Terbantahnya Teori Gay Genetis

2
704
LGBT, teori gay gene, pernikahan sejenis
obat kuat,libion,libiceng,phuceng,madu stamina,madu phuceng,sehatshop,stamina pria,madu,jahe merah,purwoceng

Maraknya masyarakat yang pro dan kontra mengenai pernikahan sejenis LGBT menimbulkan banyak pertanyaan. Sebagian berpendapat bahwa homoseksual adalah bawaan sehingga mereka perlu diberikan hak yang sama di mata hukum. Teori homoseksual merupakan bawaan atau yang disebut dengan teori “Gen Gay” pertama kali diungkapkan oleh ilmuwan asal Jerman, Magnus Hirscheld, pada 1899. Ia adalah ilmuwan pertama yang memperkenalkan teori “Gen Gay”. Dari teori tersebut ia kemudian menyerukan persamaan hukum untuk kaum homoseksual.

Pada tahun 1991, para peneliti, Dr.Michael Bailey dan Dr.Richard Pillard melakukan penelitian untuk membuktikan teori tersebut. Pada saat itu yang mereka teliti adalah pasangan saudara: kembar identik, kembar tidak identik, saudara-saudara biologis dan saudara-saudara adopsi, yang mana salah satu di antaranya adalah seorang gay. Riset tersebut menyimpulkan adanya pengaruh genetik dalam homoseksualitas. Terdapat 52% pasangan kembar identik dari orang gay berkembang menjadi gay. Hanya 22% pasangan kembar biasa yang menunjukkan sifat itu. Saudara biologis mempunyai kecenderungan 9,2%, dan saudara adopsi 10,5%. Namun gen di kromosom yang membawa sifat menurun itu tidak berhasil ditemukan.

Kemudian pada 1993, riset dilanjutkan oleh seorang gay bernama Dean Hamer. Ia meneliti 40 pasang kakak beradik homoseksual. Hamer mengklaim bahwa satu atau beberapa gen yang diturunkan oleh ibu dan terletak di kromosom Xq28 sangat berpengaruh pada orang yang menunjukkan sifat homoseksual. Hasil riset ini meneguhkan pendapat kaum homoseksual bahwa homoseksual adalah fitrah (bawaan) dan bukanlah suatu penyimpangan sehingga mustahil bisa diluruskan. Hasil penelitian dari seorang gay inilah yang kemudian dipakai sebagai senjata kuat mereka untuk memperjuangkan hak-haknya.

Meski demikian, hingga 6 tahun kemudian gen pembawa sifat homoseksual itu tidak ditemukan juga real-nya. Dean Hamer pun akhirnya mengakui bahwa risetnya tidak mendukung bahwa gen adalah faktor utama yang melahirkan homoseksualitas.

“Kami menerima bahwa lingkungan mempunyai peranan membentuk orientasi seksual … Homoseksualitas secara murni bukan karena genetika. Faktor-faktor lingkungan berperan. Tidak ada satu gen yang berkuasa yang menyebabkan seseorang menjadi gay … kita tidak akan dapat memprediksi siapa yang akan menjadi gay.”

Dari pernyataan tersebut, Hamer mengakui bahwa risetnya gagal memberi petunjuk bahwa homoseksual adalah bawaan.

“Silsilah keluarga gagal menghasilkan apa yang kami harap temukan yaitu sebuah hukum warisan Mendelian yang sederhana. Faktanya, kami tidak pernah menemukan dalam sebuah keluarga bahwa homoseksualitas didistribusikan dalam rumus yang jelas seperti observasi Mendel dalam tumbuhan kacangnya.”

Pada 1999, Prof. George Rice dari Universitas Western Ontario, Kanada, mengadaptasi riset Hamer dengan jumlah responden yang lebih banyak. Rice dan tim memeriksa 52 pasang kakak beradik homoseksual untuk melihat keberadaan empat penanda di daerah kromosom. Hasilnya menunjukkan, kakak beradik itu tidak memperlihatkan kesamaan penanda di gen Xq28 kecuali secara kebetulan. Para peneliti tersebut menyatakan bahwa segala kemungkinan adanya gen di Xq28 yang berpengaruh besar secara genetik terhadap timbulnya homoseksualitas dapat ditiadakan. Sehingga hasil penelitian mereka tidak mendukung adanya kaitan gen Xq28 yang dikatakan mendasari homoseksualitas pria.

Tak berhenti disitu, penelitian juga dilakukan oleh Prof Alan Sanders dari Universitas Chicago, di tahun 1998-1999. Hasil riset juga tidak mendukung teori hubungan genetik pada homoseksualitas. Penelitian Rice dan Sanders tersebut makin meruntuhkan teori “Gen Gay”.

sumber: trueorigin.org/gaygene01.php

Ruth Hubbard, seorang pengurus “The Council for Responsible Genetics” yang juga penulis buku “Exploding the Gene Myth” mengatakan:

“Pencarian sebuah gen gay bukan suatu usaha pencarian yang bermanfaat. Saya tidak berpikir ada gen tunggal yang memerintah perilaku manusia yang sangat kompleks. Ada berbagai komponen genetik dalam semua yang kita lakukan, dan adalah suatu kebodohan untuk menyatakan gen-gen tidak terlibat. Tapi saya tidak berpikir gen-gen itu menentukan.”

Untuk lebih lengkapnya wawancara dengan Ruth Hubbard dapat Anda simak di Simak wawancara bersama Ruth Hubbard di http://gender.eserver.org/exploding-the-gene-myth.html.

Dari berbagai hasil di atas, dapat diperoleh kesimpulan bahwa meski menemukan adanya link homoseksual secara genetika, namun gen bukanlah faktor dominan dalam menentukan homoseksualitas.

Meskipun puluhan tahun telah dilakukan penelitian terhadap gen homoseksual, pada kenyataannya tidak ada fakta ilmiah yang 100% mendukung klaim tersebut. Teori yang menyatakan bahwa gay adalah sifat genetis hanyalah propaganda palsu yang dirilis oleh peneliti yang gay. Teori Gen Gay sifatnya politis, sarat akan kepentingan kaum gay sendiri. Memang benar jika ada manusia yang terlahir hermaprodit alias kelamin ganda, namun tidak ada manusia yang terlahir dengan kelamin normal namun punya kecenderungan homoseks.

Perlu diketahui, di dunia psikologi terdapat Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders (DSM) yang merupakan sebuah ‘kitab’ yang berisi mengenai kriteria gangguan mental. DSM diterbitkan oleh American Psychiatric Association (APA), yang selama ini dijadikan panduan bagi para psikolog dan psikiater untuk menentukan diagnosa seseorang jika terjadi kelainan, penyimpangan atau gangguan jiwa.

Pada DSM I tahun 1952, homoseksual masih dikategorikan sebagai Gangguan Jiwa. Pada DSM selanjutnya, sedikit demi sedikit homoseksual semakin ‘dikaburkan’, dari gangguan kepribadian sosiopath, kemudian dikategorikan penyimpangan sex, hingga kemudian hilang dan dikategorikan bukan gangguan jiwa pada DSM IV tahun 1994.

Hal yang lebih mengejutkan adalah lima dari tujuh orang tim task force DSM adalah gay dan lesbian, sisanya adalah aktivis LGBT.

Di Indonesia, ada buku saku yang merupakan rangkuman singkat DSM yang diberi nama Pedoman Penggolongan & Diagnosis Gangguan Jiwa (PPDGJ). Hanya saja, DSM selalu digunakan para aktivis LGBT dan aktivis HAM untuk dijadikan pembenaran bahwa perilaku para LGBT tidaklah menyimpang.

Baca juga: Benarkah Mendukung Pernikahan Sejenis LGBT Disebut Humanisme?

 

Comments

comments

Comments are closed.