Kala Perang Suriah Tak Lagi Peduli Intruksi PBB

0
57
bom di Ghouta Timur
Kondisi pasca pernyerangan pemerintah Suriah menggunakan bom di Ghouta Timur (Foto: RTE)

Kabarnesia.com – Serangan udara oleh pemerintah Suriah di sebuah daerah kantong pemberontak terus berlanjut, meski ada sebuah resolusi gencatan senjata yang disahkan oleh Dewan Keamanan PBB pada hari Jumat (23/2) lalu.

Ratusan orang terbunuh dalam seminggu pemboman di daerah kantong Ghouta Timur dekat ibu kota. Dewan Keamanan dengan suara bulat meminta gencatan senjata 30 hari “tanpa penundaan”, namun beberapa wilayah tidak ditutupi.

Pada hari Minggu (25/2), Iran, sekutu pemerintah Suriah, mengatakan akan menargetkan penyerangan yang berada di daerah pinggiran Damaskus yang dikuasai oleh “teroris”. Resolusi PBB disepakati untuk mengizinkan pengiriman bantuan dan evakuasi medis ke wilayah pemberontakan, namun operasi terhadap kelompok pemberontak jihad terbesar itu masih terlalu sulit untuk dilumpuhkan.

phuceng,madu stamina,madu phuceng,sehatshop,stamina pria,madu,jahe merah,purwoceng

Kelompok aktivis di Suriah mengatakan, serangan udara pemerintah terjadi di daerah kantong pemberontak pasca resolusi gencatan senjata dari PBB tersebut disepakati di New York. Sedikitnya tiga orang dilaporkan tewas dalam serangan terakhir, sementara satu kelompok pemberontak di Ghouta Timur mengatakan telah membunuh sejumlah tentara pemerintah.

Observatorium Suriah untuk Hak Asasi Manusia (SOHR) yang berbasis di Inggris mengatakan, serangan tersebut menargetkan pinggiran kota Douma, kota utama di Ghouta Timur. SOHR juga melaporkan beberapa korban di kedua belah pihak, setelah pasukan pemerintah Suriah bentrok dengan pemberontak di wilayah selatan daerah kantong tersebut.

Menurut sumber oposisi dan pro-pemerintah, pada hari Minggu (25/2), pasukan Suriah melancarkan serangan darat untuk memasuki Ghouta Timur, sebagaimana dilaporkan BBC.

Sementara itu, Iran mengatakan, meski akan “mematuhi” gencatan senjata, ia akan melanjutkan operasi militernya di daerah sekitar Damaskus yang tidak ditutup.

“Seperti yang dikatakan teks tersebut, bagian-bagian pinggiran kota Damaskus, yang secara khusus dikendalikan oleh teroris di Nusra Front dan kelompok teroris lainnya, tidak mendapat gencatan senjata,” ujar kepala staf militer Iran, Mayor Jenderal Mohammad Baqeri, dikutip Reuters, Minggu (25/2).

Iran, bersama dengan Rusia, adalah pendukung utama Presiden Suriah Bashar al-Assad dan telah memainkan peran penting dalam memungkinkannya untuk berkuasa lagi di seluruh wilayah Suriah.

Pemberontak yang beroperasi di Ghouta Timur mencakup berbagai faksi, dan pertempuran di antara mereka telah menyebabkan kerugian di masa lalu bagi pemerintahan Suriah.

Rancangan resolusi tersebut mengatakan bahwa gencatan senjata tidak akan berlaku untuk operasi melawan kelompok Negara Islam (IS), al-Qaeda dan Front Nusra. Perlu diketahui, Front Nusra adalah mantan afiliasi al-Qaeda di Suriah yang memimpin aliansi faksi-faksi atas nama Hayat Tahrir al-Sham (HTS).

Pemerintah Suriah mengatakan upayanya untuk merebut kembali Ghouta Timur secara langsung disebabkan kehadiran HTS di sana.

penyerangan pemerintah Suriah
Warga sipil dan anak-anak menjadi korban penyerangan pemerintah Suriah (Foto: RTE)

Seberapa Buruk Situasi di Ghouta Timur?

Sekjen PBB Antonio Guterres mengatakan situasi di Ghouta Timur seperti “neraka di Bumi”.

Pada hari Minggu (25/2), Paus Fransiskus mengatakan bahwa kekerasan tersebut “tidak manusiawi” dan menyerukan penghentian segera terkait adanya pemboman yang mematikan tersebut untuk memungkinkan akses bantuan kemanusiaan bisa masuk ke daerah perang tersebut.

Bom dan peluru laras telah dijatuhkan di daerah tersebut, di mana sekitar 393.000 orang terjebak di sana. Sementara itu, ratusan orang dikatakan tewas dalam serangan oleh pasukan pemerintah sejak hari Minggu (18/2) lalu,  sedangkan pemberontak yang menembaki Damaskus dilaporkan telah membunuh setidaknya 16 warga sipil. Kelompok bantuan juga melaporkan beberapa rumah sakit terkena dampak atas penyerangan tersebut.

BACA JUGA:

Pemerintah Suriah telah berulang kali mengklaim bahwa mereka tidak menargetkan warga sipil dan mengatakan bahwa pihaknya mencoba untuk membebaskan Ghouta Timur dari “teroris”, sebuah istilah yang digunakan untuk menggambarkan militan jihad dan kelompok pemberontak arus utama yang memegang wilayah tersebut. Namun, kenyataannya warga sipil yang berada di sana pun ikut terkena dampak penyerangan dari pemerintah Suriah.

 

PBB serukan gencatan senjata
PBB serukan gencatan senjata pemerintah Suriah ke kawasan pemberontakan Ghouta Timur (Foto: VOA Indonesia)

Jerman dan Perancis Desak Rusia Perintahkan Suriah Lakukan Genjatan Senjata

Para pemimpin Jerman dan Prancis telah mendesak Rusia untuk memberikan “tekanan maksimum” kepada Suriah untuk segera melakukan gencatan senjata, seperti yang diinginkan PBB di negara yang dilanda perang tersebut.

Kanselir Jerman Angela Merkel dan Presiden Prancis Emmanuel Macron menekankan dalam sebuah telpon dengan Presiden Rusia Vladimir Putin bahwa “Sangat penting bahwa resolusi (PBB) dilaksanakan dengan cepat dan komprehensif,” kata juru bicara pemerintah Jerman dalam sebuah pernyataan.

BACA JUGA: Akankah Perang Dunia Ketiga Benar-Benar Terjadi Beberapa Bulan Ke Depan?

Kanselir Jerman Angela Merkel dan Presiden Prancis Emmanuel Macron menekankan dalam sebuah telpon dengan Presiden Rusia Vladimir Putin “bahwa sangat penting bahwa resolusi (PBB) dilaksanakan dengan cepat dan komprehensif,” kata kantor Merkel dalam sebuah pernyataan.

“Mereka meminta Rusia dalam konteks ini untuk melakukan desakan pada rezim Suriah untuk segera menghentikan serangan udara dan pertempuran,” tambahnya.

Pernyataan tersebut mengatakan bahwa Merkel, Macron dan Putin semuanya menyambut baik resolusi PBB tersebut dalam sebuah gencatan senjata setidaknya selama 30 hari agar bantuan kemanusiaan bisa menjangkau daerah perang tersebut.

Merkel dan Mr Macron menekankan bahwa gencatan senjata bisa menjadi “dasar untuk memajukan upaya menuju solusi politik dalam konteks proses perdamaian Jenewa yang dipimpin oleh PBB,” seperti dikutip RTE, Minggu (25/2).

 

Baca juga artikel menarik lainnya terkait Kabar Internasional atau informasi terkini lain di Kabarnesia.

Comments

comments