Ketika Eropa Lebih Dingin Dari Kutub Utara

0
60
Es di Kutub Utara mulai mencair
Es di Kutub Utara mulai mencair (Foto: Republika)

Kabarnesia.com – Pada bulan Desember 2017 lalu, sebuah tim ilmuwan pemerintah A.S. merilis sebuah laporan di Kutub Utara. Kesimpulan utama mereka saat itu adalah sesuatu yang nahas, komprehensif, dan suram.

Kutub Utara, kata mereka, “Tidak menunjukkan tanda untuk kembali menjadi wilayah yang beku selama beberapa dekade terakhir.” Dan sekarang laporan tersebut menjadi kenyataan yang mengenaskan.

Meskipun matahari belum bersinar di Kutub Utara selama lebih dari empat bulan, kawasan ini saat ini dicekam oleh kehancuran bersejarah yang memecahkan rekor.

phuceng,madu stamina,madu phuceng,sehatshop,stamina pria,madu,jahe merah,purwoceng

Pada hari Minggu, suhu di Kutub Utara naik sampai titik lelehnya, dan bagian-bagian Kutub Utara lainnya lebih dari 50 derajat Fahrenheit lebih hangat dari biasanya.

Tapi tidak seperti Kutub Utara, negara-negara di Eropa malah mencapai titik kebekuan tertinggi yang pernah dirasakan bahkan setelah berabad-abad lamanya.

Pada akhir pekan, salju dan suhu minus 5 derajat Celcius (23 derajat Fahrenheit) telah melanda Inggris, sementara kota-kota seperti Roma di Italia selatan telah berubah menjadi ‘wonderland’ musim dingin. Moskow juga mengalami whiteout atau hujan salju terbesar abad ini.

BACA JUGA:

Pusaran Kutub Utara

Menurut sebuah grafik di sebuah laporan ilmiah oleh para ilmuwan Perserikatan Bangsa-Bangsa, yang diperoleh oleh Reuters, menggambarkan, “Risiko Arktik yang bebas es di musim panas sekitar 50 persen atau lebih tinggi dengan pemanasan antara 1,5 dan 2,0 derajat.”

Organisasi Meteorologi Dunia mengatakan dinginnya di Eropa disebabkan oleh Pemanasan Stratosfer Mendadak di atas Kutub Utara yang menyebabkan perpecahan di pusaran kutub, yaitu udara dari daerah dingin di atas Kutub Utara dan mengalihkan udara dingin tersebut ke daerah selatan.

Menyoal data temuan itu, pemanasan global mungkin bisa dijadikan salah satu penyebabnya.

“Sekarang ada bukti besar dan kuat bahwa perubahan besar yang kita lihat terkait dengan perubahan iklim,” kata Kathryn Adamson, Dosen Senior Geografi Fisik, Manchester Metropolitan University. “Perubahan di salah satu bagian dari sistem atmosfir samudra bisa berdampak besar pada yang lain.”

Suasana hangat pada akhirnya berkontribusi terhadap meningkatnya frekuensi badai ini, dan pelambatan pusaran polar yang konsisten.

Menyusutnya es laut mengakibatkan hilangnya habitat dan mangsa hewan seperti beruang kutub dan anjing laut. Banyak juga yang khawatir bahwa es yang kurang akan membuat Kutub Utara rentan terhadap pelayaran yang meningkat, dan karena itu lebih banyak pernambangan dan penangkapan ikan.

Dengan pola sirkulasi dan cuaca di Kutub Utara yang berjalan mundur, ini adalah saat yang sangat mengkhawatirkan bagi para peneliti.

Baca juga artikel menarik lainnya terkait Kabar Internasional atau informasi terkini lain di Kabarnesia.

Comments

comments