Teruntuk Kalian yang Galau Untuk Berkuliah

0
49
kuliah
Kuliah atau kerja? (Foto: Lutfialfandra)

Oleh:

Alfridho Yuliananda

Chief Editor at Kabarnesia Group 

phuceng,madu stamina,madu phuceng,sehatshop,stamina pria,madu,jahe merah,purwoceng

Ujian Nasional baru saja usai. Para siswa akhir sekolah itu terlihat tersenyum dengan berbagai raut wajah. Ada yang sedih, senang, sendu, dan merenung. Bagi mereka, ada dua faktor kemungkinan yang menyebabkannya berekspresi demikian. Bisa karena tak bisa kerjakan soal ujian, atau karena masa sekolah bakal segera usai. Begitupun, ekspresi wajah lainnya, menunjukkan hal yang sama.

Terang saja, masa sekolah yang terjalin begitu dekat, bakal segera menemui titik akhir. Putih abu itu sudah akan mulai tertanggal menggantung di lemari pakaian. Dasi yang sering digunakan untuk memainkan ‘sabet-sabetan’ dan digulung di kepalan tangan, akan segera menggantung di belakang pintu kamar. Celana yang kotor karena digunakan bermain bola, menggambar di lutut, dan robek-robek karena terjatuh, bakal segera tersimpan rapih di lemari atau bahkan dipotong untuk celana bermain.

Tapi, di sisi lain, ada kesenangan yang mulai muncul. Kesenangan yang datangnya telah ditunggu-tunggu. Kesenangan yang mereka sering lihat di televisi, saat menonton berita konvoi siswa-siswi merayakan kelulusannya atau bahkan baru saja usai ujian. Yang pasti, mereka merasakan kelegaan, bak puasa berpuluh-puluh hari tanpa berbuka.

Lega dan bahagia bisa melewati masa putih abu itu biasa. Wajar saja senang, bagaimana tidak? Selama tiga tahun mereka bersekolah, atau jika dihitung sedari Taman Kanak-Kanak, mereka sudah menghabiskan waktu 13 tahun untuk sekolah menuju jenjang lebih tinggi. Terlebih, kelulusan ditentukan oleh beberapa mata pelajaran saja. Dari belasan mata pelajaran yang dipelajari, hanya beberapa fokus ujian yang wajib tuntas demi bergelar alumni.

Namun adikku, tahukah kalian? Ada banyak pengalaman ke depan yang akan membuatmu merasakan apa itu kesenangan, kesedihan, rasa gagal, frustasi, dan segala rasa bumbu penyedap kehidupan lain. Sudahilah kesenangan sementara nan tabu itu, lanjutkan langkahmu segera.

Bagi kalian yang merasa mampu dan berkeinginan melanjutkan studi, kejarlah. Bagi kalian yang ingin mengantungi pundi, kerjalah. Bagi kalian yang ingin segera mencari cinta sejati, nikahlah. Hidup terlalu rumit untuk dipirkan berulang-ulang. Jangan terlalu banyak alasan untuk hal yang tak pernah atau bahkan belum pernah kau rasakan. Jangan bayangkan dulu sulitnya, lakukan dulu alurnya.

BACA JUGA:

Bagi kalian yang memutuskan berkuliah, jangan lihat dan terlalu bangga dengan tempatmu menimba studi nanti. Sebab, semakin besar nama almamatermu, semakin besar pula tanggung jawab dan beban moralmu sebagai penggunanya. Jangan sampai ada celotehan konyol yang menyindir kalian kala usai berkuliah, “Lulusan Nganu kok nganggur sih?”. Maka, janganlah berbangga dulu adikku, jangan pula terlalu terlelap dalam euphoria. Kalian baru saja melangkah, baru saja melangkah, belum tahu arah dan tujuan.

Di mana pun tempatmu berkuliah, tidak mencirikan kesuksesanmu. Bagaimanapun caramu mendapatkan kuliah, tak menentukan seberapa besarnya dirimu. Namun, langkahmu lah yang menentukan kemana tubuhmu pergi. Bak mobil, langkahmu itu adalah roda depan dan tubuhmu adalah roda belakang. Setir adalah otakmu, rem adalah akalmu, dan gas adalah nafsumu.

Jangan terlalu cepat berbangga, karena faktanya, saat ini semakin banyak sarjana terkulai dan berjalan gontai. Memanggut kepedulian dan kasihan kepada para perusahaan, untuk sekedar memegang map lamaran kerja. “Ah, dia kan kuliah di tempat ecek-ecek, mana mungkin aku yang kuliah di tempat nganu, gak keterima?”

Kadang kala kita terlalu jemawa. Padahal, kita saja tak tahu pasti kita belajar apa selama ini, kita mampu bersaing atau tidak, atau bahkan kita hanya dianggap sampah di lingkungan yang kita banggakan. Semuanya terbukti setelah kau terjun ke lapangan. Kalian akan mampu melihat kehidupan yang sesungguhnya. Kehidupan yang saling memakan bangkai saudaranya, kehidupan yang saling meludahi wajah mereka masing-masing, dan kehidupan yang saling meletakkan pisau di kepalan tangan mereka.

Adikku, kuliahmu itu hanya sebagai batu loncatan menyusuri derasnya air sungai kehidupan kelak. Kita yang menentukan, pijakan mana yang akan aman dan mana yang licin namun tetap kita pijak, atau bahkan kita sama sekali tak bisa berpijak dan terbawa arus. Itu semua pilihanmu. Ingat, di mana pun tempatmu menimba ilmu, tak ada faktor apapun yang menentukan suksesmu.

Kuliah di tempat favorit belum tentu sukses, dan kuliah di tempat non unggulan belum tentu tidak sukses. Mungkin itu kalimat terakhirku, untukmu adikku. Jangan lupa, belajar tidak harus duduk di bangku kelas, pergilah, lihatlah dunia. Maka kau akan menemukan banyak guru di dalam kehidupanmu, dan banyak sekolah dalam perjalananmu.

Baca juga artikel menarik lainnya terkait Kolom Kabarnesia atau informasi terkini lain di Kabarnesia.

phuceng,minyak lintah,minyak lintah CHC,mesra perkasa

Comments

comments