Pesan Moral Ibadah Puasa

1
145
puasa
Muhammad Zaky Rabbani (Foto: Dok. Pribadi)

Oleh

Muhammad Zaky Rabbani

Lawyer at Hari Siswanto & Co.

phuceng,madu stamina,madu phuceng,sehatshop,stamina pria,madu,jahe merah,purwoceng

Ibadah dalam Islam bukan hanya sekedar hubungan dengan Allah, tetapi juga hubungan dengan sesama manusia. Shalat misalnya, dimulai dengan takbir sebagai awal berhubungan dengan Allah dan diakhiri dengan salam kepada sesama manusia. Bulan Ramadhan pun demikian, kita berpuasa sebulan penuh sebagai pengabdian kepada Allah dan sebelum Idul fitri tiba, kita diwajibkan menyisihkan harta untuk zakat.

Puasa yang kita laksanakan, selain pengabdian kepada Allah, pada hakikatnya menyimpan pesan moral dalam kehidupan bermasyarakat. Setidaknya ada dua pesan moral yang disampaikan ibadah puasa, antara lain:

Pertama, puasa mendidik manusia untuk empati terhadap orang miskin. Ketika melaksanakan ibadah puasa kita tidak makan dan minum selama sehari penuh. Hal yang demikian ini sering dirasakan oleh orang miskin. Namun, yang membedakan adalah laparnya kita yang berpuasa ada waktu berbuka yang ditunggu yaitu azan maghrib, tetapi saudara kita yang miskin waktu berbukanya tidak tentu, bisa jadi puasanya hampir sepanjang waktu, karena tidak punya makanan dan minuman.

Oleh karena itu, tepat bila ada ulama yang mengatakan, “Bahwa puasa bukan hanya menumbuhkan rasa simpati terhadap orang miskin tetapi juga empati, yaitu turut merasakan apa yang orang miskin rasakan”. Orang miskin merasakan haus, yang ibadah puasa juga merasakan haus, orang miskin merasakan lapar, yang ibadah puasa juga merasakan lapar.

Dalam dunia pendidikan dinyatakan bahwa pendidikan akan lebih efektif bila melibatkan seluruh aspek anggota badan. Mengajarkan anak main bola maka ajak anak ke lapangan bola,  mengajarkan anak berenang maka bawa anak ke kolam renang. Tidak cukup mengajarkan anak berenang hanya sebatas dengan teori. Seperti teori gaya dada, teori gaya kupu kupu, dan sebagainya. Tapi, kalau anak tidak pernah dibawa ke kolam renang, maka sekalinya berenang yang digunakan adalah gaya batu, kenapa? Karena tidak pernah diajak praktek.

Begitupun untuk menumbuhkan rasa simpati terhadap orang miskin, tidak cukup hanya sebatas dengan teori. Teori yang dibahas dalam seminar, diskusi, sementara yang jadi pembicaranya dan yang jadi pendengarnya adalah orang orang yang kenyang. Bagaimana mungkin empati terhadap orang miskin akan tumbuh jika pembicaranya maupun pendengarnya adalah orang yang kenyang.

Inilah pelajaran pertama dari puasa, agar turut empati terhadap orang miskin. Sifat empati inilah yang akan melahirkan rasa kepekaan sosial. Nabi Muhammad SAW bersabda, “Tidak beriman kamu jika tidur nyenyak dalam keadaan perut kenyang, sementara saudaramu tidak bisa tidur karena lapar”.

BACA JUGA:

Kedua, puasa mengajarkan untuk berperilaku jujur. Karena puasa adalah ibadah yang paling personal dan paling pribadi. Kalau ibadah yang lain seperti shalat, zakat apalagi haji banyak orang tahu kita melakukannya.

Tapi tidak demikian dengan puasa, yang tahu apakah kita puasa atau tidak hanya diri kita dengan Allah. Ibadah puasa sifatnya rahasia. Sifat kerahasiaan ibadah puasa inilah yang ganjarannya langsung dibalas Allah. Sebagaimana dalam hadist Qudsi Allah SWT berfirman, “Puasa itu untukku dan aku sendiri yang membalasnya”.

Bisa saja saat siang hari, ketika perut lapar haus tak tertahankan lagi, kita masuk ke kamar sendirian untuk makan dan minum sepuasnya. Tapi itu tidak kita lakukan, kenapa? Karena kita yakin Allah  melihat kita, Allah mengawasi kita. Inilah nilai moral ibadah puasa yang mengajarkan untuk berperilaku jujur, karena selalu merasa diawasi oleh Allah.

Dua pesan moral inilah yang diharapkan lahir dari pribadi orang yang berpuasa. Peduli terhadap orang miskin dan selalu berperilaku jujur, kalau sudah demikian, maka tidak akan ada lagi kesenjangan hidup antara si kaya dan si miskin. Perilaku jujur dan selalu merasa diawasi Allah akan terpaut dalam sanubari, sehingga kalau jadi pedagang tidak akan curang, kalau jadi politisi tidak akan korupsi, kalau jadi pejabat tidak akan mengkhianati rakyat.

Semoga selepas Ramadhan ini kita menjadi pribadi yang lebih baik, karena hakikatnya Ramadhan adalah bulan Pendidikan budi pekerti, bulan pembentukan karakter.

Tulisan ini adalah murni dari suara pembaca Kabarnesia, tanpa ada perubahan apapun, kecuali beberapa hal tanpa mengubah konteks pesan. Bagi Anda yang ingin mengutarakan opini di Kabarnesia bisa mengirimkan tulisan minimal 300 dan maksimal 800 kata ke [email protected] beserta foto pribadi penulis.

Baca juga artikel menarik lainnya terkait Opini Kabarnesia atau informasi terkini lain di Kabarnesia.

Comments

comments