Wiji Thukul: Orang Pintar yang Membaca Buku untuk Bungkam, Hanyalah Kebijaksanaan Palsu!

1
196
wiji thukul
Wiji Thukul, penyair dan aktivis PRD yang masih belum ditemukan (Foto: Jitunews)

“Apa gunanya membaca buku kalau mulutmu kau bungkam”, begitulah sajak itu terangkai.

Kabarnesia.com – Teringat sajak-sajak dalam puisi Wiji Thukul yang berjudul “Aku Menuntut Perubahan” yang ditulis pada 1992. Zaman orba, zaman otoriter dan zaman yang mengerikan saat itu.

Tapi, Thukul tak bergeming, bahkan bersolek bak orang polos yang tak tahu apa-apa, tak tahu apa resiko yang bakal dia dapat, saat menulis sajak-sajak itu. Bukan, Thukul bukan berarti tak tahu, justru dia sangat tahu apa resikonya.

phuceng,madu stamina,madu phuceng,sehatshop,stamina pria,madu,jahe merah,purwoceng

Dia tahu, di zaman itu, setiap suara yang dikemukakan ketika bersuara dan berpendapat akan dihilangkan, akan ditiadakan, akan dilenyapkan. Tapi, bukan berarti Thukul takut. Thukul tetap menjadi orang polos yang seolah tak mengerti ke-adaan rezim ‘ngeri’ itu menjadi sebuah ke-tiadaan, demi perubahan, demi bersuara lantang melawan ‘majikan-majikan’ yang menukangi rakyat yang melarat.

BACA JUGA:

Penegasan Wiji Thukul

Thukul, seorang penyair ini, bukan hanya orang yang berani, tetapi orang yang mengerti bahwa dia memiliki kewajiban. Kewajiban menggunakan hadiah ‘bersuara’ dari Tuhan untuk memberi komentar mengenai apa saja yang wajib diberi komentar, atau kritik.

Ketika Tuhan memberikan anugerah berbicara, maka baginya, ia juga wajib menggunakannya. Bahkan dalam suatu puisinya yang berjudul “Di Bawah Selimut Kedamaian Palsu”, ia menegur, mengejek, dan menentang blak-blakan orang pintar yang hanya membaca buku. “Apa gunanya membaca buku kalau mulutmu kau bungkam”, begitulah sajak itu terangkai.

Orang yang hanya duduk di kelas, membaca buku, yang hanya membaca dan mulutnya dibungkam dengan tertib oleh kemauan dan ketakutannya sendiri, sehingga menjadi kebijaksanaan, menurutnya hanya bungkusan palsu. Bijaksana tapi palsu, bukan lagi bijaksana. Orang seperti itu, dinamakannya warga negara, rakyat, dan orang yang tak berdaulat. Dia tetap orang, warga negara atau rakyat, tapi hidupnya rela terinjak-terinjak.

Thukul menyadarkan kita akan pentingnya menjadi warga negara, rakyat, dan orang yang berdaulat, serta memahami kedaulatannya. Untuk apa kita punya kedaulatan, bila kita tak menggunakan kedaulatan? “Warga negara yang tak punya suara, yang takut berbicara, dan hanya membaca buku saja tapi bungkam, warga negara macam apa dia?” begitulah pesan tersirat yang ia ingin sampaikan.

Kini, ia rela hilang. Kedaulatannya direnggut ‘majikan’. Meski hilang yang entah kemana dan dimana serta diapakan, ia tetap ada. Ia tak ada, yang hilangnya ada. Ia contoh bagaimana suara harus ditegakkan di negeri para seniman poitik itu berkuasa.

Ia contoh penyair, penulis, yang bersuara dan tak peduli siapapun yang membenci, mencemoohi bahkan meniadakannya. Ia hanya ingin kita terus berdaulat di negeri, yang hingga kini, tetap beranggapan kita hanya harus membaca buku dan bungkam! Suaranya masih terdengar, hingga kini, hingga masa reformasi yang tak ada revolusi.

Pahlawan ‘suara’ kita hilang. Tapi dia tetap ada di ketiadaannya. Dia tetap mengejek orang yang hanya pintar tapi takut bersuara.

Baca juga artikel menarik lainnya terkait Versi Kabarnesia atau informasi terkini lain di Kabarnesia.

phuceng,minyak lintah,minyak lintah CHC,mesra perkasa

Comments

comments

1 KOMENTAR

Comments are closed.