Kemunafikan Politik Barat dan Media Sosial

0
62
kedubes amerika
Pemindahan Kedubes Baru AS di Yerusaken menuai kontriversi (Foto: Sindonews)
obat kuat,libion,libiceng,phuceng,madu stamina,madu phuceng,sehatshop,stamina pria,madu,jahe merah,purwoceng

Kabarnesia.com – Mata dunia saat ini sedang tertuju pada rusia, yang mengklaim sedang melakukan operasi militer khusus untuk demiliterisasi (barat menyebutnya sebagai invasi).

Beragam media arus utama, yang sebagian besar pro-barat, dan beberapa bagian dari mereka korespondensi berita dengan media pro-barat, tentu berbondong-bondong mengecam!

Beragam kecaman media arus utama, seperti aksi tidak manusiawi, menyengsarakan warga sipil, hingga mengelu-elukan presiden ukraina, volodymyr zelenskyy bak pahlawan perang.

Baca:

Media arus utama pro-barat, sudah jelas menafikkan prinsip jurnalistik: cover both side dalam hal ini. Karena bobot pemberitaannya 90% menjelekkan rusia, dengan topik:

  • Rusia sebagai penjahat perang.
  • Aksi rusia di ukraina tidak mulus.
  • Putin sakit dan keputusannya dianggap “tidak waras”

Hal tersebut menjadi 3 topik utama dari media pro-barat dalam propagandanya untuk memenangkan sentimen publik.

Media sosial jadi ‘second opinion’, bahkan rujukan utama

profil picture, sosial media, foto profil

Jika propaganda yang sama terjadi 5-7 tahun yang lalu, sebelum media sosial booming seperti saat ini, maka propaganda media arus utama pro-barat itu, pastilah akan sangat efektif.

Namun, saat ini, saat dimensi informasi tidak tersentralisasi oleh kapital media arus utama, maka mereka “berperang opini” dengan netizen-netizen yang memiliki kontra opini dengan propaganda yang mereka jalani.

Sederhananya begini, ada media Turbin-news yang terus menerus menampilkan berita pro barat dan kontra rusia, ternyata berita tersebut mereka upload pada media sosialnya, semisal youtube.

Netizen youtube tentu memiliki rasionalisasi dan referensi, bahkan sentimen sendiri, mereka lalu berkomentar kontra akan konten tersebut. Tidak hanya itu, komentar pedas mereka bisa disukai atau didukung oleh netizen lain, sehingga menjadi kontra opini yang efektif.

Bukan hanya kontra opini melalui interaksi fitur komentar, namun juga banyak dari pembuat konten (content creator) yang memiliki kontra opini dengan media arus utama pro-barat, sehingga konten tersebut lebih disukai oleh netizen, dibandingkan konten dari media arus utama.

Algoritma media sosial yang berjenis “katak dalam tempurung”, yaitu algoritma yang menampilkan konten yang hanya kita sukai atau memiliki opini yang senada dengan kita, malah makin memperparah amplifikasi sentimen kontra media arus utama itu.

Lucunya, baik teknologi media sosial dan algoritma tersebut, para teknokrat barat yang juga menciptakannya. Apakah ini bagian dari hal yang mereka antisipasi, atau tidak, mungkin perlu penelusuran lebih lanjut..

Propaganda barat terdesak kemunafikannya sendiri

perang suriah
Masyarakat sipil Suriah semakin menderita terkait perang yang tak henti-hentinya (Foto: Surat Kabar ID)

Salah satu isu terbesar gagalnya propaganda barat adalah kemunafikan mereka sendiri!

Barat yang dimotori NATO dan Amerika Serikat, sudah jadi rahasia bersama, adalah tukang perang yang sering menindas dan invasi negara lain!

10-15 tahun terakhir, mereka sangat hobi mengacak-acak wilayah timur tengah! mulai dari irak dengan dalih mencari senjata pemusnah massal (yang tidak pernah ada), lybia, iran, lebanon, afghanistan, hingga syria yang terakhir merasakan “keisengan bengisnya”.

Khusus untuk yang terakhir, Syria/Suriah. Serangan militer pertama Paman Sam ke basis pertahanan pemerintah Presiden Bashar al-Assad di Suriah terjadi pada awal April 2017.

Setelahnya, kita bisa lihat sekarang syria yang hancur lebur dan perang tanpa henti. Juga negara-negara lain yang setelah amerika meninggalkan daratannya, kekacauan tak pernah padam!

wilayah israel saat ini
Wilayah Israel dan Palestina saat ini (Foto: Rimanews)

Selain syiria dan beragam negara timur tengah yang kita sebutkan di atas, palestina juga terus jadi batu ganjalan bagi propaganda barat ketika mereka hendak menuduh negara lain adalah pembunuh dan penjahat perang.

Kita ketahui bersama, konflik palestina vs israel, tidak pernah padam. Beragam kekejian militer dan aparat israel kepada rakyat sipil palestina terus terjadi, sementara pihak barat, tidak hanya amerika yang karibnya israel, tapi seluruh negara eropa memilih bungkam dan menutup mata.

Kita bersyukur menikmati polemik propaganda barat saat sudah ada media sosial, sehingga suara-suara “the unspoken truth” atau fakta yang tidak pernah dikatakan oleh media arus utama pro-barat, menjadi kontra opini yang baik untuk menemukan kebenaran hakiki, bukan kebenaran yang dipilih-pilih karena kekuatan uang belaka.

Comments

comments