Kopi Bukit Menoreh, Wisata Alam Legenda Perang Jawa

0
54
kopi menoreh, wisata sejarah, yogyakarta

Wisata alam menjadi salah satu tujuan menarik untuk mengisi waktu liburan yang selama sepekan penuh berkutat dengan kesibukan kantor atau kerja lainnya. Berwisata alam punya nilai tambah lebih jika dibandingkan dengan berwisata ke tempat hiburan lain. Salah satu wisata yang dapat Anda kunjungi jika Anda tengah berada di Yogyakarta adalah Bukit Menoreh.

Bukit Menoreh menjadi pembatas wilayah Jawa Tengah dan Daerah Istimewa Yogyakarta. Dahulunya Bukit Menoreh menjadi tempat bermarkasnya pasukan Pangeran Diponegoro saat terjadinya Perang Jawa. Pangeran Diponegoro yang merasa hak-haknya di langgar oleh Belanda kemudian mengobarkan perang dengan menyerang pos-pos pertahanan pasukan Belanda di Yogyakarta dan Jawa Tengah. Selama perang berlangsung dari tahun 1825-1830, Pangeran Diponegoro selalu bergerak dan berpindah untuk menghimpun pasukan dan menghindari sergapan pasukan Belanda.

Bukit Menoreh menjadi salah satu markas pasukan Diponegoro selama berkobarnya Perang Jawa. Pasukan Diponegoro yang lebih tradisional mampu bertahan dan menghancurkan konsentrasi pasukan Belanda karena secara taktik pasukan Diponegoro lebih menguasai medan perbukitan di Menoreh.

Selepas Perang Jawa usai dan Diponegoro ditangkap lalu di asingkan, perbukitan Menoreh dijadikan lahan perkebunan kopi oleh pemerintah Belanda karena secara geografis letaknya yang berada di dataran tinggi, cocok untuk tempat hidup dan berkembangnya tanaman kopi.
Kini jauh setelah Perang Jawa telah menjadi sejarah dan Indonesia telah merdeka dari jajahan Belanda, Bukit Menoreh masih menyisakan cerita legenda perjuangan sang Pangeran Diponegoro.

Bukit Menoreh yang terletak diantara tiga wilayah yaitu Kulon Progo, Purworejo dan Magelang kini masih menyimpan peninggalan masa penjajahan Belanda berupa tanaman kopi yang ditanam sejak masa Kolonial. Meski tidak sebesar perkebunan kopi di Salatiga dan Temanggung tapi eksistensi petani kopi di wilayah Menoreh masih ada dan masih berproduksi. Salah satu petani yang giat mempromosikan komoditas kopi bukit Menoreh adalah Pak Rohmat.

Beliau adalah warga asli Madigondo, Rt 26/10, Sidoharjo, Samigaluh, Kulon Progo yang masih merawat kebun kopi dan mengolah sendiri hasil perkebunan kopinya menjadi bubuk kopi siap sedu. Kopi Menoreh punya ciri khas aroma dan rasa tersendiri seperti kopi-kopi dari tempat lain.

Jika berkunjung ke Yogyakarta, Anda bisa menyempatkan waktu untuk menikmati sensasi naik turun gunung melalui jalan di Kabupaten Kulon Progo. Untuk mencapai warung Kopi Pak Rohmat ini anda harus menempuh perjalanan ke Samigaluh yang berkelok dan menanjak dengan pemandangan kanan kiri jalan yang masih alami.

Anda baru akan menemukan tanaman kopi disana pada ketinggian tertentu dan tidak ada di pinggir jalan utama. Perkebunan kopi milik Pak Rohmat sendiri terletak di kebun belakang rumahnya dan ada juga yang agak terpisah jauh.

Di warung kopi Pak Rohmat, Anda bisa melihat langsung bagaimana proses pengolahan kopi dari mulai petik (ketika masa panen), pengeringan, memasak, menumbuk biji kopi hingga tersaji di meja kita. Harga yang tergolong murah untuk segelas kopi murni Menoreh lengkap dengan tiga gelas gula yang bisa kita campurkan sesuai selera. Ada gula pasir, gula jawa dan gula batu. Paket sajian kopi Menoreh ini juga termasuk kacang rebus, lanting, dan jadah atau telo yang hanya dibanderol dengan harga sepuluh ribu rupiah.

Warung Kopi Pak Rohmat juga menjual kopi robusta Menoreh yang telah dikemas dan siap dipasarkan ke berbagai wilayah. Saat ini Kopi Menoreh produksi Pak Rohmat telah dikirim ke beberapa Wilayah di Yogyakarta dan Jawa Tengah.

Advertisements

Comments

comments