CCAI: Merayakan Kerinduan akan Harmoni Keberagaman di Hari Anak Universal

0
19

Kabarnesia.com – Kita semua sepakat jika anak adalah tunas penerus bangsa, tidak berlebihan jika mengatakan kalau masa depan bangsa kita bergantung pada anak-anaknya, kejatuhan mental dan moral anak-anak, bisa berarti kejatuhan harapan bangsa.

Anak-anak juga rentan terhadap beragam paham yang merasuki mereka, syukur-syukur paham itu adalah yang konstruktif dan berlandaskan cinta kasih serta persatuan, nah bagaimana jika paham yang merasuki diri mereka adalah yang destruktif dengan moral yang tercemar sehingga berpotensi menghasilkan perpecahan?

Kegelisahan diatas yang coba untuk dipastikan oleh penyelenggara Cerita Cinta Anak Indonesia atau disingkat CCAI yang berlangsung di teater milik ciputra, Artpreneur, alih-alih terus menerus overthinking khawatir anak-anak indonesia akan rontok moralnya, mengingat ekspansi internet dengan banyak hal negatifnya sudah memasuki ruang tidur mereka, penyelenggara CCAI memilih untuk menolak takluk akan keadaan yang ada dan  menanamkan paham cinta kasih kepada Anak-Anak Indonesia.

Konsep Pertunjukan CCAI

Dibuka dengan pertunjukan Joy Tobing yang menembangkan lagu-lagu kebangsaan dengan aura bintangnya yang masih memancar, CCAI ingin mengedepankan aspek cinta bangsa & nasionalisme sebagai aura yang ingin dibangun dalam pertunjukannya, sudah dapat ditebak, seisi ruangan mendadak terenyuh dalam nuansa nasionalisme dan kebersamaan yang kokoh.

Setelahnya ada pemberian penghargaan kepada anak-anak inspiratif yang dengan beragam kondisi keterbatasan mereka, masih bisa memberikan inspirasi karena terus semangat berkarya.

Lantas dilanjut dengan wejangan penuh cinta dari eyang titik puspa bersama grup menyanyikan lagu-lagu ramah anak perihal Indahnya cinta kasih kepada sesama.

Drama CCAI mengangkat modernisasi penuh imajinasi

Setelah serangkaian acara pembuka, maka acara puncaknya lantas diselenggarakan, yakni pentas drama musikal yang mengangkat sosok anak perempuan yang punya kepribadian manja dan agak sombong. Suatu waktu anak perempuan tersebut menolak permintaan dari pengemis yang kelaparan dan meminta roti yang ia miliki. Alih-alih memberikan rotinya, ia malah mengusir pengemis tersebut dengan cukup kasar.

Entah bagaimana setelahnya ia jatuh pingsan dan masuk ke dunia khayalan dunia sihir tempat peri, nenek sihir, dan penyihir berkuasa. Anak perempuan tsb nyaris saja menjadi budak dari si nenek sihir, lantas diselamatkan oleh kakek penyihir yang baik hati.

Oleh kakek tsb, ia disembuhkan dari racun nenek sihir dan diajak berkeliling menikmati Indahnya keberagaman disebuah negeri gemah ripah loh jinawi bernama nusantara! Ia terus terpesona akan keindahan negeri yang sebelumnya tidak ia syukuri keberadannya itu hingga malas pulang ke dunia nyata yang notabene sering membawanya keliling dunia ke luar negeri.

Di dunia sihir itu ia kembali bertemu dengan pengemis yang ia usir yang dengan ketulusannya memberikan makanan kepadanya yang saat itu merasa sangat lapar. Akhirnya ia merasakan Indahnya negeri yang ia tinggali dengan beragam harmoni perbedaan di dalamnya.

Dari kekhawatiran menjadi solusi

Konsep acara dan pesan cinta kasih yang coba terus di tanamkan melalui CCAI ini memang berangkat dari kekhawatiran akan terkontaminasinya anak pada budaya bullying yang saat ini sedang menjangkiti bangsa ini.

Hal itu diperkuat oleh hasil wawancara kami dengan “Kakek Uban” yang merupakan talenta utama sekaligus pengkonsep cerita acaranya, menurut beliau, kita sebagai masyarakat pecinta kedamaian patut khawatir jika anak-anak sebagai tunas bangsa itu meniru orang-orang yang lebih besar usianya dari mereka, namun belum tentu dewasa, yang gemar merundung bahkan mepersekusi sesama saudara sebangsa.

Prinsip cinta kasih haruslah diajarkan sejak dini karena itu akan menjadi pondasi kepribadian baik bagi sang anak tercinta.

Comments

comments