Permainan Psikolog Otak dalam Menerima Berita Bohong

0
126
Berita bohong
Berita bohong atau fake news bisa pengaruhi otak (Ilustrasi: Talon News)
phuceng,madu stamina,madu phuceng,sehatshop,stamina pria,madu,jahe merah,purwoceng

Kabarnesia.com – Selama dua tahun terakhir, berita bohong atau yang biasa kita sebut sebagai fake news, memang sering menjadi topik berita nyata yang dalam artian banyak orang salah memahami dan mengira bahwa itu adalah berita berbasis fakta.

Tetapi, meskipun istilah “berita palsu” mencerminkan momen politik kita yang bermasalah, fenomena itu bukanlah hal baru. Banyak dari sekian ribu artikel yang palsu tersebar luas di masyarakat mempertimbangkan peran media sosial yang tinggi dalam penyebarannya.

Sesuatu yang kurang terkenal, adalah berita palsu juga telah menjadi topik penyelidikan ilmiah khususnya untuk kesehatan psikologi.

phuceng,minyak lintah,minyak lintah CHC,mesra perkasa

Untuk membantu menjelaskan kerentanan kita terhadap berita palsu, Adam Waytz, seorang profesor manajemen dan organisasi di Kellog School menunjuk ke dua konsep psikologis yang terkenal. Yang pertama adalah “pemikiran termotivasi,” gagasan bahwa kita termotivasi untuk percaya apa pun yang menegaskan pendapat kita.

“Contohnya, jika Anda termotivasi untuk percaya hal-hal negatif tentang Hillary Clinton, Anda lebih cenderung mempercayai kisah-kisah memalukan tentangnya yang mungkin tidak benar,” kata Waytz. “Seiring waktu, pemikiran yang termotivasi dapat mengarah pada konsensus sosial yang palsu.”

Konsep kedua adalah “realisme naif,” kecenderungan kita untuk percaya bahwa persepsi kita tentang realitas adalah satu-satunya pandangan yang akurat, dan bahwa orang-orang yang tidak sependapat dengan kita tidak tahu apa-apa, irasional, atau bias.

Realisme naif membantu menjelaskan jurang dalam wacana politik kita, yaitu bukannya tidak setuju dengan lawan kita, kita mendiskreditkan mereka. Itu juga mengapa beberapa orang dengan cepat melabeli laporan yang menantang pandangan dunia mereka sebagai palsu.

BACA JUGA:

Banyak dari kerentanan kita terhadap berita palsu berkaitan dengan bagaimana otak kita disambungkan. Pada dasarnya manusia suka berpikir keyakinan politik sesuai dengan kebenaran yang lebih tinggi, tetapi pada kenyataannya mereka mungkin kurang kuat dari apa yang kita percayai selama ini.

Sampai batas tertentu, kata Waytz, keyakinan politik kita sebernarnya tidak begitu berbeda dari preferensi kita tentang musik atau makanan.

Waytz juga menunjukkan bahwa tingkat perselisihan politik ini mungkin tidak berlangsung selamanya, setidaknya ketika sampai pada masalah yang memengaruhi kehidupan sehari-hari orang lain.

Tetapi, menjembatani kesenjangan antara dua pandangan yang berlawanan dari realitas mungkin memerlukan keterlibatan yang lebih dalam dengan kumpulan data dan sumber berita yang lebih beragam di luar apa yang Twitter dan Facebook dapat tawarkan.

“Bahaya terbesar sebenarnya bukan berita palsu tetapi perpecahan sebuah kelompok atau suku,” kata Waytz. “Depolarisasi hanya terjadi ketika seseorang memiliki keberanian untuk berbicara menentang suku mereka sendiri.” (Reporter: Muthia Safira Mawardha)

Baca juga artikel menarik lainnya terkait Kabar Politik atau informasi terkini lain di Kabarnesia.

levidio,youtuber,youtube,powerpoint

Comments

comments