Campur Tangan SCL Dalam Kampanye Pemilihan Presiden Indonesia

1
155
pemilu indonesia
Pemilihan Umum Presiden di Indonesia (Photo: Firdia Lisnawati)
phuceng,madu stamina,madu phuceng,sehatshop,stamina pria,madu,jahe merah,purwoceng

Kabarnesia.com – Pada bulan-bulan penuh gejolak setelah protes dan kerusuhan yang melanda Jakarta, yang akhirnya menjatuhkan Presiden Indonesia ke-2, Suharto pada Mei 1998, seorang konsultan politik Inggris tiba di tempat kejadian.

Indonesia pun terhuyung-huyung dari krisis ekonomi Asia yang dimulai pada tahun 1997 dan juga mengucapkan selamat tinggal kepada seorang pemimpin yang telah memegang kekuasaan selama tiga dekade.

SCL Group (Strategic Communication Laboratories), perusahaan induk dari Cambridge Analytica (CA), mengatakan bahwa mereka datang ke negara Asia Tenggara yang paling padat penduduknya atas perintah “kelompok pro-demokrasi” untuk membantu negara-negara tersebut dengan kampanye nasional reformasi politik dan demokratisasi.

phuceng,minyak lintah,minyak lintah CHC,mesra perkasa

Menurut dokumen perusahaan yang diakses oleh Quartz, tugas perusahaan Inggris tersebut adalah mensurvei ribuan orang Indonesia, mengelola komunikasi untuk politisi dan, yang paling aneh, mengorganisir demonstrasi besar di universitas untuk membantu mahasiswa ‘melepaskan uap’ di kepala mereka.

Dokumen-dokumen yang dikeluarkan sekitar 2013, juga menyoroti peran SCL di negara-negara terdekat. Di Thailand, perusahaan mengklaim telah menghabiskan sembilan bulan survei pemilih sebelum melakukan intervensi atas nama beberapa partai politik.

SCL kemudian bermetamorfosis menjadi CA (Cambridge Analytica), yang diduga menggunakan data dari sekitar 50 juta pengguna Facebook untuk mempengaruhi pemilih selama kampanye presiden Donald Trump 2016.

Kemampuan yang diakui untuk mempengaruhi sejumlah besar orang tampaknya telah diuji dan diasah satu setengah dekade sebelumnya, dalam pergolakan politik di Asia Tenggara.

Dokumen-dokumen itu memberikan wawasan yang lebih rinci tentang cara kerja SCL melampaui apa yang mantan karyawan, seperti Christopher Wylie, telah jelaskan dalam wawancara dan kesaksian. Secara total, SCL mengklaim telah bekerja pada lebih dari 100 kampanye pemilihan di 32 negara.

BACA JUGA:

Berakhirnya Era Soeharto

Di tengah kekerasan yang menandai berakhirnya pengunduran diri Soeharto pada tahun 1998, SCL ditugaskan untuk ‘mengelola’ kemarahan masyarakat yang semakin meningkat dalam pemerintahan baru Presiden BJ Habibie.

Untuk lebih memahami sentimen dari 220 juta orang Indonesia, yang tersebar di 33 provinsi, perusahaan ini meluncurkan survei di seluruh negeri yang memiliki 72.000 responden. Dokumen-dokumen tersebut menguraikan temuan-temuan yang mempunyai kesimpulan:

Sudah jelas dari penelitian bahwa banyak dari kelompok orang dari beberapa “universitas” dan notabenenya lebih muda, merupakan penghasut utama dari kerusuhan dan sebaliknya generasi yang lebih tua lelah dengan pembangkangan yang begitu lama.

Akibatnya, diputuskan untuk fokus pada segmen penduduk berumur dari 18-25 tahun baik pria maupun wanita yang juga sebenarnya bertujuan untuk mengalihkan frustrasi mereka dari kerusuhan sipil.

SCL kemudian memusatkan penelitiannya di sekitar sekolah menengah dan universitas lokal, dan menemukan bahwa peningkatan pembangkangan sebagian dipicu oleh meningkatnya kehadiran polisi dan pasukan militer di jalanan.

Akhirnya, mereka memutuskan untuk mensponsori “wahana protes terorganisir” untuk menarik siswa dan menjauhkan mereka dari demonstrasi kekerasan. Ini rupanya dilakukan dengan kerja sama pemerintah Indonesia, yang awalnya memiliki beberapa keraguan tentang pertemuan besar tersebut.

SCL mengklaim metodenya berhasil, yang secara dramatis mengurangi kerusuhan sipil, meyakinkan Habibie untuk mundur, dan mengarah ke pemilihan yang membawa Abdurrahman Wahid atau Gusdur berkuasa pada 1999.

Dokumen-dokumen tersebut tidak menyebutkan secara spesifik siapa yang bekerja di SCL ketika berada di Indonesia, tetapi mereka menunjukkan bahwa perusahaan tersebut mengelola kampanye pemilihan Partai Kebangkitan Nasional yang menaungi Gusdur.

Sebenarnya, ada kesaksian satu baris dari Presiden ke-4 Indonesia tersebut ia mengatakan, “Saya berhutang budi kepada SCL untuk manajemen strategis dari keberhasilan pemilihan saya.”

Namun, ada keraguan tentang efektivitas kerja SCL. Dalam kepemimpinan Gusdur pun demikian. Ia diberhentikan pada tahun 2001 setelah memimpin pemerintahan yang kacau dan gagal dalam menstabilkan negara.

Semua upaya SCL termasuk dilaporkan mendirikan pusat operasi licik dengan 25 komputer dan 16 monitor layar datar ternyata tidak banyak membantu situasi Gusdur.

Di Indonesia, ternyata SCL mendirikan sebuah proyek penelitian untuk mengumpulkan data dari semua 79 daerah pemilihan, menggunakan staf lebih dari 1.200 yang bekerja selama sembilan bulan.

Tujuannya adalah untuk menilai motivasi yang mendasari pemilih dan mengidentifikasi bagaimana membuka konstituensi tertentu untuk menerima perubahan dalam perilaku pemilihan suara.

Baca juga artikel menarik lainnya terkait Kabar Nasional atau informasi terkini lain di Kabarnesia.

levidio,youtuber,youtube,powerpoint

Comments

comments

1 KOMENTAR

Comments are closed.