Penyebab Merosotnya Saham Produsen Rokok

1
234
saham rokok
Aneka produk rokok Gudang Garam di Jakarta Pusat (20/5) (Foto: Kontan)
phuceng,madu stamina,madu phuceng,sehatshop,stamina pria,madu,jahe merah,purwoceng

Harga rokok sudah sampai titik kluminasi. Kalau pemerintah terus menaikan lagi, maka secara kuantitas akan menurun.

Kabarnesia.com – Penurunan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menjadi penyebab lemahnya saham saham produsen rokok. Sangat drastis, kejadian ini membuat sejumlah saham produsen rokok juga ikut mengalami penurunan. Terlihat dari awal tahun hingga sekarang, berbagai macam merek rokok mengalami kenaikan harga yang cukup signifikan.

Jatuhnya IHSG hampir sama dengan jatuhnya saham-saham produsen rokok, seperti PT HM Sampoerna Tbk (HMSP), PT Gudang Garam Tbk(GGRM), dan PT Wismilak Inti Makmur Tbk (WIIM). Ada dua hal yang bisa dijadikan penyebab saat saham-saham produsen rokok turun, pertama, secara industri diyakini masih terkena dampak pola pikir atau pola perilaku masyarakat yang sudah mengurangi mengonsumsi rokok.

phuceng,minyak lintah,minyak lintah CHC,mesra perkasa

Kedua, terimbas dari dampak penjualan pasar yang terus meningkat. Tahun ini IHSG saja sudah menyentuh angka tertingginya pada 19 Februari 2018 di angka 6.689. Tetapi IHSG parkir di level 5.792 atau sudah turun 13,41% dari posisi tertingginya.

“Jika dilihat dari tren market yang kita lihat ada imbasnya dari market secara keseluruhan. Bagi saham HMSP dan GGRM kan menggunakan saham big cap, jadi kalau pasar negatif mereka pun juga terkena imbasnya,” ucap Reza Priyambada.

Sementara itu, dari Gabungan Perserikatan Pabrik Rokok Indonesia (GAPRI) memang membenarkan jika ada pengurangan jumlah pabrik rokok yang aktif berproduksi setiap harinya. “Di Indonesia sendiri, terdapat 600 pabrik rokok yang mempunyai izin, namun saat ini hanya 100 pabrik rokok yang masih berproduksi setiap hari nya,” kata Ketua GAPRI Ismanu Soemiran, Minggu (6/5).

Tidak berproduksinya berbagai pabrik rokok tersebut, turut memberanikan tenaga kerja di sektor produksi rokok. “Yang masih aktif hingga sekarang di pabrik besar. Jumlah karyawannya juga ada, dari 600 ribu karyawan kini hanya tersisa 450 ribu karyawan,” tambahnya.

BACA JUGA:

Saham Rokok Fluktuatif Cenderung Menurun

Melansir data RTI, pada Minggu (6/5), saham PT HM Sampoerna Tbk mulai tren penurunan yang dialami pada 24 Januari 2018. Pada saat itu, saham HMSP turun 4,55% dari Rp 5.500 ke Rp 5.250, sejak saat itu saham HMSP terus anjlok hingga posisi kemarin berada di level Rp 3.280. Itu berarti membuat saham HMSP mengalami pemrosotan yang cukup tinggi sekitar 40,36%.

Sedangkan, saham milik PT Gudang Garam Tbk (GGRM) bernasib sama dengan tetangganya PT HM Sampoerna, tetapi saham PT Gudang Garam Tbk tidak terlalu tinggi dalam penurunannya. Dihitung dari tanggal yang sama, pada 24 Januari 2018, GGRM turun 0,09 dari Rp 85.300 ke Rp 85.275.

Sejak saat itu, saham PT Gudang Garam Tbk bergerak fluktuatif visual menurun. Beberapa hari yang lalu GGRM sudah berada di level Rp 67.200. Jika dihitung saham yang diderita oleh GGRM sebesar 21,21% dari posisi tertingginya.

Sementara itu, dari PT Wismilak Inti Makmur Tbk (WIIM) mengalami nasib yang berbeda dari dua perusahaan sebelumnya. Saham ini sebenarnya juga cukup berfluktuatif. WIIM mencapai posisi tertingginya pada 26 Februari 2018 ditutup pada level Rp 296. Tetapi dengan demikian WIIM sudah berada di level Rp 254 atau sudah turun di kisaran 14,18%.

Saham-saham produsen juga ikut tertangkap, penurunan saham rokok sudah terlihat di awal tahun 2018, hal ini juga berimbas pada masyarakat di Indonesia, yang memang sudah menjadi perokok aktif. Dengan adanya pendaftaran kenaikan harga cukai, yang rata-rata 10,04% mulai awal tahun 2018, membuat kinerja industri rokok semakin terpuruk.

“Pemerintah sangat perlu melihat industri rokok pada tahun ini, karena pasar yang sangat buruk dan harga rokok yang memang sudah terlalu tinggi. Harga rokok sudah sampai titik kluminasi. Kalau pemerintah terus menaikan lagi, maka secara kuantitas akan menurun,” kata Soemiran.

“Jumlah produksi rokok per batang telah mengalami penurunan, karena harga tarif cukai yang naik dan harga rokok pun ikut meroket cepat, jadi pendapatan tidak bisa dibandingkan dengan produksi,” tambah Soemiran.

Baca juga artikel menarik lainnya terkait Kabar Ekonomi atau informasi terkini lain di Kabarnesia.

levidio,youtuber,youtube,powerpoint

Comments

comments

1 KOMENTAR

Comments are closed.