Ramadhan Penghilang Sekat Antara “Si Kaya dan Si Miskin”

1
69
bulan ramadhan
Alex Gufron (Foto: Dok. Pribadi)

Oleh:

Alex Gufron

(Freelancer, Researcher, dan Founder Start-Up Aplikasi Safrii)

phuceng,madu stamina,madu phuceng,sehatshop,stamina pria,madu,jahe merah,purwoceng

Dalam kitab Fathul Qorib, Ramadhan secara etimologi (bahasa) adalah menahan. Menahan dalam arti kata dari segala hal mulai dari makan, minum, berbuat maksiat (perbuatan yang dibenci oleh Allah SWT) dari mulai terbit fajar sampai terbenamnya matahari atau dalam arti sampai waktu adzan magrib tiba.

Secara terminologi (istilah) menurut istilah ulam fiqih puasa berarti menahan diri dari hal-hal yang membatalkan puasa, disertai niat pada malam harinya, sejak terbitnya fajar sampai terbenamnya matahari.

Bahkan asal muasal kata Ramadhan itu berasal dari isim masdar (kata yang disandarkan) kata romidho yang artinya panas menyengat. Di mana puasa ramadhan memang terjadi di musim panas yang tentunya memiliki maksud dan tujuan untuk membakar seluruh dosa-dosa yang dimiliki oleh manusia sehingga diharapkan seluruh manusia nantinya apabila mereka telah menyelesaikan misi di bulan Ramadhan ini, maka dia akan mendapatkan predikat kembali fitrah (suci) seperti bayi yang baru lahir dan memperoleh predikat taqwa.

Pada opini ini, penulis mencoba membahas Ramadhan dari sisi sosial. Sisi yang di mana bersentuhan langsung dengan hubungan antar sesama manusia.

Dalam beberapa hadis ditemukan bahwa keimanan memiliki keterkaitan dengan kesantunan dan etika terhadap orang lain, seperti menyambung silaturahim dan menghormati tamu. Ini menandakan Islam bukanlah agama individual dan memisahkan pemeluknya dari kehidupan sosial. Islam sangat mengerti bila seorang manusia harus membantu antara satu sama lainnya. Itulah mengapa hampir semua ibadah di dalam Islam memiliki pengaruh positif terhadap masyarakat.

Dampak baik yang dirasakan dari ibadah tersebut bukan hanya pelakunya sendiri, tetapi seluruh masyarakat, bahkan binatang dan tumbuhan sekalipun.

Imam para ulama-ulama, yakni Syeikh Abdul Qodir al-Jilani berkata, “Jika kamu menyukai makanan enak, pakaian bagus, rumah mewah, wanita cantik, dan harta berlimpah, sementara pada saat yang sama kamu menginginkan agar saudara seimanmu mendapatkan kebalikannya, maka sunggu bohong bila mengaku memiliki iman yang sempurna”. Pernyataan ini merupakan kritik tajam terhadap kaum beriman yang apatis.

Sering kita temui beberapa dari kalangan masyarakat ada yang beriman tapi secara apatis. Apatis di sini di mana hanya memikirkan dirinya sendiri atau dalam bahasa sehari-hari (egois). Padahal Islam sejatinya tidak mengajarkan kita untuk berbuat egois, di mana kita menang sendiri dan sebebas kita berbuat apapun dan cuek terhadap sekitar kita.

Padalah klasifikasi ibadah terbagi menjadi dua: ibadah individu (mahdoh) dan ibadah sosial (gairu mahdoh). Ibadah individual sangatlah personal dan berhubungan dengan Tuhan secara langsung, semisal shalat, puasa, dan haji. Sementara ibadah sosial berkaitan langsung dengan masyarakat, misalnya membantu fakir miskin, sedekah, dan lain-lain. Namun sesungguhnya, dalam ibadah individual sekalipun, dimensi sosialnya masih tetap ada.

Sebut saja shalat, memang tidak ada yang tahu tujuan shalat secara spesifk. Terutama alasan mengapa jumlah raka’at shalat dibatasi dan tidak boleh ditambah dan dikurangi. Akan tetapi, tujuan umum shalat masih dapat dirasionalkan dan dipahami melalui penjelasan al-Qur’an dan hadis.

Dalam al-Qur’an disebutkan bahwa shalat mencegah perbuatan keji dan munkar (QS: Al-‘Ankabut: 45). Artinya, shalat memberikan dampak positif terhadap perilaku seorang. Bila seorang mampu menahan dirinya dari mengerjakan kemungkaran, otomatis akan menyelamatkan orang lain dari kezaliman dan kemungkaran. Andaikan seluruh masyarakat shalatnya benar, maka seharusnya kemungkaran di bumi ini sudah tidak ada lagi.

Lalu bagaimana dengan puasa, bila kita cermati dengan seksama banyak dimensi sosial yang terkandung di dalamnya. Seringkali dikatakan bahwa dengan berpuasa kita bisa mengerti betapa laparnya orang miskin. Mereka tidak cukup uang untuk memenuhi kebutuhannya. Bila kita hanya menahan lapar dari terbit fajar sampai terbenam matahari, bisa jadi tetangga kita yang miskin tidak makan seharian penuh atau lebih. Melalui puasa kita seharusnya bisa mengerti dan berusaha membantu orang-orang miskin.

Selain menumbuhkan rasa empati dan simpati, puasa sebenarnya juga dapat meredam kemungkaran sosial. Kerapkali kezaliman dan kejahatan di dunia ini terjadi karena keserakan dan ketamakan manusia. Lihatlah koruptor, pemerkosa, dan pembakar hutan, mereka melakukan itu karena memang sudah tidak mampu lagi mengendalikan nafsu keserakahan di dalam dirinya. Akibatnya, luapan nafsunya merusak dan menganggu kenyamanan hidup orang lain.

Sahabat Rasul ‘Ali bin Abi Thalib mengatakan, “Anak Adam dapat binasa karena dua anggota tubuh: perut dan kemaluan. Perkatan ‘Ali ini didukung oleh hadis riwayat Abu Hurairah bahwa suatu kali Nabi SAW pernah ditanya tentang faktor apa yang membuat orang banyak masuk surga. Nabi SAW menjawab, “Taqwa dan akhlak yang bagus.” Kemudian Nabi ditanya lagi, apa yang menyembabkan banyak orang masuk neraka? “Dua anggota tubuh: perut dan kemaluan” Jawab Nabi (HR: Ibn Majah)

Pernyataan Nabi ini sangat benar dan sudah teruji kebenarannya. Ada banyak kerusakan yang disebabkan dua anggota tubuh ini. Sebagian besar kemungkaran terjadi karena manusia tidak mampu membendung hasrat perut dan kemaluannya. Ia tidak mampu mengontrol kuatnya dorongan negatif dari dalam perut dan kemaluannya. Sehingga, ketidakmampuan itu mendorong mereka untuk melakukan kejahatan dan merusak kehidupan orang lain.

Seharusnya bulan Ramadhan dapat menjadi proses latihan bagi manusia untuk dapat mengontrol perut dan kemaluan. Dikarenakan pangkal dari masalah yang terjadi pada manusia terletak pada perut dan kemaluan.

BACA JUGA:

Ramadhan seharusnya dapat menhilangkan sekat antara “Si Kaya dan Si Miskin”

Dimana yang kaya itu harus mendermakan harta bendanya yang dimiliki kepada masyarakat bawah (miskin). Tidak makan dan minumnya si kaya dan si miskin menandakan bahwa status mereka sama sebagai hamba Allah yang membedakan mereka hanyalah ketaqwaan.

Ibadah sosial menjadikan hubungan interaksi antara sesama manusia dapat berjalan dengan seimbang tanpa ada status yang membedakannya. Ramadhan mengajarkan kepada kita bahwa seluruh amal ibadah dan pekerjaan yang dilakukan apabila seluruhnya di dasari dengan niat tulus ikhlas dan mengharap ridho Allah SWT maka niscaya kesalehan ritual dan kesalehan sosial dapat berjalan dengan selaras dan seimbang sehingga apa yang menjadi janji Allah dalam menyandangkan gelar taqwa dapat terwujud, pada akhirnya kita semuanya kembali kepada fitrah dan memperoleh kemenangan di akhir Ramadhan ini.

Akhir kata, marilah kita jadikan bulan Ramadhan ini sebagai bulan dimana kita semua berlomba-lomba dalam menjalankan seluruh ibadah yang dilakukan. Ibadah yang bersifat mahdoh dan gairu mahdoh hingga akhir Ramadhan dan memperoleh predikat taqwa.

Tulisan ini adalah murni dari suara pembaca Kabarnesia, tanpa ada perubahan apapun, kecuali beberapa hal tanpa mengubah konteks pesan. Bagi Anda yang ingin mengutarakan opini di Kabarnesia bisa mengirimkan tulisan minimal 300 dan maksimal 800 kata ke [email protected] beserta foto pribadi penulis.

Baca juga artikel menarik lainnya terkait Opini Kabarnesia atau informasi terkini lain di Kabarnesia.

Comments

comments

1 KOMENTAR