengan cara yang sama, seperti orang-orang Prancis layak mendapatkan Prancis atau orang-orang China layak bertempat tinggal di China.

wilayah israel saat ini
Wilayah Israel dan Palestina saat ini (Foto: Rimanews)

Itulah yang membuat orang Yahudi kembali ke Israel di tempat pertama, dan juga merupakan jantung dari apa yang menyangkut orang Arab dan Palestina tentang negara Israel.

Secara sederhana, Yahudi adalah istilah yang merujuk pada agama, entitas, dan suku bangsa. Sebagai agama, ia menjalankan berbagai macam ritual keagamaan, sedangkan sebagai suku atau bangsa, Yahudi adalah sebuah suku, sehingga Yahudi diartikan sebagai sebuah suku dan agama yang mereka anut.

BACA JUGA:

Orang yang percaya agama Yahudi tidak menjadikan seserang menjadi penganut agama Yahudi, sebaliknya tidak memegang kepada prinsip agama Yahudi tidak juga menjadikan seseorang menjadi tidak Yahudi. Karena Yahudi merupakan suku bangsa, bahkan suku Yahudi banyak juga yang menjadi ateis, dan sebaliknya.

Zionisme dalam bahasa Ibari, yakni Tsiyonut, adalah sebuah gerakan nasional orang Yahudi dan budayanya yang mendukung terciptanya sebuah tanah air Yahudi di wilayah yang didefisinikan sebagai tanah suci di Israel.

Pada 9 April 1948, kelompok zionis dibawah pimpinan Irgun membunuh 254 penduduk Palestina, diantaranya wanita, anak-anak dan orang jompo. Dalam bukunya The Revolt, Begin menulis, seandainya tidak ada peristiwa pemboman itu di Deir Yasin, tentu tidak akan pernah berdiri bangsa Israel.

Tahun 1951, Israel membom warga Yahudi Irak di Sinagog Masauda Shem-Tov karena enggan berimigrasi ke Israel. Sebanyak tiga orang tewas dan 24 lainnya luka-luka.

Kolonisasi Israel atas Palestina telah menyebabkan terusirnya jutaan warga Palestina. Gelombang pertama pada tahun 1948, sebanyak 726.000 atau dua pertiga dari 1,2 juta warga Palestina terpaksa mengungsi keluar Palestina. Gelombang kedua pada tahun 1967, sebanyak 323.000 orang.

Tahun 1982, saat menjabat sebagai menteri pertahanan Israel, Ariel Sharon, mengerahkan sebanyak 90.000 tentara Israel ke Lebanon yang didukung 1200 truk pasukan, 1300 tank dan 634 pesawat perang, dalam waktu seminggu, sebanyak 200.000 rakyat Lebanon kehilangan tempat tinggal, dan sekitar 20.000 orang terluka dan terbunuh, sebagaimana dilaporkan Republika, Desember lalu.

agresi militer israel
Agresi militer Zionis Israel kepada Palestina (Foto: Kompas)

Namun, faktanya, banyak Yahudi yang justru menentang gerakan Zionisme, baik itu Yahudi Reform maupun Yahudi Ortodoks. Keduanya menganggap Zionisme berbeda dengan ajaran Yahudi yang utamanya menjalankan ajaran Taurat dan perintah Tuhan, sementara Zionisme diciptakan tanpa beralandaskan ajaran agama.

Menariknya, sebuah gerakan aktivis HAM di Israel mencatat korban jiwa akibat agresi militer Israel ke Palestina pada tahun 2008 saja sudah mencapai 728 orang Palestina dan hanya tiga orang Israel. Hingga kini, sudah ribuan jiwa dikorbankan dalam agresi militer Zionis Israel terhadap Palestina. Bagi Zionis Israel, satu korban Israel lebih berharga dibanding ribuan orang Palestina.

BACA JUGA: Salju Tebal di Timur Tengah, Babak Akhir Bumi atau Fenomena Biasa?

Melihat agresi militer Zionis Israel tersebut, umat Yahudi bersekte Ultra-Ortodoks yang dinamakan Haridi melakukan gerakan pembakaran bendera Israel saat hari raya Lag b’Omer di Yerusalem, Belgia, Amerika Serikat, Kanada, dan Prancis. Haridi mengungkapkan pendirian Israel oleh Zionis usai Perang Dunia II seharusnya tidak diperbolehkan.

Sebab, mereka meyakini negara Yahudi akan berdiri ketika Mesiah datang ke bumi, bukan dengan pemaksaan dan kekerasan. Hal tersebut juga diamini oleh sekte Yahudi lainnya, yakni Naturei Karta yang dalam bahasa Arab secara harfiah berarti Penjaga Kota yang isinya adalah Rabbi-Rabbi Yahudi. Mereka merupakan organisasi Yahudi tertua yang menentang gerakan dan ideologi Zionis.

Naturei Karta sering menganggap dirinya adalah Perserikatan Yahudi Penentang Zionis, yang didirikan secara resmi tahun 1935 sebagai bentuk reaksi penentangan pembentukan negara Israel dan ideologi Zionis. Pada awalnya, organisasi mereka terfokus di Yerusalem, kemudian mereka menyebar sampai London, New York, hingga Lithuania, untuk menentang Zionis Israel yang dianggap mengotori tembok ratapan, dan berlandasakan sekuler.

Seorang Rabbi Yahudi Boeid Weiss pernah mengatakan, “Zionisme adalah ajaran kepercayaan setan.” Ia juga secara tegas mengatakan, tanah Palestina adalah milik bangsa Palestina, dan meminta agar Zionis Israel mengakhiri agresi militer di tanah Palestina.

International Jewish Anti-Zionist Network (IJAN) yang merupakan jaringan internasional orang Yahudi yang bertujuan menentang agresi Zionis Israel dan mendukung kemerdekaan Palestina. Berbeda dengan Naturei Karta yang berisi Rabbi-Rabbi Yahudi, IJAN berisi aktivis Yahudi yang menentang negara Israel, menentang Zionisme, dan menganggap agresi militer Israel sebagai bentuk kolonialisme.

BACA JUGA: Kala Peperangan Besar Dimulai Oleh Turki dan Amerika di Suriah

Selain beberapa organisasi tersebut, masih banyak tokoh-tokoh Yahudi lain yang tidak setuju dengan Zionisme dan pendirian negara Israel, serta menganggap mereka adalah kelompok Yahudi palsu yang sangat membenci Yahudi yang taat beragama.

Baca juga artikel menarik lainnya terkait Kabar Internasional atau informasi terkini lain di Kabarnesia.

Advertisements

Comments

comments