Perundingan Korut – Korsel: Bentuk Kekalahan Kim Jong-Un?

0
189
Konflik Korea Utara dan Amerika Serikat
Kim Jong-Un Lakukan Perundingan dengan Korea Selatan (Ilustrasi: Sick Chirpse)

Kabarnesia.com – Beberapa waktu lalu hubungan dua negara, Amerika Serikat (AS)  dan Korea Utara (Korut)  kian memanas dan menjadi sorotan masyarakat internasional hingga kini. Persetujuan Korut untuk melakukan Perundingan dengan Korsel, dikatakan
Direktur Badan Intelijen Amerika Serikat (AS) atau CIA Mike Pompeo, menganggap itu sebagai bentuk ‘putus asa’ dari Kim Jong-un.

Pejabat dari Pyongyang dan Seoul  mengadakan negosiasi pertama kalinya pada Selasa (9/1). Setelah lebih dari dua tahun terkahir duo Korea itu berseteru. Perundingan tersebut ditujukan untuk menyelesaikan masalah dan mencegah konflik yang tidak disengaja.

Pada hari Selasa, Trump menulis pada akun Twitternya bahwa dia memiliki “tombol nuklir yang lebih kuat” daripada Kim Jong-un, yang menekankan bahwa tombol itu juga “jauh lebih besar” dan “berhasil,” sebagai respon atas ancaman yang diungkapkan oleh Pyongyang.

Pompeo, yang berbicara di acara “Face the Nation” mengatakan, kicauan Trump mengenai “tombol nuklir” telah membuat Kim Jong-un berjalan mundur, dan pada akhirnya setuju untuk melakukan pembicaraan dengan Korea Selatan.

“Dia (Trump) mencari pijakan untuk berjalan sendiri, sesuai dengan aktivitas historisnya. Ketika dia melihat ancaman itu, dia mencoba untuk menenangkannya. Dan Anda dapat memastikan bahwa pemerintahan ini tidak akan masuk perangkap yang sama dengan yang dilakukan oleh administrasi sebelumnya,” ucap Pompeo, dikutip Sputnik pada kamis (11/1).

BACA JUGA:

Namun, dalam perundingan Korut – Korsel di Panmunjom, Selasa (9/1), Pyongyang menyampaikan “keluhan kuat” setelah Seoul mengusulkan untuk melakukan denuklirisasi semenanjung Korea. Korut juga menegaskan, bom hidrogen miliknya hanya ditujukan kepada Amerika Serikat (AS), bukan pada “saudara”-nya di Korsel.

“Semua senjata kita termasuk bom atom, bom hidrogen dan rudal balistik hanya ditujukan kepada Amerika Serikat, bukan pada saudara kita, juga China dan Rusia,” kata juru runding utama Pyongyang Ri Son Gwon.

Pernyataan tersebut mencerminkan sikap Korut yang tidak sepenuhnya berjalan mundur.
Pompeo juga sempat menyatakkan bahwa dia percaya Korut dapat memberikan ancaman langsung terhadap AS. Dia menuturkan, dalam beberapa bulan ke depan Korut mungkin akan memiliki teknologi yang memungkinkan mereka untuk menyerang daratan AS.

Perundingan Korut – Korsel ternyata disusul dengan sikap melunaknya Presiden Amerika Serikat Donald Trump yang menyatakan terbuka untuk berunding dengan pemimpin Korea Utara Kim Jong-un. Dengan catatan, di situasi dan kondisi yang tepat.

Sikap ini muncul usai melakukan pembicaraan dengan Presiden Korea Selatan Moon Jae-in, Rabu (10/1) kemarin. “Kita akan lihat apa yang terjadi,” kata Trump, ketika ditanya kemungkinan AS berunding dengan Korut, seperti dilansir Reuters, Kamis (11/1).

Baca juga artikel menarik lainnya terkait Korea Utara atau informasi terkini lain di Kabarnesia.

 

Comments

comments