Rohingya, Aung San Suu Kyi, dan Pencopotan Gelar Pejuang HAM

1
38
Penghargaan sebagai pejuang HAM yang diberikan kepada Aung San Suu Kyi dicopot
Penghargaan sebagai pejuang HAM yang diberikan kepada Aung San Suu Kyi dicopot (Foto: The Times of Israel)

Kabarnesia.com –¬†Pada tahun 2012, Museum Holocaust Amerika Serikat mempresentasikan dan memberi gelar Aung San Suu Kyi dengan penghargaan Elie Wiesel pertama atas usaha pro-demokrasinya di bawah pemerintahan militer selama beberapa dekade.

Hadiah diberikan kepada orang-orang yang menjunjung tinggi visi dunia, di mana orang menghadapi kebencian, mencegah genosida (pembantaian dengan maksud untuk memusnahkan) dan mempromosikan martabat manusia.

Penerima penghargaan lainnya termasuk Kanselir Jerman Angela Merkel dan Anggota Parlemen Demokrat dan Aktivis Hak Sipil John Lewis.

phuceng,madu stamina,madu phuceng,sehatshop,stamina pria,madu,jahe merah,purwoceng

Dia dipandang sebagai kekuatan di balik Presiden Htin Kyaw, teman dekat dan sekutu. Dicegah oleh hukum Burma untuk jabatan politik, dia memegang gelar Penasihat Negara dan Menteri Luar Negeri.

Tapi, pada hari Rabu (7/3) lalu, Museum Holocaust A.S. mengumumkan di situs resmi mereka, bahwa mereka telah mencabut penghargaan hak asasi manusia yang diberikan kepada wanita tersebut.

Museum tersebut mengirimkan suratnya pada tanggal 6 Maret 2018 ke Suu Kyi, dikirim melalui Aung Lynn, Duta bBsar Burma untuk Amerika Serikat. Namun, Kedutaan Besar Burma tidak segera menanggapi permintaan dan isi dari surat tersebut yang berakhir pada pencabutan gelar.

Surat tersebut bertuliskan, “Dalam beberapa tahun terakhir, Museum telah memantau dengan seksama kampanye militer melawan Rohingya dan tanggapan Anda terhadapnya.”

“Seiring serangan militer terhadap Rohingya yang dimulai pada 2016 dan 2017, kami berharap Anda seperti yang telah diharapkan oleh banyak orang karena komitmen Anda terhadap martabat manusia dan hak asasi manusia universal, akan melakukan sesuatu untuk mengutuk dan menghentikan tindakan militer.”

Surat tersebut berlanjut, mendesaknya untuk menggunakan posisinya guna bekerja sama dengan upaya internasional untuk membuktikan kebenaran tentang kekejaman yang dilakukan di Negara Bagian Rakhine dan mendapatkan pertanggungjawaban dari para pelaku, dan untuk memimpin perubahan pada undang-undang Birma, yang membuat kebanyakan orang Rohingya tidak memiliki kewarganegaraan.

BACA JUGA:

Pembantaian di negaranya sendiri

Sejak Agustus, Myanmar telah menyaksikan kekerasan sektarian terburuknya selama bertahun-tahun. Pasukan keamanan Burma dan gerilyawan Muslim minoritas Rohingya menuduh satu sama lain dan membakar desa-desa hingga melakukan eksekusi massal.

Awal bulan ini, Perserikatan Bangsa-Bangsa menuduh Myanmar meluncurkan kampanye teror dan kelaparan paksa terhadap orang-orang Rohingya.

Beberapa pejabat pemerintah, kelompok hak asasi manusia dan organisasi internasional telah memperingatkan bahwa serangan militer ini bertujuan untuk ‘pembersihan’ sebuah etnis.

Menurut sebuah laporan yang diterbitkan oleh Anggota Parlemen ASEAN untuk Hak Asasi Manusia (APHR) awal bulan ini, lebih dari 40.000 orang telah “hilang” dan diperkirakan tewas setelah dipaksa untuk bermigrasi ke negara tetangga Bangladesh.

“Tingkat keparahan kekejaman dalam beberapa bulan terakhir menuntut Anda menggunakan otoritas moral Anda untuk mengatasi situasi ini,” tulis surat yang dikirimkan Museum kepada Aung San Suu Kyi tersebut.

Baca juga artikel menarik lainnya terkait Kabar Internasional atau informasi terkini lain di Kabarnesia.

phuceng,minyak lintah,minyak lintah CHC,mesra perkasa

Comments

comments

1 KOMENTAR

Comments are closed.