Sehatkah Air Tinja Untuk Dikonsumsi ?

0
11
Krisis air akan melanda hampir semua kota di dunia
Krisis air akan melanda hampir semua kota di dunia (Foto: National Geographic)
obat kuat,libion,libiceng,phuceng,madu stamina,madu phuceng,sehatshop,stamina pria,madu,jahe merah,purwoceng

Kabarnesia.com – Publik dihebohkan dengan penemuan baru yakni, mesin pengolahan limbah yang bernama PAL-Andrich Technical System. Alat yang diciptakan Perusahaan Daerah Pengelolaan Air Limbah (PAL Jaya), telah diresmikan langsung oleh Wakil Gubernur Jakarta Sandiaga Uno di Instalisasi Pengelolaan Lumpur Tinja (IPLT) Duri Kosambi, Cengkareng, Jakarta Barat pada hari Rabu (23/5).

Mesin canggih yang mampu merubah air tinja menjadi air bersih, memang terdengar sangat janggal dan aneh. Tidak sedikit juga masyarakat ragu apa yang telah dihasilkan dari alat canggih tersebut, karena belum benar-benar teruji kebersihan dan kehalalannya.

Sandiaga Uno mengatakan bahwa alat PAL-Andrich Technical System merupakan teknologi pengolahan limbah tinja pertama di Indonesia. Alat terobosan ini memiliki keistimewaannya tersendiri dibandingkan dengan alat pengolahan tinja lainnya. “Ini pertama kali dan air tinja yang diolah oleh PD PAL Jaya biasanya dilakukan suatu proses dan butuh waktu tujuh hari untuk menjadi air buangan. Ini hanya memerlukan waktu setengah jam saja sudah bisa diutilitas, buat menyiram bunga dan toilet,” ucap Sandi dalam sambutan peresmian. “Malah saya dikasih tau, hasil dari alat tersebut sudah layak minum. Kendati bisa dikonsumsi namun untuk saat ini lebih tepat digunakan untuk kebutuhan sehari-hari atau kebutuhan menyiram tanaman kota,” tambah Sandiaga Uno.

Wakil Gubernur Jakarta terlihat antusias dan cenderung kagum, dengan apa yang terjadi sesaat ia melihat sendiri jika air limbah tinja yang terlihat pekat dan kusam, tiba tiba menjadi air yang jernih setelah diproses hanya dalam waktu setengah jam saja. Sandiaga Uno tampak menggunakan tangannya untuk sedikit meminum air hasil dari alat yang bernama PAL-Andrich Technical System.

Akan tetapi, sebenarnya alat canggih itu belum bisa digunakan untuk dikonsumsi. Pihak PD Pal Jaya kemudian melakukan konfersi pers pada hari Senin, di Kantor mereka di Jakarta Selatan (28/5). Konfersi pers yang dihadiri oleh Direktur Utama PD Pal Jaya Subekti, Direktur Teknik dan Usaha PD Pal Jaya Erwin Marphy Ali dan Aris Supriyanto sebagai Menager Pengembangan Bisnis PD PAL dan beserta jajarannya. Subekti lalu menjelaskan, bahwasannya air hasil dari olahan limbah tinja yang menggunakan PAL-Andrich Technical System tidak untuk dikonsumsi sebagai air minum, karena limbah tinja diolah hanya untuk tidak mencemari lingkungan. “Melalui sistem olahan ini dan untuk memperbaiki kualitas olahan limbah, jadi tidak diperuntukkan untuk air minum,” kata Subekti di kantor PD Pal Jaya, Jalan Sultan Agung, Jakarta Selatan, Senin (28/5). Subekti juga menambahkan, untuk dapat dikonsumsi air tersebut harus melewati berbagai pengujian sesusai dengan peraturan Kementrian Kesehatan. Oleh sebab itu, air hasil olahan tinja itu tidak untuk dikonsumsi. Air bersih hasil olahan itu dapat digunakan untuk utilitas, seperti menyiram tanaman, mengairi sawah, dan MCK.

Perangkat PAL-Andrich Technical System ini merupakan hasil karya Andrian dan Charrunas, yang sebelumnya kedua orang ini bekerja di bidang Industri Perminyakan. Pada akhir November dua tahun lalu, mereka berdua mendatangi kantor PD Pal Jaya untuk memperlihatkan hasil ciptaan mereka kepada pihak PD Pal Jaya. Dan hingga akhirnya PD Pal Jaya resmi bekerja sama dengan PT MJH Lestari International, perusahaan rintisan milik Andrian dan Charrunas.

Mesin ini mempunyai tiga tahap untuk proses pemurniaannya. Pertama, Divolved Air Floatation (DAF) merupakan mesin yang menggunakan senyawa kimia untuk memisahkan air dan tanah serta unsur-unsur lainnya. Tahap yang kedua disebut Andrich, tahap yang menggunakan gelombang elektromagnetik untuk memecah molekul-molekul yang banyak terkandung dalam lumpur tinja. Dan proses yang terkahir ialah post treatment, limbah disaring lagi dengan pasir serta ultrafiltrasi. Mesin canggih yang berharga Rp 1,5 miliar tersebut sampai saat ini belum digunakan secara luas, mesin ini harus mempunyai sertifikat dari Pusat Penelitian dan Pengembangan Permukiman (Puskim), Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUMR), Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (Kemen LHK) yang hingga kini belum bisa keluar sertifikatnya.

Comments

comments