Menelusuri Jejak Perjuangan Tan Malaka

543
1991
Tan Malaka, Harry A. Poeze, sejarah Tan
obat kuat,libion,libiceng,phuceng,madu stamina,madu phuceng,sehatshop,stamina pria,madu,jahe merah,purwoceng

Setiap tanggal 21 Februari selalu menjadi hari yang memiliki makna tersendiri dari bangsa Indonesia. Bagaimana tidak? Pada tanggal 21 Februari 1949 silam, seorang pahlawan yang bernama Tan Malaka tewas di tangan bangsa sendiri. Diungkap oleh Harry A. Poeze, seorang sejarahwan Belanda yang meneliti Tan Malak, Letda Sukotjo adalah si eksekutor tokoh bangsa yang pertama kali merumuskan konsep negara Indonesia berbentuk republik ini. Ironis bukan?

Perjalanan hidup Tan Malaka mungkin tidak terlalu terkenal dibandingkan Soekarno dan Mohammad Hatta. Namun, kisah itu dituliskan oleh seorang sejarawan Belanda secara rinci hingga menarik membaca sejarah pahlawan yang terkenal dengan slogan “Merdeka 100 persen”.

Biografi Tan Malaka

Tan Malaka atau Sutan Ibrahim gelar Datuk Tan Malaka lahir di Nagari Pandan Gadang, Suliki, Sumatera Barat tanggal 2 Juni 1897 dan wafat di Jawa Timur pada 21 Februari 1949. Beliau adalah seorang aktivis pejuang nasionalis Indonesia, seorang pemimpin komunis, dan politisi yang mendirikan Partai Murba. Pejuang yang militan, radikal dan revolusioner ini banyak melahirkan pemikiran-pemikiran yang berbobot dan berperan besar dalam sejarah perjuangan kemerdekaan Indonesia. Berkat kegigihannya dalam berjuang ia Tan Malaka dikenal sebagai tokoh revolusioner legendaris. Namun pada masa itu pemerintah merasa Tan adalah pemberontak dan harus dilenyapkan.

Tan Malaka adalah sosok yang sangat kritik terhadap pemerintah kolonial Hindia-Belanda maupun pemerintahan republik di bawah Soekarno pasca-revolusi kemerdekaan Indonesia. Meskipun berpandangan komunis, Tan juga sering terlibat konflik dengan kepemimpinan Partai Komunis Indonesia (PKI).

Hampir sebagian besar hidup Tan dihabiskannya di luar Indonesia. Ia terus terancam ditahan oleh penguasa Belanda dan sekutu-sekutu mereka. Walaupun secara jelas disingkirkan, Tan Malaka sangat cerdas dan memiliki peran intelektual penting dalam membangun jaringan gerakan komunis internasional untuk gerakan anti penjajahan di Asia Tenggara. Ia dinyatakan sebagai “Pahlawan revolusi nasional” melalui ketetapan parlemen dalam sebuah undang-undang tahun 1963.

Perjuangan Tan Malaka

Tan Malaka adalah seorang pendiri partai Murba, berasal dari Sarekat Islam (SI) Jakarta dan Semarang. Ia dibesarkan dalam suasana semangat gerakan modernis Islam Kaoem Moeda di Sumatera Barat. Tan Malaka adalah tokoh yang diduga kuat sebagai orang di belakang peristiwa penculikan Sutan Sjahrir pada bulan Juni 1946 oleh “sekelompok orang tak dikenal” di Surakarta sebagai akibat perbedaan pandangan perjuangan dalam menghadapi Belanda.

Tan Malaka mulai terjun ke dunia politik pada tahun 1921. Ia pun mulai mengeluarkan semangatnya mengumpulkan pemuda-pemuda komunis. Ia juga kerap berdiskusi dengan Semaun (wakil ISDV) mengenai pergerakan revolusioner dalam pemerintahan Hindia Belanda.Bahkan ia juga merencanakan suatu pengorganisasian dalam bentuk pendidikan bagi anggota-anggota PKI dan SI (Sarekat Islam) untuk menyusun suatu sistem tentang kursus-kursus kader serta ajaran-ajaran komunis, gerakan-gerakan aksi komunis, keahlian berbicara, jurnalistik dan keahlian memimpin rakyat. Namun pemerintahan Belanda melarang pembentukan kursus-kursus semacam itu sehingga mengambil tindakan tegas bagi pesertanya.

Semangat yang begitu besar dalam diri Tan Malaka memunculkan niatnya untuk mendirikan sekolah-sekolah sebagai anak-anak anggota SI untuk penciptaan kader-kader baru. Tan Malaka memiliki tiga alasan kuat untuk itu. Alasan pertamanya adalah memberi banyak jalan (kepada para murid) untuk mendapatkan mata pencaharian di dunia kapitalis (berhitung, menulis, membaca, ilmu bumi, bahasa Belanda, Melayu, Jawa dan lain-lain). Alasan lainnya yaitu memberikan kebebasan kepada murid untuk mengikuti kegemaran mereka dalam bentuk perkumpulan-perkumpulan. Terakhir, untuk memperbaiki nasib kaum miskin. Rapat pun diadakan dan dihasilkan keputusan ruang rapat SI Semarang menjadi sebuah sekolah yang semakin lama berkembang pesat.

Tan Malaka juga aktif dalam gerakan-gerakan melawan ketidakadilan seperti yang dilakukan para buruh terhadap pemerintahan Hindia Belanda lewat VSTP dan aksi-aksi pemogokan, disertai selebaran-selebaran sebagai alat propaganda yang ditujukan kepada rakyat agar rakyat dapat melihat adanya ketidakadilan yang diterima oleh kaum buruh.

Dengan semangat yang berkobar, Tan Malaka memulai menyusun rencana untuk mendukung para buruh. Semua gerakan buruh untuk mengeluarkan suatu pemogokan umum sebagai pernyataan simpati, apabila nanti menglami kegagalan maka pegawai yang akan diberhentikan akan didorongnya untuk berjuang dengan gigih dalam pergerakan revolusioner. Sekiranya begitulah isi pidato Tan Malaka kala itu.

Sebagai seorang pemimpin yang masih sangat muda ia meletakkan tanggung jawab yang sangat berat pada pundaknya. Tan Malaka dan sebagian kawan-kawannya memisahkan diri dan kemudian memutuskan hubungan dengan PKI, Sardjono-Alimin-Musso.

Pemberontakan 1926 yang direkayasa dari Keputusan Prambanan yang berakibat bunuh diri bagi perjuangan nasional rakyat Indonesia melawan penjajah waktu itu. Pemberontakan 1926 hanya merupakan gejolak kerusuhan dan keributan kecil di beberapa daerah di Indonesia. Maka dengan mudah dalam waktu singkat pihak penjajah Belanda dapat mengakhirinya. Akibatnya ribuan pejuang politik ditangkap dan ditahan. Ada yang disiksa, ada yang dibunuh dan banyak yang dibuang ke Boven Digoel, Irian Jaya. Peristiwa ini dijadikan dalih oleh Belanda untuk menangkap, menahan dan membuang setiap orang yang melawan mereka, sekalipun bukan PKI. Maka perjaungan nasional mendapat pukulan yang sangat berat dan mengalami kemunduran besar serta lumpuh selama bertahun-tahun.

Namun pada waktu itu Tan Malaka sedang berkumpul dengan beberapa temannya di Bangkok, Thailand. Pada Juni 1927 Tan Malaka memproklamasikan berdirinya Partai Republik Indonesia (PARI). Dua tahun sebelumnya Tan Malaka telah menulis “Menuju Republik Indonesia”. Tulisan tersebut ditunjukkan kepada para pejuang intelektual di Indonesia dan di negeri Belanda. Buku tersebut diterbitkan pertama kalinya di Kowloon, Hong Kong, pada April 1925.

Pada 3 Juli 1946 Tan Malaka bersama pimpinan Persatuan Perjuangan ditangkap dan ditahan di dalam penjara tanpa pernah diadili selama dua setengah tahun. Setelah meletus pemberontakan FDR/PKI di Madiun, September 1948 dengan pimpinan Musso dan Amir Syarifuddin, Tan Malaka dikeluarkan begitu saja dari penjara akibat peristiwa itu.

Di luar, setelah mengevaluasi situasi yang amat parah bagi Republik Indonesia akibat Perjanjian Linggajati 1947 dan Renville 1948, yang merupakan buah dari hasil diplomasi Sutan Syahrir dan Perdana Menteri Amir Syarifuddin, Tan Malaka merintis pembentukan Partai MURBA, 7 November 1948 di Yogyakarta.

Namun kejadian mengejutkan terjadi pada tahun 1949, tepatnya bulan Februari. Tan Malaka hilang tanpa kabar. Sosoknya ditemukan telah tewas setelah berjuang bersama Gerilya Pembela Proklamasi di Pethok, Kediri, Jawa Timur. Setelah Harry A. Poeze melakukan penelitian, terungkaplah bahwa Tan Malaka ditembak mati pada tanggal 21 Februari 1949 atas perintah Letda Soekotjo dari Batalyon Sikatan, Divisi Brawijaya.

Comments

comments

Comments are closed.