Orangutan: Riwayatmu Kini

1
15
perburuan orangutan
Perburuan orangutan masih menjadi kasus paling sering terjadi di Indonesia (Foto: Mongabay)

Kabarnesia.com – Kasus kekerasan pada binatang khususnya satwa liar yang dilindungi masih belum diperketat oleh pemerintah.

Setelah beberapa kali kecolongan, dan meskipun sudah ada gerakan di sana-sini yang meneriakkan keadilan bagi binatang, terutama orangutan, masih belum ada peraturan tegas untuk para pelaku.

Dari tahun ke tahun selalu ada kasus yang menimpa hewan primata kebanggaan Indonesia ini. Tidak hanya satu bahkan berkali-kali dalam setahun.

Bila dilihat dari tahun ke tahun kasus orangutanlah yang paling menyedihkan. Bagaimana tidak? Warga yang dipercaya untuk melindungi satwa ini pun juga ikut membantai dan menjadikan santapan.

populasi orangutan
Populasi orangutan di Indonesia cenderung menurun selama 10 tahun terakhir (Foto: National Geographic)

Kasus Orangutan dari tahun ke tahun

  • Tahun 2012: setidaknya dua orangutan terbunuh tiap harinya.
  • Tahun 2013: Orangutan Sumatera bernama Monic dan Manohara yang hidupnya terkatung-katung di penangkaran tanpa ada perawatan yang baik.
  • Tahun 2013: Orangutan berakhir jadi santapan warga di Pontianak, Kalimantan Barat.
  • Tahun 2015: Kebakaran hutan di Ketapang, Kalimantan Barat yang membuat orangutan kehilangan habitatnya.
  • Tahun 2017: Pembantaian orangutan terparah sepanjang tahun di Kapuas.
  • Tahun 2018: Hari Primata Nasional pada tanggal 30 Januari, bukan hari perlindungan melainkan hari perburuan.

Berdasarkan data Forum Orangutan Indonesia (Forina), total habitat orangutan di Kalimantan (Pongo pygmaeus) diperkirakan hanya tinggal 57.000 ekor, sementara di Sumatera (Pongo abelii) hanya sekitar 14.000.

BACA JUGA:

Meskipun jumlah orangutan tinggal sedikit, tidak pernah ada rasa belas kasihan antar sesama mahluk Tuhan. Lagi-lagi orangutan ditemukan terluka.

Orangutan itu pertama kali ditemukan warga, seperti merintih kesakitan, Sabtu (3/2) di sebuah danau kecil area hutan Taman Nasional Kutai. Temuan itu, langsung dilaporkan ke petugas Balai Taman Nasional Kutai.

Saat dibawa, kondisi kesehatan orangutan jantan yang diperkirakan berusia 5-7 tahun itu tidak dalam kondisi baik.

Namun, ketika menjalani perawatan di Balai Taman Nasional Kutai di Kota Bontang sejak Minggu, 4 Februari 2018, kondisi Orangutan itu semakin memburuk hingga akhirnya dinyatakan meninggal.

Ditemukan lebih dari 100 butir peluru dari jenis senapan angin yang bersarang di tubuh orangutan itu, termasuk di bagian kepala. Hasil itu didapat dari foto rontgen yang dilakukan kepada hewan itu.

Manager Perlindungan Habitat COP (sebuah organisasi yang peduli pelestarian Orangutan) Ramadhani mengatakan proses autopsi berlangsung di Rumah Sakit Pupuk Kaltim hingga Selasa, 6 Februari 2018.

“Tapi dari hasil rontgen kami, meski belum dihitung total, sementara ada lebih 100 peluru senapan angin. Sekitar 74 butir di antaranya, ada di kepala,” ujar Ramadhani.

“Dari fisik luar juga, ada beberapa luka dan kaki kiri, bagian telapaknya, sudah tidak ada,” tambah Ramadhani.

Banyak yang beralasan bahwa mereka membunuh orangutan karena masuk ke pekarangan mereka atau mencuri dari kebun mereka.

Baca juga artikel menarik lainnya terkait Kabar Nasional atau informasi terkini lain di Kabarnesia.

Advertisements

Comments

comments