DPR Menggugat Facebook

3
67
facebook indonesia
DPR mengadakan rapat bersama Facebook (Foto: Liputan Riau)
phuceng,madu stamina,madu phuceng,sehatshop,stamina pria,madu,jahe merah,purwoceng

“Tidak ada kebocoran data dari sistem Facebook. Ini bentuk pelanggaran pihak ketiga dan bentuk kegagalan kami. Dan kami meminta maaf dengan apa yang terjadi.”

Kabarnesia.com – Anggota DPR akan menindaklanjuti perihal kasus penggunaan data pribadi oleh pihak Facebook pada para penggunanya di Indonesia. Hal ini langsung diutarakan oleh Wakil Ketua Komisi I DPR RI, Hanafi Rais.

Ia mendesak pihak Facebook untuk segara melakukan ketentuan sanksi terhadap pihak ketiga yang melakukan pelanggaran perjanjian, termasuk penyalahgunaan data. Kerahasiaan dan keamanan data pengguna merupakan tanggung jawab Facebook.

phuceng,minyak lintah,minyak lintah CHC,mesra perkasa

Dalam agenda kasus ini, Rapat Dengar Pendapat Umum (RDPU) mengundang Kepala Kebijakan Publik Facebook Indonesia, Ruben Hattari dan Vice President of Public Policy Facebook Asia Pasific, Simon Milner di gedung DPR RI, Senayan, Jakarta, Selasa (17/4).

“Kita sadari platform policy Facebook belum diatur secara rinci dan tegas tanpa ada perubahan yang serius terkait platform policy. Tentu ini melanggar peraturan dan kalau kasus ini dibawa ke ranah hukum, sebaiknya aturan ditegakan,” ujar Hanafi

Facebook sebagai aplikasi penyedia layanan harusnya dapat melindungi data pribadi dari masing-masing pengguna. Tetapi, tidak dirasakan bagi masyarakat Indonesia. Sebab, Facebook sendiri tidak mencantumkan sanksi bagi pihak ketiga, atas penyalahgunaan data pengguna.

Seperti yang dilakukan Aleksander Kogan kepada Cambridge Analytica, diduga telah terjadi kebocoran 1,096 juta data pengguna Facebook di Indonesia atau 1,26 persen dari total jumlah yang diambil datanya secara global.

“Kami juga meminta hasil audit investigasi anda terkait 1 juta data orang Indonesia, terkait Cambridge Analytica. Kami meminta seutuhnya, itu juga berarti kami memanggil pihak Facebook untuk datang kembali menindaklanjuti hasil rapat kita,” kata Hanafi.

Kepala Kebijakan Publik Facebook Indonesia, Ruben Hattari menjelaskan bahwa kronologis kejadian bocornya data pengguna saat pada tahun 2013. Muncul sebuah aplikasi yang bernama ‘thisisyourdigitallife’ dikembangkan oleh seorang peneliti Aleksander Kogan.

BACA JUGA:

Proses Penyalahgunaan Data

Aleksander Kogan yang pada saat itu adalah seorang akademisi Cambridge University tengah melakukan pengembangan aplikasi menggunakan fitur Facebook Login. Facebook Login ini memungkinkan pengembang aplikasi pihak ketiga untuk meminta persetujuan dari pengguna Facebook agar mereka dapat menggunakan data pribadi dari masing-masing pengguna aplikasi Facebook.

Setelah mendapatkan datanya, pihak ketiga langsung menjualnya secara ilegal kepada Cambridge Analytica, yang kemudian dipakai untuk mendesain iklan politik yang dapat merubah hati si pemilih nanti. Data tersebut diduga digunakan juga untuk penyalonan Donald Trump sebagai Presiden Amerika Serikat.

Namun aplikasi ‘thisisyourdigitallife’ sudah dihapus sejak 17 Desember 2015, tetapi dalam hal ini pihak Facebook belum memproses kasus secara hukum, karena dalam Platform Policy tidak ditentukannya sanksi, maupun itu secara pidana ataupun perdata kepada pihak ketiga yang menyalahgunakan penggunaan data.

“Tidak ada kebocoran data dari sistem Facebook. Ini bentuk pelanggaran pihak ketiga dan bentuk kegagalan kami. Dan kami meminta maaf dengan apa yang terjadi,” ujar Ruben.

“Kami juga ingin sampaikan kembali bahwa pihak Facebook tidak pernah sama sekali menyetujui penggunaan data oleh Cambridge Analytica yang diperoleh dari aplikasi Aleksander Kogan. Cambridge dan Kogan adalah pihak ketiga yang melakukan hal ini secara independen dan menentukan tujuan maupun cara memproses data yang mereka peroleh,” tandasnya.

Sejauh ini dari pihak Facebook tengah meninjau kembali data-data yang disalahgunakan dan akan menyampaikan perkembangannya secara penuh dan menyeluruh. Setidaknya dalam kasus ini, Facebook sudah mengakui adanya 87 juta data yang disalahgunakan. Dari 87 data yang dipakai sebagian besar adalah pengguna Facebook dari Amerika Serikat atau sekitar 81,6 persen data. Dan di Indonesia, mejadi urutan ketiga sekitar 1,3 persen dari 87 juta data yang disalahgunakan.

Baca juga artikel menarik lainnya terkait terkait Kabar Nasional atau informasi terkini lain di Kabarnesia.

levidio,youtuber,youtube,powerpoint

Comments

comments