Raden Ajeng Kartini dan Gerakan Feminisme Indonesia

1
139
kartini
Memperingati Hari Kartini (Foto: Harian Jogja)

Semestinya bukan lagi harus berteriak tentang hak kesamarataan perempuan dan laki-laki, tapi berteriak tentang pengembalian budaya Indonesia yang sempat hilang terjajah.

Kabarnesia.com – Presiden Pertama Republik Indonesia Soekarno telah menetapkan tanggal 21 April sebagai peringatan Hari Kartini di Indonesia. Dalam Keputusan Presiden Republik Indonesia No.108 Tahun 1964, tanggal 2 Mei 1964, Soekarno resmi menetapkan Raden Ajeng Kartini sebagai salah satu Pahlawan Nasional, yang kemudian hari lahirnya diperingati setiap tahun.

Kartini merupakan anak dari keluarga priayi atau seorang bangsawan Jawa, yang lahir dari istri pertama, namun bukan istri utama Raden Mas Adipati Ario Sosroningrat. Ibunya, M.A Ngasirah, yang merupakan putri dari Nyai Haji Siti Aminah dan Kyai Haji Madirono, bukanlah bangsawan tinggi, sehingga suaminya menikah lagi dengan Raden Adjeng Woerjan (Moerjam), keturunan langsung dari Raja Madura saat itu.

phuceng,madu stamina,madu phuceng,sehatshop,stamina pria,madu,jahe merah,purwoceng

Kartini yang merupakan anak kelima dari 11 saudara kandung dan tiri, adalah anak wanita tertua yang sudah pandai bidang bahasa. Di usianya yang ke-12 tahun, Kartini dibolehkan belajar di ELS (Europese Lagere School). Di sanalah ia kemudian banyak belajar bahasa Belanda.

Karena kepiawannya dalam berbahasa Belanda, ia kemudian mencoba menulis surat kepada teman-teman korespondensi yang berasal dari Belanda. Salah satunya adalah surat yang ia tulis untuk Rosa Abendanon, yang sangat mendukung Kartini kala itu.

Memiliki kepiawaian dalam bidang bahasa, dan ketertarikan dalam menulis, Kartini kemudian rajin membaca koran-koran, majalah, dan buku-buku Eropa. Saat itulah ketertarikannya dalam kemajuan berpikir masyarakat Eropa, memantik harapannya untuk bisa memajukan perempuan pribumi, karena ia memandang perempuan pribumi kala itu berada dalam status sosial yang rendah.

Dari banyaknya bacaan yang mengandung ilmu pengetahuan dan kebudayaan yang berat, salah satu majalah wanita Belanda De Hollandsche Lelie, membuat Kartini tertaik mengirimkan tulisannya yang beberapa kali dimuat di majalah tersebut. Dalam setiap tulisannya, ia tak hanya berkisah tentang emansipasi wanita, namun juga tulisan-tulisan sosial umum.

Meski demikian, Kartini lebih tertarik dan condong terhadap apa yang dikenal saat ini, “Emansipasi Wanita” yang menurutnya wanita harus memiliki kebebasan, otonomi, dan persamaan hukum yang sederajat dengan apa yang didapat pria.

Mr. J.H Abendanon, setelah wafatnya Kartini pada 17 September 1904 di usia 25 tahun, mengumpulkan surat-surat yang pernah Kartini tulis kepada teman-temannya di Eropa untuk dibukukan. Abendanon yang saat itu menjabat sebagai Menteri Kebudayaan, Agama, dan Kerajinan, memberikan judul buku itu dengan nama “Door Duisternis tot Licht” atau secara harfiah berarti “Habis Gelap Terbitlah Terang”.

Pemikiran Kartini tentang kemerdekaan kaum wanita, atau yang sering disebut sebagai emansipasi wanita, membuat pandangan masyaraka Belanda terhadap perempuan pribumi berubah dan juga membuat tokoh-tokoh kebangkitan nasional terinspirasi. W.R Soepratman kemudian menciptakan lagu Ibu Kita Kartini sebagai penghargaan atas jasa Kartini dalam memberangus rendahnya status sosial perempuan pribumi masa itu.

BACA JUGA:

Gerakan Feminisme di Indonesia

“Akan datang juga kiranya keadaan baru dalam dunia bumiputra, kalau bukan oleh karena kami, tentu oleh orang lain, kemerdekaan perempuan telah terbayang-bayang di udara, sudah ditakdirkan…” (Surat R.A. Kartini kepada temannya Zeehandelaar, 9 Januari 1901).

Dari surat Kartini tersebut seolah menggambarkan visi wanita Indonesia yang jauh dari masanya. Visi yang lebih maju, dan visi yang saat ini sedang digemborkan banyak kalangan wanita.

Feminisme, secara umum, merupakan sebuah gerakan yang menuntut emansipasi atau kesetaraan hak antara wanita dan pria. Secara luas, pendefinisian feminisme memiliki arti advokasi kesetaraan hak-hak perempuan dalam hal politik, ekonomi, dan sosial.

Sebelumnya, pada akhir abad ke-18, gerakan feminisme sudah mulai disuarakan untuk penyemarataan hak politik perempuan, hingga mulai berkembang pesat pada abad ke-20. Tulisan Mary Wollstonecraft yang berjudul A Vindication of The Rights of Woman dianggap sebagai salah satu karya tulis feminis awal, yang berisi kritik terhadap Revolusi Prancis yang hanya berlaku untuk laki-laki namun tidak untuk perempuan.

Barulah di abad setelahnya, Kartini mulai ‘menohok’ para pelaku kolonial dengan menyuarakan kritik mengenai keadaan wanita Jawa yang tidak diberikan hak untuk mengenyam pendidikan setara dengan laki-laki.

“Siapakah yang akan menyangkal bahwa wanita memegang peranan penting dalam hal pendidikan moral pada masyarakat. Dialah orang yang sangat tepat pada tempatnya. Ia dapat menyumbang banyak (atau boleh dikatakan terbanyak) untuk meninggikan taraf moral masyarakat. Alam sendirilah yang memberikan tugas itu padanya.

Sebagai seorang ibu, wanita merupakan pengajar dan pendidik yang pertama. Dalam pangkuannyalah seorang anak pertama-tama belajar merasa, berpikir dan berbicara, dan dalam banyak hal pendidikan pertama ini mempunyai arti yang besar bagi seluruh hidup anak…” (Berikanlah Pendidikan Kepada Bangsa Jawa- Nota R.A. Kartini tahun 1903 yang dipublikasikan melalui berbagai surat kabar)

Sepeninggal Kartini dan surat-suratnya yang telah dibukukan tersebut, Kongres Perempuan I kemudian diselenggarakan pada 22 Desember 1928, di pendapa Dalem Jayadipuran, Yogyakarta. Kurang lebih 600 wanita Indonesia berkumpul untuk merumuskan pergerakkan kesejahteraan kaum mereka di zaman itu.

Setahun setelah itu, gagasan mengadakan Hari Ibu sebagai bentuk, salah satunya adalah impian Kartini, pentingnya pendidikan bagi wanita sebagai pendidik pertama bagi anak-anaknya, selain menjadi seorang Ibu.

Tidak hanya Kartini yang menyuarakan suara wanita, Dewi Sartika, pada 1904 juga mendirikan sekolah pertama yang dikenal dengan “keutamaan istri”. Sebab, di zaman itu, dalam budaya Jawa, terbagi ke dalam empat golongan, yakni golongan miskin, menengah, santri, dan abangan.

Di antara golongan itu, yang diperbolehkan bersekolah hanya kaum abangan, meskipun hanya sampai sekolah dasar. Dari pergerakan dan pemikiran yang diawali Kartini dan diteruskan Dewi Sartika, hingga para wanita saat ini, menjadikan gerakan feminisme di Indonesia semakin digalakkan.

Prof. Saskia Wieringa dari Universiteit van Amsterdam, dalam International Conference on Feminism: Intersecting Identities, Agency & Politics yang diselenggarakan dalam rangka memperingati 20 tahun Jurnal Perempuan pada tahun 2016 lalu, mengatakan sejarah Indonesia adalah sejarah yang menghargai perempuan. Jauh sebelum Belanda menjajah Indonesia, perempuan-perempuan di Indonesia telah memiliki kesetaraan, hak politik, bahkan banyak perempuan Indonesia yang menjadi pahlawan dan pemimpin di Indonesia.

Menurut Saskia, justru perempuan Belanda yang tidak memiliki hak politik. Pengaruh wanita Belanda itulah yang membuat Indonesia kehilangan budayanya sendiri.

Dari situlah sebenarnya gerakan feminisme di Indonesia, semestinya bukan lagi harus berteriak tentang hak kesamarataan perempuan dan laki-laki, tapi berteriak tentang pengembalian budaya Indonesia yang sempat hilang terjajah.

Baca juga artikel menarik lainnya terkait Indonesia Bangkit atau informasi terkini lain di Kabarnesia.

Comments

comments

1 KOMENTAR

Comments are closed.