Benarkah Mendukung Pernikahan Sejenis LGBT Disebut Humanisme?

45
347
LGBT, pernikahan sejenis, gay gene

Beberapa waktu belakangan dunia sedang ramai membicarakan pro kontra mengenai pernikahan sejenis, termasuk Indonesia. Setelah Amerika melegalkan pernikahan sejenis disana, kini di Indonesia pun terdapat beberapa pihak yang merasa pernikahan sejenis perlu dilegalkan sama seperti di Amerika. Tentu saja tak sedikit pihak yang sangat menentang hal ini.

Sejarah Perkembangan Gerakan LGBT

Perlu Anda ketahui sebelum Amerika melegalkan pernikahan sejenis, Belanda telah memulainya tahun 2001 lalu. Bahkan sejak tahun 1980, pembahasan mengenai hak-hak para homohuwelijk telah menjadi isu penting yang kerap disuarakan para aktivis gay di negeri Kincir Angin tersebut, di antaranya Henk Krol dan Gay Krant. Bahkan pada 2011 sebuah pernyataan menghebohkan diucapkan Perdana Menteri Belgia yang terpilih pada saat itu yang menyatakan bahwa dirinya adalah penyuka sesama jenis.

Dua tahun kemudian, yaitu pada 1 Juni 2003, Belgia sebagai negara tetangga Belanda ini pun ikut melegalkan pernikahan sejenis. Kemudian berturut-turut sejak 2005 hingga 2015, tercatat ada 21 negara yang menempuh kebijakan progresif seperti Belanda dan Belgia: Spanyol dan Kanada (2005), Afrika Selatan (2006), Norwegia dan Swedia (2010), Portugal, Islandia, dan Argentina (2010), Denmark (2012), Brazil, Inggris, Prancis, Selandia Baru, dan Uruguay (2013), Skotlandia dan Luxemburg (2014), hingga Finlandia, Slovenia, Irlandia, Meksiko, dan AS (2015).

phuceng,madu stamina,madu phuceng,sehatshop,stamina pria,madu,jahe merah,purwoceng

Kini banyak netizen mulai mendukung pernikahan sejenis sembari menuliskan tagar #LoveWins di Twitter. Menurut mereka hal tersebut dimaksudkan untuk menghormati sesama. Lantas benarkah dengan mendukung LGBT termasuk sikap humanisme?

Terbantahnya Teori Gay Gene

Pada kenyataannya, memanglah benar jika tak ada orang yang terlahir sebagai homoseksual atau memiliki gay gene (istilah gay gene diperkenalkan pertama kali oleh Magnus Hirscheld pada tahun 1899). Faktanya memang jelas adanya kemungkinan seseorang menjadi homoseksual. Oleh karena itu muncullah gay is chance. Secara singkatnya, gay tak lain adalah produk nurture, bukan nature.

Salah satu literatur yang dapat Anda baca terkait gay gene adalah Exploding The Gene Myth: How Genetic Information Is Produced and Manipulated by Scientists, Physcians, Employers, Insurance Companies, Educators, and Law Enforcers karya Ruth Hubbard, salah seorang profesor biologi dari Universitas Harvard.

Selain itu Anda juga bisa membaca dua buah riset Dean Hamer, ilmuwan Amerika yang juga seorang gay. Riset Hamer pertama dilakukan pada tahun 1993, yang merupakan lanjutan dari riset dari Michael Bailey dan Richard Pillard dua tahun sebelumnya.

Dengan melibatkan 40 pasang kakak beradik homoseksual, Hamer menunjukkan dalam riset tersebut bahwa satu atau beberapa gen yang diturunkan oleh ibu dan terletak di kromosom Xq28 sangat berpengaruh terhadap pembentukan sifat homoseksual. Dengan demikian, menurut Hamer, homoseksual terlahir secara alamiah dan mustahil tersembuhkan atau disembuhkan.

Enam tahun kemudian, dengan tetap mengadaptasi metode Bailey dan Pillard, Hamer melakukan riset kedua, namun kali ini melibatkan responden yang lebih banyak. Hasilnya justru berkebalikan dari riset pertamanya. Riset terakhirnya ternyata menunjukkan, bahwa gen ternyata bukanlah faktor utama yang melahirkan homoseksual. Menyadari riset pertamanya telah keliru, Hamer pun meminta maaf di berbagai forum kesehatan internasional.

Riset mengenai gay gene terus berlanjut. Masih di tahun 1999, George Rice, salah seorang profesor dari Universitas Western Ontario, Kanada, mengadaptasi riset Hamer dengan melibatkan 52 pasang kakak beradik homoseksual sebagai responden. Riset tersebut hasilnya juga memperlihatkan tidak ada kesamaan penanda di kromosom Xq28. Dengan demikian, pengaruh bawaan yang menimbulkan sifat homoseksual dapat ditiadakan.

Tak dapat dihindari, ada kecenderungan (muatan) politis dalam setiap riset. Di Amerika sendiri misalnya, agar argumennya tampak lebih berbobot dan tidak sekedar argumen belaka, kaum Kristen fundamentalis di sana kerap membuat riset, buku, hingga menggelar aksi demonstrasi yang bertujuan menentang hak-hak kaum LGBT.

Setelah mengetahui fakta tersebut, benarkah para “humanis” di Indonesia mendukung pernikahan sejenis berdasarkan kehendak moral? Jujur dan siapkah mereka untuk menerima dengan dada lapang jika suatu saat nanti ada keturunan mereka yang jadi homoseksual?

Hal yang perlu ditekankan yaitu penolakan terhadap LGBT tak lain demi melindungi moralitas anak-anak. Humanisme yang tepat adalah melindungi hak mereka sebagai manusia, bukan mendukung perilaku LGBT mereka.

Jika menurut mereka dukungan pernikahan sejenis ini adalah demi pluralisme, sanggupkah mereka menerima perbedaan dalam bentuk lain yang jauh lebih ekstrem lagi? Radikalisme misalnya? Bagaimana pendapat Anda?

 

Baca juga: Terbantahnya Teori Gay Genetis

 

Comments

comments

Comments are closed.