5 Alasan NATO Jangan Ikut Campur Rusia vs Ukraina

0
143
rusia,ukraina,nato,donbass,putin,Zelensky
Ilustrasi Invasi Rusia vs Ukraina
obat kuat,libion,libiceng,phuceng,madu stamina,madu phuceng,sehatshop,stamina pria,madu,jahe merah,purwoceng

Kabarnesia.com – Rusia memanas dengan ukraina! Akhir minggu lalu, tepatnya 24 februari 2022, presiden rusia vladimir putin, memutuskan untuk menginvasi (menyerang secara militer) negara ukraina.

Musababnya ditenggarai Presiden ukraina, Volodymyr Zelenskyy, yang sebelumnya berprofesi sebagai seorang pelawak (komedian), cenderung ngotot untuk bergabung dengan NATO (North Atlantic Treaty Organisation).

Keputusan politik luar negeri zelensky ditentang keras oleh presiden rusia vladimir putin. Sebab, menurut kalkulasi politik dan geo-strategi nya, rusia akan terancam jika ukraina bergabung dengan NATO. Hal itu sama saja dengan membiarkan musuh bebuyutan (Amerika & NATO) berada di depan persis halaman rumahnya.

Tentu secara matematika pertahanan, hal itu sangat merugikan rusia. Sebab jika ukraina gabung NATO, maka akan ada pangkalan militer besar NATO yang berbasis di depan halaman rusia, yang kapan saja siap menyergap rusia. Atas alasan ini, kekhawatiran rusia dapat dipahami.

NATO Harusnya Jangan Ikut Campur Perang Rusia dan Ukraina!

Pertama, ukraina belum bergabung dengan NATO

Sehingga tidak ada alasan legitimat untuk NATO benar-benar bisa membantu ukraina, NATO dan negara-negara yang pro ukraina mungkin bisa membantu dari sisi kemanusiaan, misal menyediakan bahan makanan dan kesehatan untuk pengungsi perang.

Kedua, negara-negara NATO masih cukup lemah secara politis dan ekonomi.

Kita ketahui bersama, belum lama ini, amerika & sekutunya (NATO) “kalah perang” dari Taliban di afghanistan, dengan memilih untuk mencabut pasukan dan meninggalkan negara tersebut. Belum lagi negara-negara di eropa dan amerika dedengkot NATO yang masih belum pulih dari resesi ekonomi imbas pandemi.

Meski begitu, negara-negara NATO produsen senjata, masih bisa mendapatkan profit/benefit dengan memainkan strategi perang proxy.

Mereka bisa menyuplai senjata ke ukraina tanpa benar-benar harus berhadapan dengan rusia yang secara peringkat militer masih no-2 di dunia.

Ketiga, kekhawatiran perang dunia ke-3 dan perang nuklir.

Rusia memiliki hulu ledak nuklir terbesar di dunia, juga rusia memiliki aliansi tidak resmi dengan negara-negara penentang amerika dan NATO yang memiliki kemampuan nuklir juga, seperti halnya china, iran dan korea utara!

Saat artikel ini tayang, presiden putin juga telah memerintahkan pasukan nuklir rusia untuk siaga, imbas dari banyaknya sanksi ekonomi dan politik yang menjadikan rusia sebagai bulan-bulanan.

NATO juga memiliki negara-negara dengan hulu ledak nuklir yang tidak main-main, seperti perancis, amerika, inggris, dsb. Bisa terjadi kiamat lebih dulu dari seharusnya, apabila mereka berhadapan dan saling melepas peluru nuklirnya!

Juga, potensi perang dunia ke-3 tidaklah main-main! jika benar NATO berhadapan langsung dengan rusia di ukraina, maka china diketahui akan merebut taiwan dan menggaggu stabilitas kawasan laut cina selatan (LCS) atau laut natuna utara!

Jika stabilitas kawasan laut natuna utara terganggu, hal tersebut akan berimbas sangat buruk ke Indonesia.

Ke-empat, rusia memiliki legitimasi dalam invasi ini.

Seperti dijelaskan sebelumnya, rusia memiliki alasan yang dapat diterima, jika menyangkut keamanan dan pertahanan nasionalnya terkait rencana bergabungnya ukraina ke NATO.

Sebaliknya, ukraina dan NATO mesti lebih bijak dalam menyikapi alasan rusia ini, meski begitu ukraina harus mendapatkan jaminan keamanan yang sepadan dari rusia untuk terus menjaga kedaulatannya.

Ke-lima, siapapun pemenang perang, maka NATO sudah memenangkannya!

NATO sudah memenangkan perang, bahkan saat detik pertama rusia memutuskan untuk menginvasi ukraina.

Alasannya sederhana, jika ukraina menang, maka rusia akan dipermalukan di kancah politik dan militer, negara-negara aliansi nya mungkin akan menjaga jarak, mengingat ketidak mampuan rusia menghadapi negara seperti ukraina.

Selanjutnya, ukraina pasti akan langsung bergabung dengan NATO, yang memperburuk posisi geo-strategy rusia.

Namun, jika rusia yang menang, maka secara diplomatis dan politis, NATO akan menggunakan mesin propagandanya untuk mendiskreditkan rusia di kancah perpolitikan dunia! Rusia akan dianggap sebagai negara penjajah serta sanksi-sanksi terhadap rusia juga kemungkinan akan berlanjut.

Sehingga untuk apalagi NATO bergabung dalam perang ukraina vs rusia? jika saat perang mulai saja, mereka telah jadi pemenangnya!

Comments

comments