Kala Peperangan Besar Dimulai Oleh Turki dan Amerika di Suriah

2
179
perang besar turki melawan amerika
Pasukan Turki mulai melakukan gencatan senjata di Suriah (Foto: Net)

Kabarnesia.com – Turki melancarkan serangan darat terhadap pejuang separatis Kurdi dan ISIS di Suriah barat laut pada hari Minggu (21/1), setelah Presiden Recep Tayyip Erdogan mengabaikan seruan dari AS untuk menghindari serangan Afrin.

Tank-tank Turki menyeberang ke kota Azaz di Suriah dan maju menuju benteng Kurdi di Afrin, seperti yang dikabarkan oleh surat kabar Hurriyet.

Dilansir dari BBC News, Selasa (22/1), PM Turki Binali Yildrim menjelaskan bahwa pasukan darat Turki telah menyeberang ke Suriah Utara sebagai bagian dari kampanye Ankara untuk menyingkirkan daerah perbatasan pejuang Kurdi.

phuceng,madu stamina,madu phuceng,sehatshop,stamina pria,madu,jahe merah,purwoceng

Binali Yildirim mengatakan bahwa tujuannya adalah untuk membangun zona aman sejauh 30 kilometer di dalam wilayah Suriah.

Tentara Turki mempersiapkan tank mereka di dekat perbatasan Suriah-Turki, di distrik Reyhanli di Hatay, Turki, 21 Januari 2018. credit pic. SEDAT SUNA / EPA/NBC News

Turki menganggap kubu Kurdi Suriah adalah milisi, yang dikenal sebagai Unit Perlindungan Rakyat, atau YPG, sebuah organisasi teror dan sebuah ancaman keamanan karena berafiliasi dengan pemberontak Kurdi yang berperang di bagian tenggara Turki.

Menurut Komando Pasukan Umum Demokrat Suriah, operasi darat tersebut dilakukan beberapa jam setelah jet-jet Turki menargetkan milisi YPG kubu Syrian-Kurdi yang didukung AS di daerah tersebut, menewaskan sedikitnya delapan orang dan melukai 13 lainnya.

Kelompok tersebut mengendalikan Afrin, di sudut barat laut Suriah, dan juga sebuah petak wilayah di sepanjang perbatasan Turki. YPG juga membentuk tulang punggung Pasukan Demokrat Suriah, sekutu A.S untuk melawan ISIS.

credit pic. BBC News

Militer Turki sejauh ini menyerang 153 sasaran militan Kurdi dalam operasinya di wilayah Afrin, Suriah utara, kata seorang tentara dalam sebuah pernyataan pada hari Minggu (21/1). Sasarannya adalah tempat penampungan, tempat persembunyian dan gudang persenjataan yang digunakan oleh militan.

Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan mengatakan bahwa operasi tersebut akan selesai “dalam waktu yang sangat singkat,” dikutip dari CNN, Selasa (23/1).

Turki telah bertindak melawan pasukan Kurdi Suriah sebelumnya. Pemerintah Turki juga mengatakan bahwa pihaknya tidak berniat menyerang Suriah dan pasukannya akan memanggil kembali pasukannya setelah misi selesai.

Pasukan Turki mulai beroperasi di Suriah Utara pada tahun 2016, guna berpartisipasi dalam upaya internasional untuk mengalahkan ISIS yang melakukan kampanye untuk memblokir konvergensi daerah Kurdi.

Gubernur Mehmet Tekinarslan menyatakan, sebelumnya pada hari Minggu (21/1), empat roket yang ditembakkan dari Suriah menabrak kota Kilis di perbatasan Turki, yang mendorong pasukan Turki untuk kembali menembak. Roket melanda dua kantor dan gedung perkantoran, dan sedikitnya melukai satu orang.

Departemen luar negeri AS telah mengajukan permohonan untuk tenang, dan berusaha untuk mengkarakterisasi pembangunan baru tersebut sebagai pelatihan keamanan.

Serangan militer kemungkinan akan meningkatkan ketegangan antara Turki dan Amerika Serikat, yang mendukung dan secara terbuka mempersenjatai milisi Kurdi melawan ISIS.

Pasukan perbatasan yang beranggotakan 30.000 tentara yang didukung oleh AS dari Angkatan Bersenjata Suriah, dan didominasi oleh pejuang YPG, akan dilatih di Manbij.

Pejuang yang didukung Turki dari Tentara Suriah Bebas menembaki posisi YPG Kurdi di desa Um al-Hosh, dekat Afrin, pada 20 Januari 2018/credit pic. Straits Time

BACA JUGA: 

TANGGAPAN RUSIA

Moskow adalah sekutu penting Presiden Suriah Bashar al-Assad hingga sekarang memiliki sebuah kontingen tentara di bandara di pusat Afrin.

Kementerian pertahanan Rusia mengatakan pemicu utama eskalasi tersebut adalah langkah provokatif yang diambil oleh AS untuk mengisolasi daerah dengan populasi mayoritas Kurdi.

Langkah-langkah telah diambil untuk menjamin keamanan prajuritnya di Afrin, dan beberapa tentara telah direlokasi. Kementerian luar negeri Rusia mengatakan bahwa pihaknya memperlakukan perkembangan tersebut dengan “keprihatinan”.

“Kami meminta pihak lawan untuk melakukan mengendalikan ini bersama-sama,” kata Kementerian Luar Negeri Rusia dalam sebuah pernyataan. “Tujuan utama pasukan Rusia yang tersisa di Suriah adalah untuk menjaga gencatan senjata di zona de-eskalasi,” tambahnya, sebagaimana dikutip Straits Time, Selasa (23/1).

Menteri Luar Negeri Turki Mevlut Cavusoglu juga membahas serangan militer dengan Sekretaris Negara AS Rex Tillerson.

Baca juga artikel menarik lainnya terkait kabar internasional atau informasi terkini lain di Kabarnesia.

 

Comments

comments

2 KOMENTAR

Comments are closed.