Utang Luar Negeri Indonesia Tembus 5.000 Triliun

1
73
Utang Indonesia
Utang Indonesia dikatakan bakal mencapai 5.000 triliun rupiah (Foto: Riau Barometer)

Hingga bulan April 2018 saja, SBN mata uang rupiah yang telah diterbitkan pemerintah sebesar Rp 2,049 triliun untuk Surat Utang Negara (SUN), dan sebesar Rp 377,96 triliun untuk Surat Berharga Syariah Negara (SBSN).

Kabarnesia.com – Utang luar negeri Indonesia semakin hari semakin meningkat hingga menembus angka Rp 5.000 triliun. Statistik Utang Luar Negeri Indonesia (SULNI) yang sudah dikeluarkan oleh pihak Bank Indonesia (BI) menyebut jumlah utang luar negeri (ULN) secara total tercatat US$ 358,7 miliar atau setara dengan Rp 5.021 triliun (kurs Rp 14.000). ULN tersebut telah tumbuh 8,7% dan melambat dibandingkan kuartal sebelumnya yang mencapai 10,4%.

Menanggapi hal tersebut, Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati menjelaskan, bahwa jumlah total utang itu terdiri dari utang pemerintah, utang bank sentral, dan utang swasta termasuk badan usaha milik negara (BUMN). “Tolong bedakan jumlah total utang luar negeri, karena tidak hanya ULN pemerintah semua,” ucap Sri Mulyani di Konfersi Pers di Kementrian Keuangan, Jakarta Pusat, Kamis (17/5).

phuceng,madu stamina,madu phuceng,sehatshop,stamina pria,madu,jahe merah,purwoceng

Kementrian Keuangan juga telah merilis hasil terbaru dari utang luar negeri pemerintah yang naik 13,99 persen dari Rp 3.667 triliun pada bulan April 2017 menjadi Rp 4.180 triliun pada April 2018. Sehingga, rasio utang luar negeri pemerintah terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) menjadi 29,88 persen dari Rp 13.991 triliun.

Sri Mulyani menambahkan, dengan capaian PDB tersebut, rasio utang pemerintah terhadap PDB tetap akan terjaga di bawah 30 persen, yakni pada level 29,88 persen. “Kalau kami lihat outstanding utang dan pembiayaan juga mengalami kenaikan, dalam hal ini satu penurunan dari sisi growthnya,” ujar Sri Mulyani dalam acara APBN KITA di Kantor Kementrian Keuangan.

Ia juga mengatakan, pertumbuhan utang luar negeri pemerintah mengalami perbaikan yang sangat konsisten dalam tiga tahun belakangan. “Kalau kita liat growthnya kecil sekali (pada 2018) minus 6,2 persen dibandingkan dengan tahun lalu 5,6 persen (pada 2017) dan tahun sebelumnya 5,8 persen (pada 2016),” tambahnya.

Ia menyebut kalau dilihat dari sisi yang lain, seperti dari sisi nominal memang tetap tinggi. “Ini yang sering dipakai oleh beberapa politisi cuma melihat nominal nya saja, padahal dilihat dari underlinenya mengalami perbaikan yang cukup signifikan,” tuturnya.

Kemudian dari Direktur Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko, Luky Alfirman mengatakan bahwa, utang luar negeri secara nominal meningkat karena untuk mengantisipasi kondisi ekonomi global.

“Kolektor utang kita enggak akan secara linier, itu untuk mengantisipasi adanya gejolak ekonomi dunia yang saat ini tengah terjadi dan kita harus melakukan up side di awal-awal tahun ketika kondisi (ekonomi) kita sedang bagus,” ujar Luky.

BACA JUGA:

Kalkulasi Utang Indonesia Tahun 2018

Ia juga menambahkan bahwa utang luar negeri sebesar Rp 4.180 triliun merupakan total dari komponen utang negara. “Kita bicara soal total utang luar negeri adanya komponen dari pemerintah dan swasta. Pemerintah itu juga termasuk utang Bank Indonesia (BI). Swasta termasuk dengan BUMN,” terangnya.

Sedangkan jika dilihat dari segi komposisi utang, pinjaman pemerintah yang berasal dari kreditur komersial mengalami penurunan signifikan sebesar negatif 1,81 persen, di mana pada akhir bulan April 2017 outstanding utang pemerintah dari kreditur komersil sebesar Rp 43,09 triliun, sementara pada bulan yang sama pada 2018 sebesar Rp 42,31 triliun.

Ini yang menyebabkan pertumbuhan pinjaman luar negeri dan dalam negeri tahunan untuk bulan April 2017 dan April 2018 secara keseluruhan telah mengalami kenaikan angka sebesar 5,28 persen year on year (yoy). Sementara itu, pertumbuhan tahunan untuk Surat Berharga Negara (SBN) telah mencapai 16,18 persen (yoy).

Hingga bulan April 2018 saja, SBN mata uang rupiah yang telah diterbitkan pemerintah sebesar Rp 2,049 triliun untuk Surat Utang Negara (SUN), dan sebesar Rp 377,96 triliun untuk Surat Berharga Syariah Negara (SBSN). Sementara itu, untuk SBN dalam valuta asing hingga April 2018, telah terbit sebesar Rp 764,28 triliun dalam bentuk SUN dan sebesar Rp 215,09 triliun dalam bentuk SBSN.

Baca juga artikel menarik lainnya terkait Kabar Ekonomi atau informasi terkini lain di Kabarnesia.

 

 

Comments

comments

1 KOMENTAR

Comments are closed.