5600 Personel Polisi Disiagakan Untuk Pengamanan Hari Raya Nyepi di Bali

0
40
hari raya nyepi, umat hindu bali, pecalang adat

Pada tahun 2017 ini Hari Raya Nyepi umat Hindu menunjuk angka tahun baru saka 1939. Puncak dari rangkaian Hari Raya Nyepi jatuh pada tanggal 28 Maret 2017 setelah beberapa hari sebelumnya umat Hindu Bali telah melakukan berbagai upacara adat dan festival Ogoh-Ogoh yang menjadi kegiatan rutin sekaligus prosesi dari Hari Raya Nyepi itu sendiri.

Sebelumnya umat Hindu Bali telah melaksanakan upacara Melasti yang dilakukan hampir seluruh pantai di Bali. Upacara Melasti adalah upacara pensucian dalam ajaran agama Hindu yang dilakukan di Pantai atau di sumber mata air. Sudah sejak tanggal 23 Maret umat Hindu Bali menggelar upacara Melasti dan Tawur Agung / Pengerupukan hingga tanggal 25. Acara Tawur Agung atau Pengerupukan ini merupakan simbol pensucian alam semesta dengan pawai Ogoh-Ogoh. Ogoh-Ogoh adalah boneka raksasa yang berwajah menyeramkan yang dalam ajaran Hindu merupakan simbol dari sifat-sifat buruk manusia.

Selanjutnya acara Nyepi sendiri telah berlangsung tanggal 28 Maret dan ditutup dengan upacara Ngembak Geni. Ngembak Geni adalah acara silaturahmi kepada sanak saudara dan tetangga sebagai bentuk rasa syukur dan rasa saling percaya dan menjaga. Untuk mengawal keseluruhan rangkaian acara tersebut, Kepolisian Daerah Bali, atau Polda Bali telah menyiagakan sebangak 5.600 personelnya. Untuk mengawal itu kegiatan ini, Kepolisan Daerah Bali dibantu oleh sebanyak 22.000 pecalang adat.

Kapolda Bali, Inspektur Jenderal Polisi Petrus Golose menyampaikan rasa terimakasihnya kepada seluruh warga Bali dan pecalang adat Bali yang telah membantu tugas polisi dalam menjaga dan mengawal kegiatan Hari Raya Nyepi tahun ini.

Hari Raya Nyepi adalah acara sakral keagamaan umat Hindu, untuk itu perlu dijaga keamanan dan kelancarannya. Petrus juga mengatakan bahwa telah memerintahkan personelnya dari Binmas, Babinkamtibmas dan Intelejen untuk bekerja sama dengan desa adat. Hal ini guna menghindari gesekan dan kesalahpahaman dalam menjalankan tugas dilapangan. Karena wewenang kepolisian yang bertugas tentu saja harus dipahami oleh pecalang desa adat, dan begitu pula sebaliknya.

Terlebih pada  saat umat hindu Bali melaksanakan Nyepi, mereka melaksanakan Catur Brata Penyepian. Catur Brata Penyepian adalah empat pantangan yang tidak boleh dilanggar atau dilaksanakan pada saat Hari Raya Nyepi. Pertama adalah Amati karya, dimana umat hindu dilarang bekerja saat melaksanakan Hari Raya Nyepi. Kedua adalah Amati Lelungan yang artinya adalah selama Hari Raya Nyepi, Umat Hindu Bali dilarang bepergian atau keluar rumah. Ketiga Amati Lelaguan yang artinya selama Hari Raya Nyepi Warga Bali dilarang bersenang-senang, berwisata atau pergi ke mall. Keempat adalah Amati geni yaitu selama melaksanakan Nyepi, Umat Hindu Bali dilarang menyalakan api termasuk listrik dan cahaya.

Saat melakukan Nyepi tersebut rawan terjadi tindak kriminal dan kejahatan lain sehingga perlu pengamanan lebih ekstra terutama dari kepolisian selaku pejabat yang berwenang dan bertanggung jawab atas keamanan di wilayah Bali.

Selain itu beberapa instansi yang masih aktif beroperasi pada saat Hari Raya Nyepi ini adalah terbatas pada rumah sakit, kantor Kepolisian, dan Dinas Pemadam Kebakaran dengan tanpa penerangan diluar kantor.

Pecalang desa adat yang juga aktif membantu tugas keamanan selama Hari Raya Nyepi ini merupakan bantuan yang sangat berarti untuk kepolisian selama mengamankan acara Nyepi. Karena pecalang adalah mereka yang langsung bersentuhan dengan umat Hindu itu sendiri sehingga secara tugasnya juga dilindungi oleh kepolisian Polda Bali.

Advertisements

Comments

comments