Isi pidato hasyim muzadi di jenewa

2
515
hasyim,muzadi,hasyim muzadi,ketua PBNU,PBNU,toleransi,pidato

hasyim,muzadi,hasyim muzadi,ketua PBNU,PBNU,toleransi,pidato

Pidato Hasyim muzadi yang merupakan mantan ketua umum PBNU (Pengurus Besar Nadhadul Ulama) di genewa belum lama ini bocor dan populer serta menghobohkan ranah dunia maya

Pidato Hasyim muzadi di sidang umum PBB, jenewa itu sebagian besar membantah dan menjawab beberapa tuduhan yang dialamatkan oleh dunia internasional terkait dengan berbagai permasalahan keagamaan dan sosial yang terjadi di Indonesia

phuceng,madu stamina,madu phuceng,sehatshop,stamina pria,madu,jahe merah,purwoceng

Pidato Hasyim muzadi ini juga deras menyebar melalui SMS, blackberry messenger, whatsUp, akun facebook, dan blog-blog masyarakat indonesia

Pidato Hasyim muzadi yang intinya ingin menjawab isu-isu kontroversial dan sensitif seperti Toleransi umat beragama (Ahmadiyah dan GKI Yasmin), isu gagalnya konser lady gaga, pelarangan diskusi bedah buku Irshad manji yang dua-duanya dianggap menyebarkan paham percintaan sesama jenis (Homo dan Lesbian)

Pidato ini sendiri bukan sebuah pidato yang dikarang-karang orang tak bertanggung jawab dan disebarkan melalui jejaring sosial, tapi pidato hasyim muzadi ini sejatinya telah di konfirmasi oleh mantan ketua umum PBNU yang juga pernah mencalonkan diri jadi wakil presiden RI bersama Megawati Soekarno putri

Bagi anda yang penasaran dengan apa isi dari pidato hasyim muzadi itu, maka silahkan disimak pidato KH. Hasyim Muzadi berikut ini dalam kapasitasnya sebagai Presiden WCRP (World Conference on Religions for Peace) & Sekjen ICIS (International Conference for Islamic Scholars) tentang berbagai isu sensitif seputar problematika kehidupan beragama di Indonesia dan masalah toleransi beragama di Indonesia di Sidang PBB, Jenewa, swiss :

“Selaku Presiden WCRP (World Conference on Religions for Peace-red)dan Sekjen ICIS (International Conference for Islamic Scholars-red), saya sangat menyayangkan tuduhan Intoleransi agama di Indonesia. Pembahasan di forum dunia itu, pasti disebabkan laporan dari dalam negeri Indonesia. Selama berkeliling dunia, saya belum menemukan negara muslim mana pun yg setoleran Indonesia.

Kalau yang dipakai ukuran adalah masalah Ahmadiyah, memang karena Ahmadiyah menyimpang dr pokok ajaran Islam, namun selalu menggunakan stempel Islam dan berorientasi Politik Barat. Seandainya Ahmadiyah merupakan agama tersendiri, pasti tidak dipersoalkan oleh umat Islam.

Kalau yang jadi ukuran adalah GKI YASMIN Bogor, saya berkali-kali kesana, namun tampaknya mereka tidak ingin selesai. Mereka lebih senang Masalah GKI Yasmin menjadi masalah nasional & dunia utk kepentingan lain daripada masalahnya selesai.

Kalau ukurannya Pendirian Gereja, faktornya adalah lingkungan. Di Jawa pendirian gereja sulit, tapi di Kupang (Batuplat) pendirian masjid juga sangat sulit. Belum lagi pendirian masjid di Papua. ICIS selalu mlakukan mediasi.

Kalau ukurannya Lady gaga dan Irshad Manji, bangsa mana yang ingin tata nilainya dirusak, kecuali mereka yg ingin menjual bangsanya sendiri untuk kebanggaan Intelektualisme Kosong?

Kalau ukurannya HAM, lalu di Papua knp TNI/Polri/Imam Masjid berguguran(menjadi korban kekerasan-red) tidak ada yang bicara HAM ? Indonesia lebih baik toleransinya dari Swiss yg sampai skrg tidak memperbolehkan Menara Masjid, lebih baik dr Perancis yg masih mempersoalkan Jilbab, lebih baik dr Denmark, Swedia dan Norwegia, yg tidak menghormati agama, krn disana ada UU Perkawiman Sejenis. Agama mana yg memperkenankan perkawinan sejenis ?!

Akhir’a kembali kepada bangsa Indonesia, kaum muslimin sendiri yg harus sadar dan tegas, membedakan mana HAM(Hak Asasi Manusia-red) yg benar (humanisme) dan mana yg sekedar Westernisme (kebarat-baratan – red)”.

Begitulah petikan pidato dari K.H Hasyim Muzadi yang sebenarnya sebagian besar juga ingin mempertanyakan dimana peran media (dalam/luar negri) dalam menyediakan informasi yang berimbang dan menulusuri sebab – akibat suatu kejadian sebelum mengirimkan informasi yang dilandasi opini tanpa fakta mendalam dan mendasar.

Comments

comments

Comments are closed.