Hartono Bersaudara Mulai Kembangkan Bisnis Telekomunikasi

2
4241
hartono bersaudara
Hartono bersaudara, pemilik PT Djarum mulai melirik bisnis bidang telekomunikasi (Foto: Money ID)

Kabarnesia.com – Dua bersaudara miliarder Indonesia Michael Hartono dan Budi Hartono, yang membangun kekayaan mereka dengan menjual rokok dan menyediakan layanan perbankan, kini mengalihkan fokus mereka pada telekomunikasi.

Menurut Wakil Presiden Direktur Adam Gifari, PT. Sarana Menara Nusantara, yang didukung oleh Hartaros Grup Djarum, membuka akuisisi untuk mengkonsolidasikan posisi kepemimpinannya dalam bisnis telekomunikasi.

PT. Sarana memiliki uang tunai atau setara kas sekitar 2,3 triliun rupiah (167 juta dolar) untuk setiap pembelian, katanya.

phuceng,madu stamina,madu phuceng,sehatshop,stamina pria,madu,jahe merah,purwoceng

Peningkatan jumlah pengguna smartphone di Indonesia dan munculnya beberapa perusahaan berbasis layanan online atau e-commerce, seperti PT. Tokopedia dan PT. Go-Jek Indonesia mendorong permintaan untuk data berkecepatan tinggi di negara keempat terpadat di dunia ini.

Negara-negara kepulauan tertinggal, seperti Cina dan India dalam kepadatan menara, menawarkan peluang pertumbuhan bagi perusahaan lokal. PT. Sarana juga membeli perusahaan lain, yaitu PT. Komet Infra Nusantara bulan lalu, yang menjadikan hal tersebut sebagai pembelian kedua dalam dua tahun terakhir.

Grup Djarum memiliki lebih dari 50 persen saham dari PT. Sarana dan perusahaan yang berbasis di Kudus, juga menghitung T. Rowe Price Group Inc. dan Lone Pine Capital LLC sebagai pemegang saham.

Menurut Bloomberg Billionaires Index, Hartono bersaudara, melalui kepemilikan mereka di PT. Bank Central Asia dan bisnis tembakau, bersama-sama memiliki nilai hampir 25 miliar.

PT. Sarana akan membayar 1,4 triliun rupiah kepada Komet Infra, yang akan menambah sekitar 1.400 menara dan 2.000 penyewa. Perusahaan ternyata juga mengakuisisi bisnis menara PT XL Axiata dua tahun lalu.

BACA JUGA:

Bisnis yang menjanjikan

Menurut PT. Ciptadana Sekuritas Asia, bisnis telekomunikasi di Indonesia menawarkan margin pendapatan lebih dari 85 persen sebelum bunga, pajak, depresiasi dan amortisasi, hasil dari larangan investasi asing langsung di sektor ini dan biasanya kontrak sewa jangka panjang dengan penyedia layanan telepon seluler.

Prospek untuk perusahaan telekomunikasi tetap positif, karena permintaan untuk layanan internet akan terus tumbuh, jelas Niko Margaronis, seorang analis di Ciptadana.

Menurut data dari asosiasi penyedia layanan internet, pengguna internet dalam ekonomi terbesar di Asia Tenggara akan membengkak menjadi sebanyak 70 persen dari populasi pada tahun 2019 dari hampir 55 persen, atau 143 juta pengguna, tahun lalu.

Negara ini memiliki sekitar 100.000 menara untuk lebih dari 250 juta penduduk, sementara Cina memiliki 1,95 juta unit untuk 1,4 miliar orang.

“Secara matematis rasionya harus mencapai level itu. Tetapi kita perlu mempertimbangkan fitur geografis Indonesia. Di beberapa daerah pegunungan dan dengan jumlah pulau, kita mungkin membutuhkan lebih banyak menara untuk menutupi populasi kita,” kata Indra Gunawan, seorang kepala bagian penjualan dan pemasaran di PT. Profesional Telekomunikasi Indonesia.

“Permintaan untuk data seluler akan mendorong kebutuhan kapasitas, dan akan menjadi sarana pertumbuhan kami di masa depan,” tutupnya.

Baca juga artikel menarik lainnya terkait Kabar Ekonomi atau informasi terkini lain di Kabarnesia.

 

phuceng,minyak lintah,minyak lintah CHC,mesra perkasa

Comments

comments

2 KOMENTAR

Comments are closed.