Kearifan Bung Karno Untuk Islam dan Puisi Sukmawati

0
346
soekarno
Presiden Soekarno mencium Sukmawati (Foto: Berita Pangkep)
phuceng,madu stamina,madu phuceng,sehatshop,stamina pria,madu,jahe merah,purwoceng

Kabarnesia.com – Seperti yang kita ketahui bersama, Soekarno adalah seorang Muslim. Namun, ternyata Soekarno bukanlah lahir dari keluarga yang kental nuansa Islamnya.

Sang ayahanda, Raden Sukemi Sosrodihardjo, lebih dikenal sebagai penganut kepercayaan teosofi Jawa atau Kejawen, meskipun secara formal beragama Islam. Sementara ibunda Soekarno, Idayu, bukan penganut Islam. Ibunda Bung Karno adalah seorang pemeluk  agama Hindu-Bali.

Seiring dengan waktu, pemahaman Soekarno terhadap Islam secara lebih mendalam  pun muncul tatkala Soekarno menginjak usia remaja dan tinggal di kediaman H.O.S Tjokroaminoto, tokoh Sarekat Islam (SI), di Surabaya.

phuceng,minyak lintah,minyak lintah CHC,mesra perkasa

Melalui berbagai diskusi dan bacaan, Soekarno mulai mengenal Islam secara intensif ketika itu. Kesadaran diri sebagai seorang Muslim datang beriringan dengan kesadaran anti kolonialisme dalam diri Soekarno di masa remajanya.

Tetapi, tetap saja cakrawala berpikir Soekarno tidak terbatas pada satu paradigma religiusitas ke-Islaman saja. Ia juga menyerap ajaran-ajaran teologis lainnya yang hidup dalam alam pikiran masyarakat nusantara, dan itu makin memperkaya keyakinannya akan Sang Khalik.

Meskipun begitu, Soekarno dikenal sebagai seorang Muslim yang modernis dan rasionalis. Ia secara tegas menganjurkan umat Islam untuk menyerap perkembangan teknologi dan ilmu pengetahuan (IPTEK) meskipun bukan produk peradaban Islam.

Oleh karena itu pula, Soekarno sangat menentang kultur taklid dalam umat Islam. Taklid merupakan pola pengajaran agama Islam tanpa referensi yang logis dan mudah dipahami.

Ketuhanan dalam Pancasila

Pancasila merupakan dasar negara Indonesia yang telah disepakati dan final. Pancasila digali oleh Presiden pertama RI Sukarno yang kemudian dikemukakannya dalam sidang BPUPKI pada 1 Juni 1945.

Pancasila hakikatnya merupakan perjanjian luhur antara negara dengan rakyat dan antara rakyat dengan rakyat. Pancasila tidak mungkin bertentangan dengan Al-Quran, kecuali penjabarannya dijauhkan dari nilai-nilai agama. Sejatinya Pancasila akan hidup subur dengan naungan nilai-nilai agama.

Sebagai seorang Muslim, pemikiran Bung Karno pun tak lepas dari ajaran Alquran dan Hadis Nabi Muhammad SAW. Pun ketika dia berpidato tentang Pancasila di gedung Chuo Sangi In kala itu.

“Allah Subhanahuwata’ala memberi pikiran kepada kita agar dalam pergaulan kita sehari-hari, kita selalu bergosok, supaya ke luar daripadanya beras, dan beras itu akan menjadi nasi Indonesia yang sebaik-baiknya. Terimalah Saudara-saudara, prinsip nomor tiga, yaitu permusyawaratan!” kata Bung Karno.

Dalam kaitan ini baik digarisbawahi pandangan Mr. Sjafruddin Prawiranegara, tanpa Islam mustahil nasionalisme terbentuk cepat di Indonesia. Umar Wirahadikusumah semasa menjabat Wakil Presiden RI menandaskan, Pancasila tanpa agama tidak mempunyai makna apa-apa.

BACA JUGA:

Puisi yang akhirnya melecehkan Islam dan Pancasila yang terseret di dalamnya

Sukmawati Soekarno putri membuat publik Indonesia geger dan banyak sekali yang menyayangkan sikapnya sebagai ‘anak’ dari seorang Bung Karno.

Sukmawati membuat geger lantaran ia membacakan sebuah puisi yang dinilai kontroversial dan melecehkan Islam. Puisi karyanya tersebut ia bacakan dalam pagelaran peragaan busana Anne Avantie pada Kamis (29/03).

Beginilah isi dari puisi tersebut :

Ibu Indonesia

Aku tak tahu Syariat Islam
Yang kutahu sari konde ibu Indonesia sangatlah indah
Lebih cantik dari cadar dirimu
Gerai tekukan rambutnya suci
Sesuci kain pembungkus ujudmu
Rasa ciptanya sangatlah beraneka
Menyatu dengan kodrat alam sekitar
Jari jemarinya berbau getah hutan
Peluh tersentuh angin laut

Lihatlah ibu Indonesia
Saat penglihatanmu semakin asing
Supaya kau dapat mengingat
Kecantikan asli dari bangsamu
Jika kau ingin menjadi cantik, sehat, berbudi, dan kreatif
Selamat datang di duniaku, bumi Ibu Indonesia

Aku tak tahu syariat Islam
Yang kutahu suara kidung Ibu Indonesia, sangatlah elok
Lebih merdu dari alunan azan mu
Gemulai gerak tarinya adalah ibadah
Semurni irama puja kepada Illahi
Nafas doanya berpadu cipta
Helai demi helai benang tertenun
Lelehan demi lelehan damar mengalun
Canting menggores ayat ayat alam surgawi

Pandanglah Ibu Indonesia
Saat pandanganmu semakin pudar
Supaya kau dapat mengetahui kemolekan sejati dari bangsamu
Sudah sejak dahulu kala riwayat bangsa beradab ini cinta dan hormat kepada ibu Indonesia dan kaumnya

Sementara itu Sukmawati membantah bahwa puisinya itu bermuatan suku agama ras atau antargolongan (SARA). “Itu suatu realita tentang Indonesia,” katanya seperti dilansir dari Detikcom, Rabu (4/4).

Keluarga besar Presiden Pertama RI, Soekarno sendiri angkat bicara terkait puisi yang dibacakan Sukmawati. Guntur Soekarnoputra memastikan seluruh keluarga Bung Karno sejak kecil dididik dan diajarkan keagamaan sesuai syariat Islam.

“Itu pendapat pribadi Sukmawati, tidak ada urusannya dengan pandangan dan sikap keluarga,” kata Guntur. Wakil Ketua DPR RI Fahri Hamzah juga angkat bicara. Fahri menilai Sukmawati keliru memaknai apa yang dibacakan.

Aneh memang jika dipikir-pikir kembali, bagaimanapun Bung Karno mendirikan dan membebaskan Indonesia menggunakan syariat-syariat keagamaan, bukan hanya berbicara ini-itu dengan lantang di depan ribuan orang banyak.

Pancasila yang merupakan dasar Indonesia berdiri juga berasal dari asas ketuhanan. Jika Bung Karno masih ada dan mendengarkan puisi yang katanya dipersembahkan untuk Indonesia, akankah Bung Karno setuju atau malah sebaliknya ?

Baca juga artikel menarik lainnya terkait Kabar Nasional atau informasi terkini lain di Kabarnesia.

 

zeepro,propolis

Comments

comments