Siapa Layak Jadi Cawapres Jokowi?

1
55
Presiden Republik Indonesia Joko Widodo (Foto: CNN Indonesia)

Tren sumber suara saat ini adalah pasangan yang tidak hanya berkarakter nasionalis, tapi juga seimbang dengan religiusitasnya sebagai pemimpin.

Kabarnesia.com – Menghitung hari pendaftaran capres dan cawapres untuk kontestasi politik Pemilihan Presiden 2019 yang akan dilakukan pada 4-10 Agustus 2018, PDIP mulai bergerilya mencarikan calon pendamping yang tepat untuk capres pejawat mereka, yakni Joko Widodo.

Nama-nama yang santer dikabarkan akan merapat sebagai calon pendamping Jokowi pada Pilpres 2019 telah banyak diprediksi berbagai kalangan. Masyarakat pun kemudian ikut menjadi ‘aktor’ yang suaranya bisa jadi dipertimbangkan oleh para parpol untuk menduetkan nama-nama usulan yang muncul dari masyarakat guna dipasangkan dengan calon petahana saat ini.

phuceng,madu stamina,madu phuceng,sehatshop,stamina pria,madu,jahe merah,purwoceng

Sebelumnya, telah hangat menjadi perbincangan kemungkinan Jokowi akan menggaet nama profesional non parpol untuk menjadi pendampingnya nanti. Hal tersebut tentu memiliki pengaruh dalam koalisi parpol yang sudah berkomunikasi menyatakan dukungannya terhadap Jokowi untuk melanjutkan tonggak jabatannya sebagai pemimpin Indonesia lima tahun yang akan datang.

Namun, berbagai pengamat menyampaikan kemungkinan-kemungkinan yang terjadi apabila benar Jokowi menggaet nama non parpol untuk diajak berduet dengannya di Pilpres 2019 mendatang. Seperti yang dikatakan pengamat politik Universitas Paramadina, Toto Sugiharto.

Toto menyampaikan, jika Jokowi mengumumkan nama non parpol, maka kemungkinan parpol koalisi mencabut dukungan kepadanya akan rendah. Tetapi, kekurangannya adalah Jokowi perlu mengeluarkan seluruh energi dari mesin politiknya lebih maksimal, karena nama yang ia daftarkan bukanlah kader dari parpol.

Kemungkinan selanjutnya, apabila Jokowi mengumumkan nama cawapresnya dari salah satu parpol, maka gesekan antarparpol pendukungnya akan tinggi, sehingga memungkinkan salah satu parpol koalisinya untuk mencabut dukungan kepadanya. Tetapi, dengan mengusung nama dari salah satu parpol yang mendukungnya, Jokowi akan memiliki mesin politik yang lebih kuat, karena parpol yang kadernya diusung akan membantu semaksimal mungkin guna memenangkan Jokowi di Pilpres 2019 mendatang.

“(Namun) Kalau cawapresnya dari kalangan parpol itu akan lebih mudah mengoptimalkan mesin politiknya,” kata dia, dilansir Republika, Selasa (10/7).

Saat ini, sudah terdapat lima parpol yang mendeklarasikan dukungannya terhadap Joko Widodo untuk melanjutkan tambuk kekuasaannya. Kelima parpol itu adalah PDIP, Hanura, Golkar, Nasdem, dan PPP.

Namun, dua partai dari kelima parpol yang mendukung Jokowi sebagai capres pada Pilpres 2019 telah mengajukan nama ketua umumnya masing-masing untuk bisa berdampingan dengan Jokowi sebagai cawapres. Keduanya yakni, Airlangga Hartanto dari Golkar, dan Muhammad Romahurmuziy dari PPP.

Dengan demikian, tentu akan menyulitkan bagi Jokowi untuk menentukan akankah menggaet salah satu di antaranya atau memilih cara lain dengan menggandeng kalangan profesional non parpol, agar tidak terjadi pergesekkan antar parpol pendukung.

Namun, Golkar telah melakukan komunikasi terkait kemungkinan jika Airlangga tidak diajak berduet nantinya. Wakil Sekretaris Jenderal Partai Golkar Muhammad Sarmuji mengatakan, Golkar telah bernegosiasi untuk memasukkan nama kadernya sebagai menteri pada kabinet Jokowi nantinya.

BACA JUGA:

Munculnya TGB Berduet dengan Jokowi

jokowi tgb
Poster sketsa Jokowi-TGB (Foto: The World News)

Berawal dari pernyataan Gubernur NTB Zainul Majdi atau akrab disapa Tuan Guru Bajang (TGB) terkait dukungannya terhadap Jokowi pada Pilpres 2019, banyak masyarakat dan kalangan kemudian menyimpulkan duet Jokowi-TGB akan sangat mungkin terjadi di Pilpres 2019 nanti.

Hal tersebut tentu akan menjadi nilai tambah Jokowi dalam menggaet suara dari para kalangan islami-religius, yang sampai saat ini Jokowi memiliki kekurangan dalam menggalang suara dari para kalangan religius. Terlebih berkaca pada beberapa peristiwa yang membenturkan Jokowi kepada para ulama dalam hal keberpihakkan umat Islam di Indonesia.

Seperti diketahui, TGB merupakan Gubernur NTB dua periode yang juga bekerja di bawah kepemerintahan Jokowi, yang memiliki latar belakang ulama. Tidak hanya berlatarbelakang ulama, TGB juga dekat dengan para ulama, habaib, dan para syekh di Indonesia, yang tentunya memiliki nilai plus untuk menjadi mesin politik Jokowi di kalangan islami-religius.

PDIP pun mengakui jika nama-nama yang sudah terdaftar menjadi calon pendamping Jokowi telah mengerucut ke beberapa nama, salah satunya ada nama TGB. “Tuan Guru Bajang adalah salah satu kandidat cawapres yang sekarang namanya ikut mengerucut dengan nama-nama cawapres lainnya,” kata Wasekjen PDIP Ahmad Basarah di kompleks parlemen, Senayan, Jakarta, Rabu (11/7).

Tak hanya itu, setelah TGB menyatakan dukungan kepada Jokowi untuk melanjutkan kepemimpinan di periode selanjutnya, muncul poster sketsa digital yang menggambarkan kedua tokoh tersebut, Jokowi-TGB, sebagai capres dan cawapres Indonesia pada Pilpres 2019 mendatang. Di bawah sketsa kedua tokoh tersebut, tertulis keterangan yang menggambarkan karakter keduanya, yakni Nasionalis-Religius, sebagai motto kampanye mereka.

EO Riset Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC) Djayadi Hanan menyebut, peluang TGB mendampingi Jokowi masih potensial. Terlebih, ketika Gubernur NTB tersebut menyatakan dukungannya kepada Jokowi beberapa waktu lalu.

“Masih terbuka tetapi saat ini karena beliau kemarin sudah memutuskan mengendorse Jokowi, itu berarti peluang dia sebagai cawapres adalah cawapres dari kubu Jokowi. Karena di kubu non petahana itu kayaknya namanya sudah dicoret,” kata Djayadi di markas SMRC, Jakarta Pusat, Kamis (5/6).

Dengan komposisi, Jokowi-TGB sebagai capres dan cawapres pada Pilpres 2019, bisa jadi Jokowi akan kembali memenangkan kontestasi pagelaran politik akbar Indonesia. Sebab, menurut Wakil Ketua Umum PPP Arwani Thomafi, di daerah-daerah lumbung suara, seperti di pulau Jawa kemarin, Pilkada Serentak 2018 memenangkan pasangan-pasangan berlatarbelakang nasionalis-religius, seperti Ridwan Kamil-Uu Rhuzanul Ulum di Jabar, Ganjar Pranowo-Taj Yasin di Jateng, dan Siti Khofifah-Emil Dardak di Jatim.

Hal itu mengindikasikan bahwa tren sumber suara saat ini adalah pasangan yang tidak hanya berkarakter nasionalis, tapi juga seimbang dengan religiusitasnya sebagai pemimpin.

Baca juga artikel menarik lainnya terkait Kabar Nasional atau informasi terkini lain di Kabarnesia.

 

phuceng,minyak lintah,minyak lintah CHC,mesra perkasa

Comments

comments

1 KOMENTAR

Comments are closed.