Tommy Soeharto: Korupsi di Indonesia Masih Subur

1
56
Tommy Soeharto
Tommy Soeharto (Foto: Berita Satu)

Kabarnesia.com – Putra bungsu Mantan Presiden Kedua Republik Indonesia, Hutomo “Tommy” Mandala Putera, yang saat ini merintis partai anyar guna berkontestasi para Pemilu 2019 mendatang, mengatakan bahwa korupsi di Indonesia masih subur.

Ia juga mengatakan, dengan mendirikan partainya sendiri, Partai Berkarya, adalah sebuah perlawanan terhadap hasil reformasi 20 tahun yang tak kunjung membaik. Masih banyak kolusi, korupsi, dan nepotisme.

“Partai Berkarya ada di sini karena, setelah 20 tahun Reformasi, Indonesia tidak mengarah ke arah yang lebih baik, tidak ada rencana nyata kapan Indonesia akan menjadi bangsa yang maju,” katanya.

phuceng,madu stamina,madu phuceng,sehatshop,stamina pria,madu,jahe merah,purwoceng

“Itulah mengapa kami di sini untuk memperbaikinya,” katanya, seperti dilansir Reuters, Senin (23/7).

Sebagai tanggapan, penasihat ekonomi Widodo, Ahmad Erani Yustika, mengatakan kepada Reuters bahwa pemerintah telah melakukan beberapa perbaikan mendasar dalam ekonomi, seperti membangun infrastruktur baru dan meningkatkan produksi pangan untuk swasembada.

Ayah Tommy, Presiden Suharto, yang memerintah Indonesia dengan ‘tangan besinya’ selama 32 tahun, dipaksa mundur dari jabatannya pada tahun 1998 setelah mengalami kekacauan sosial ekonomi dan krisis moneter saat itu. Melihat perbedaan saat itu dan kini, penasihat ekonomi Joko Widodo, Ahmad Erani Yustika, mengatakan kepada bahwa pemerintah telah melakukan beberapa perbaikan mendasar dalam ekonomi, seperti membangun infrastruktur baru dan meningkatkan produksi pangan untuk swasembada.

Jika kita ingin menengok ke belakang, pada rezim Orde Baru, banyak yang disalahkan atas krisis itu, yang terfokus pada nepotisme dan korupsi, yang menjadi ciri dari kekuasaan Suharto. Selain itu pula, anggota keluarga dan rekan dekat Soeharto pun mengumpulkan kekayaan dan mendominasi ekonomi Indonesia saat Soeharto menjabat.

Tommy Suharto, yang juga seorang mantan pembalap dengan reputasi playboy, pernah dinyatakan bersalah pada tahun 2000 terkait dengan kesepakatan tanah dalam putusan yang kemudian dibatalkan.

Dia dijatuhi hukuman pada tahun 2002 hingga 15 tahun di penjara karena membayar seorang pembunuh bayaran untuk membunuh hakim agung yang telah menghukumnya dalam kasus korupsi. Masa jabatannya kemudian dikurangi saat mengajukan banding dan dengan tambahan beberapa tahun remisi, ia dibebaskan pada tahun 2007.

Seperti lupa sejarah, Tommy mengatakan, korupsi tetap menjadi momok nasional di bawah Presiden Joko Widodo. Mengingat Jokowi akan maju lagi sebagai capres pada Pilpres 2019 mendatang, Tommy seolah ingin mengatakan kepada khalayak untuk tidak lagi memilihnya.

“Pada awal Reformasi, orang-orang mengatakan kita harus bebas dari korupsi, kolusi dan nepotisme, tetapi sekarang pejabat publik masih banyak yang tertangkap basah,” katanya.

Dia juga mengkritik pemerintahan Joko Widodo, karena “membuka lengannya terlalu luas” untuk investasi Cina tanpa melibatkan kontraktor dan pekerja lokal.

Ditanya apakah ia memiliki ambisi untuk menjadi presiden atau wakil presiden sendiri, Tommy mengatakan satu-satunya tujuannya adalah untuk mengamankan sebanyak 575 kursi parlemen sebanyak mungkin untuk Partai Berkarya, dan ia telah menetapkan target 80 kursi di Pemilu mendatang. Dia sendiri berencana untuk bertanding di provinsi di Indonesia timur, Papua, yang ia nilai masih miskin.

BACA JUGA:

Merubah Persepsi

Anggota keluarga Suharto telah berulang kali mencoba lagi untuk masuk ke dalam dunia politik, bahkan selalu memasuki sisi dari ‘kehebatan’ Soeharto yang pernah melawan pemberontakan 30 September 1965. Hal itu sering dilakukan guna mendapatkan lagi simpati publik dalam percobaannya untuk masuk kembali ke jaringan politik Indonesia.

Tommy Suharto mengatakan dia akan berkampanye di media sosial untuk mengubah persepsi pemilih muda tentang keluarganya.

“Persepsi negatif ini tidak benar, karena Presiden Suharto tidak pernah dinyatakan korup,” katanya, berbicara di sela-sela konferensi partai dan, semua delegasi, yang mengenakan warna khas Partai Berkarya, kuning cerah.

“Mereka mengatakan Soeharto seperti Ferdinand Marcos (diktator Filipina) dan ada miliaran dolar di Eropa, dan sebagainya. Tapi setelah semua pemeriksaan, tidak ada uang seperti itu,” tambahnya.

Tommy mengatakan, dia telah menjalani hukuman karena kesalahannya di masa lampau, namun saat ini, ia memiliki hak yang sama dengan warga negara lain dalam hal berpolitik.  Meski demikian, ia tak ingin mengatakan kepada publik terkait harta kekayaan yang ia miliki. Menurutnya, itu hanya wewenang otoritas pajak.

Baca juga artikel menarik lainnya terkait Kabar Politik atau informasi terkini lain di Kabarnesia.

phuceng,minyak lintah,minyak lintah CHC,mesra perkasa

Comments

comments

1 KOMENTAR

Comments are closed.