Kala Miras Oplosan Jadi Krisis Moral di Bandung

1
28
miras oplosan
Bandung sedang dilanda krisis minuman keras oplosan yang menewaskan puluhan orang (Foto: SindoNews)

Kabarnesia.com –¬†Krisis minuman keras paling mematikan di Indonesia dalam beberapa tahun telah menewaskan sedikitnya 90 orang, kata pihak berwenang pada Selasa (10/3), yang akhirnya mendorong Bandung untuk menyatakan keadaan darurat.

Polisi memperingatkan jumlah korban bisa meningkat lagi ketika mereka melakukan razia di kota-kota di seluruh negara mayoritas Muslim terbesar di dunia ini, untuk menangkap pedagang yang menjual miras oplosan.

Sebagian besar orang Indonesia mempraktekkan bentuk moderat Islam, tetapi nyatanya alkohol masih tersedia di kota-kota besar, dan karena pajak yang tinggi membuatnya mahal dan pekerja yang dibayar rendah terkadang beralih ke alkohol buatannya sendiri yang murah tetapi berpotensi berbahaya.

Pada tahun 2016, 36 orang meninggal di Jawa Tengah setelah meminum miras lokal. Wakil Kepala Kepolisian Nasional Muhammad Syafruddin mengatakan, pengujian laboratorium terhadap alkohol pasar gelap yang diukur oleh polisi dalam beberapa penggerebekan di Jakarta menunjukkan itu mengandung metanol.

Pekerja konstruksi Andri Rizal, yang dirawat di rumah sakit di dekat ibu kota Jawa Barat, Bandung mengatakan, dia dan tiga temannya jatuh sakit setelah minum arak yang dicampur dengan minuman ginseng yang memabukkan, yang dia beli seharga Rp.13.000. Harga yang sangat murah untuk sebuah alkohol.

Setidaknya, sembilan orang telah ditangkap pada hari Selasa (10/4), tetapi pihak berwenang masih mencari distributor utama dari minuman keras bajakan yang biasanya dijual di ‘bawah meja’ oleh pedagang kaki lima, yang kadang-kadang membuat ramuan beracun itu sendiri.

BACA JUGA:

Seorang tersangka mengaku mengonsumsi obat pengusir nyamuk campuran, alkohol murni, dan obat batuk ke dalam minuman buatannya sendiri. Dalam kasus lain, seorang pedagang yang ditangkap mengatakan dia mencampurkan alkohol murni dengan Coca-Cola dan minuman energi, kata polisi.

Serangkaian kematian membuat Bandung, yang juga merupakan salah satu kota besar di Indonesia dengan mayoritas Muslim, dan daerah sekitarnya mendeklarasikan keadaan darurat pada hari Selasa (10/4) lalu.

“Ini adalah panggilan waspada bagi kita semua,” kata juru bicara Polisi Nasional Setyo Wasisto.

Pada 2015, Indonesia melarang penjualan alkohol di sebagian besar toko-toko dan toko-toko kecil di luar hotspot liburan Bali, meskipun itu masih tersedia di supermarket, bar dan hotel di sebagian besar negara.

“Ketika penjualan alkohol dilarang (di toko-toko), penjual ‘bawah tanah’ mengambil kesempatan untuk memenuhi permintaan,” kata dosen Universitas Indonesia Devie Rahmawati, dikutip dari AFP, Kamis (12/4).

“Mereka yang memiliki daya beli yang kuat dan berpenghasilan tinggi tidak akan terpengaruh tetapi orang berpenghasilan rendah mencari alternatif,” tambahnya.

“Ini adalah fenomena gila,” kata Muhammad Syafruddin, sambil berdiri di depan tujuh tersangka terborgol dalam konferensi pers. “Jika kita membiarkannya berlanjut, itu akan merugikan bangsa,” tandasnya.

Kejadian ini mengarah ke spekulasi bahwa satu distributor besar bertanggung jawab. Namun, Satuan Polisi Jawa Barat mengatakan mereka tidak menemukan bukti untuk mendukung itu.

Baca juga artikel menarik lainnya terkait Kabar Daerah atau informasi terkini lain di Kabarnesia.

Comments

comments